Kecewa dengan Kerja TGPF, Amnesty Internasional Minta Jokowi Bentuk Tim Independen

PERISTIWA | 17 Juli 2019 18:55 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Amnesty International Indonesia meminta Presiden Joko Widodo alias Jokowi mengambil inisiatif membentuk tim gabungan pencari fakta (TGPF) independen mengungkap kasus penyerangan air keras terhadap Novel Baswedan. Sebab, pihak Amnesty menganggap kinerja TGPF bentukan Kapolri Jenderal Tito Karnavian gagal mengungkap pelaku penyerangan terhadap Novel.

"Publik menunggu Presiden Jokowi untuk berani mengambil keputusan membentuk TPGF independen di bawah Presiden," ujar Manajer Kampanye Amnesty International Indonesia Puri Kencana Putri saat dikonfirmasi, Rabu (17/7).

Puri menyebut tim gabungan Polri gagal memberi harapan baru bagi pengungkapan salah satu kejahatan yang paling disorot di Indonesia. Apalagi, tim gabungan diberikan waktu enam bulan untuk mengungkap fakta dan data di balik penyerangan Novel.

"Temuan tim pakar mengecewakan mengingat tim tersebut sudah diberikan waktu selama 6 bulan untuk mengungkap fakta dan data dibalik penyerangan Novel. Alih-alih menemukan pelaku ataupun identitas pelaku, tim tersebut menyematkan tuduhan yang tidak etis bagi seorang korban yang sedang mencari keadilan seperti Novel Baswedan," kata dia.

Menurutnya, apa yang disampaikan oleh tim gabungan dalam konferensi pers di Mabes Polri tidak logis. Apalagi, tim gabungan Polri menyebut Novel menyalahgunakan wewenang secara berlebihan sehingga terjadi penyerangan.

"Tim belum menemukan pelaku tapi malah sudah mempunyai kesimpulan terkait probabilitas di balik serangan Novel yaitu adanya dugaan penggunaan kewenangan secara berlebihan. Tim pakar juga tidak mampu memberikan bukti atau penjelasan lebih lanjut terkait tuduhan tersebut," kata Puri.

Sebelumnya, Juru Bicara Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Novel Baswedan, Nur Kholis meminta Kapolri Jendral Tito Karnavian membentuk tim pengejar khusus tiga terduga penyerang Novel Baswedan.

"TPF merekomendasikan pendalaman fakta satu orang tidak dikenal yang datang ke rumah korban pada 5 April 2017 dan dua orang tidak dikenal yang berada dekat rumah korban dan Masjid Al Ihsan pada 10 April 2017 dengan membentuk tim spesifik," tutur Nur Kholis di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (17/7/2019).

Menurut Nur Kholis, pihaknya menemukan para terduga lewat reka ulang TKP dan menganalisa isi CCTV di sekitaran kediaman Novel Baswedan.

"Wawancara ulang saksi-saksi dan saksi tambahan, juga analisis pola. TPF cenderung pada fakta lain, 5 April 2017 ada satu orang tidak dikenal mendatangi rumah saudara Novel.

Kemudian 10 April 2017 ada dua orang tidak dikenal datang, diduga berhubungan dengan penyerangan," jelas Nur Kholis.

Nur Kholis menyebut, penyerangan Novel Baswedan diduga terkait dengan enam kasus besar yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Kasus tersebut antara lain korupsi e-KTP, kasus mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar, kasus Sekjen Mahkamah Agung, kasus suap Bupati Buol, dan kasus Wisma Atlet.

Reporter: Fachrur Rozie

Baca juga:
ICW: Tak Berdasar Mengaitkan Kasus Novel Baswedan dengan Motif Politik
KPK Nilai TGPF Gagal Ungkap Pelaku Penyerangan Novel Baswedan
Tim Pencari Fakta Rilis Hasil Investigasi Kasus Novel Baswedan
Polri Bentuk Tim Khusus Kejar 3 Terduga Penyerang Novel Baswedan
ICW Nilai Hasil TGPF Novel Baswedan Tidak Sesuai Harapan

(mdk/ray)