Kejari Jember Kembali Tetapkan Tersangka Kasus Korupsi Revitalisasi Pasar

PERISTIWA | 24 Januari 2020 20:28 Reporter : Muhammad Permana

Merdeka.com - Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember, Jawa Timur, kembali menetapkan tersangka dalam kasus korupsi perbaikan Pasar Manggisan. Kali ini giliran kontraktor proyek yang menjadi tersangka korupsi.

"Kita tetapkan sebagai tersangka, atas nama ES. Dia sebagai pelaksana lapangan dari kegiatan itu (pembangunan pasar Manggisan)," ujar Kasi Intel Kejari Jember, Agus Budiarto usai penetapan dan penahanan tersangka, Jumat (24/1).

Saat menyampaikan keterangan tersebut, Agus didampingi Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Jember, Setyo Adhi Wicaksono.

Sumber merdeka.com di Kejaksaan menyebut, inisial ES mengacu pada nama Edi Shandy. "Tersangka ES ini berasal dari luar Jawa, Lombok tepatnya," tutur Agus.

Ibarat sepak bola, penetapan yang disusul penahanan tersangka dalam kasus proyek senilai lebih dari Rp 7,8 miliar ini seperti Hattrick bagi Kejaksaan.

Dalam tiga hari berturut-turut, Kejaksaan menetapkan tiga tersangka kasus yang sebelumnya terkatung-katung beberapa bulan. Tersangka pertama adalah Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jember, Anas Ma'ruf yang menjadi tersangka pada Rabu (23/01). Nasib serupa disusul M. Fariz Nurhidayat, konsultan perencana yang ditahan pada Kamis (24/01) kemarin. Tiga tersangka dengan tiga latar belakang berbeda, dalam waktu tiga hari.

Peran tersangka ES ini sebagai pengawas kegiatan. Dia bertindak sebagai pelaksana, meski bukan sebagai direktur.

Yang menarik, sebagai pelaksana lapangan, nama ES justru tidak tercantum dalam struktur kepengurusan PT Ditaputri Waranawa, perusahaan kontraktor yang memenangi tender pengerjaan Pasar Manggisan sejak tahun 2018.

"Jadi tersangka ES ini yang menjalankan di sini, meski tidak ada dalam kepengurusan PT itu. Dia mendapat kuasa dari direktur utamanya untuk mengerjakan kegiatan proyek di lapangan," ungkap Kasi Pidsus Kejari Jember, Setyo Adhi Wicaksono.

Dalam dokumen yang tertera pada situs LPJK (Lembaga Pengembangan Jasa dan Konstruksi) yang diperoleh merdeka.com, memang sama sekali tidak tercantum nama Edi Shandy dalam susunan direksi. Jabatan direktur utama dipegang oleh Agussalim. Disusul dua nama direktur lainnya. Perusahaan ini tercatat beralamat di Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur.

Seperti kebanyakan proyek bermasalah lainnya, kejaksaan menduga terdapat indikasi praktik pinjam bendera dalam kegiatan ini.

"Iya, pinjam bendera," tambah Setyo.

Seperti halnya dua tersangka sebelumnya, Edi Shandi juga dijerat dengan Pasal 2 dan Pasal 3 UU Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Yakni dengan ancaman hukuman minimal empat tahun penjara dan maksimal 20 tahun penjara serta denda Rp 200 Juta dan maksimal Rp 1 miliar.

Kasus ini menjadi sorotan karena akibat dari proyek yang dikorupsi, membuat nasib para pedagang yang sebelumnya berdagang di dalam Pasar Manggisan, harus terkatung. Sebagian di antara mereka berjualan di tempat penampungan sementara, sebagian lagi meluber ke pinggir jalan. Saat akan direnovasi, ratusan pedagang tradisional itu dijanjikan bisa segera kembali berdagang setelah Rehab beberapa minggu. Pasar dijanjikan akan lebih modern, sebagaimana janji kampanye Bupati Faida pada Pilkada 2015 lalu.

"Perbuatan melawan hukum yang jelas terang benderang adalah, sampai sekarang pasar itu kan mangkrak," pungkas Agus Budiarto, Kasi Intel yang juga menjadi juru bicara Kejari Jember. (mdk/cob)

Baca juga:
Buronan Kasus Korupsi GOR di Bengkulu Ditangkap di Jakarta Timur
IPK Indonesia Naik Jadi 40 Versi TII, Istana Ajak Semua Pihak Perangi Korupsi
TII: Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2019 Naik Jadi 40
Kejari Jember Tetapkan Pengusaha Muda Tersangka Korupsi Revitalisasi Pasar
KPK Periksa Bupati Sidoarjo Terkait Kasus Suap Infrastruktur

TOPIK TERKAIT

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.