Kejati Sulbar Dalami Kasus Pengadaan Seribu Bibit Kopi Mamasa Rp9 Miliar

Kejati Sulbar Dalami Kasus Pengadaan Seribu Bibit Kopi Mamasa Rp9 Miliar
PERISTIWA | 1 Oktober 2020 04:03 Reporter : Ahmad Udin

Merdeka.com - Lasus pengadaan sejuta bibit kopi di Kabupaten Mamasa Provinsi Sulawesi Barat tahun 2015, yang sebelumnya disidik oleh Kejati Sulawesi Selatan (Sulsel), dan menyeret salah seorang pejabat di Kabupaten Mamasa menjadi tersangka masih diproses. Dikabarkan, kasus ini sudah diambil alih oleh Kejati Sulawesi Barat (Sulbar) kelanjutan penyidikannya.

Dikonfirmasi kepada Kejati Sulawesi Barat, Johny Manurung kepada Mmerdeka.com, penanganan kasus pengadaan sejuta bibit kopi di Provinsi Sulawesi Barat, sebelumnya ditangani oleh Kejati Sulsel, sebelum terbentuk Kejati Sulbar. Namun, karena Provinsi Sulbar sudah memiliki Kejati baru, akhirnya semua penyidikan kasus Korupsi yang sebelum nya ditangani oleh Kejati Sulsel, sekarang dipindahkan penanganannya di Kejati Sulbar.

"Iya kasus itu ada, tenang aja, kita tunggu dalam waktu dekat ini biar saya gelar. Mari bersama kawal pembangunan Sulbar, supaya lebih maju dan sukses," kata Johny kepada merdeka.com, yang mengaku sudah diekspos, Rabu ( 30/9 ).

Seperti diketahui kasus pengadaan sejuta bibit kopi sebelumnya sudah memiliki tersangka satu orang. Dikutip dari Liputan6.com, mantan Kepala Seksi Penerangan Hukum (Penkum) Kejati Sulsel, Salahuddin menyebutkan, dalam kasus dugaan korupsi pengadaan satu juta bibit kopi di Kabupaten Mamasa, tim penyidik Pidsus Kejati Sulsel, sudah menetapkan seorang pejabat Pemerintah Daerah (Pemda) Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar) inisial N sebagai tersangka.

"Inisial N tersebut berperan sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) sudah menjadi tersangka," terang Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejati Sulsel, Salahuddin, tanggal 30 Maret 2019.

Kegiatan pengadaan 1 juta bibit kopi di Kabupaten Mamasa, Sulbar pada tahun 2015 yang dimenangkan oleh PT Surpin Raya diduga mengadakan bibit yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang tertera dalam dokumen lelang. Di mana dalam dokumen lelang disebutkan pengadaan bibit kopi menggunakan anggaran senilai Rp 9 miliar dan juga disebutkan bahwa bibit kopi unggul harus berasal dari uji laboratorium dengan spesifikasi Somatic Embrio (SE).

Namun dari 1 juta bibit kopi yang didatangkan dari Jember tersebut, terdapat sekitar 500 ribu bibit kopi yang diduga dari hasil stek batang pucuk kopi yang dikemas di dalam plastik dan dikumpulkan di daerah Sumarorong, Kabupaten Mamasa. Biaya produksi dari bibit laboratorium diketahui berkisar Rp 4.000 sedangkan biaya produksi yang bukan dari laboratorium atau hasil stek tersebut hanya Rp1.000. Sehingga terjadi selisih harga yang lumayan besar.

Dari hasil penyidikan yang dilakukan penyidik Pidsus Kejati Sulsel, pihak rekanan dalam hal ini PT. Surpin Raya diduga mengambil bibit dari pusat penelitian kopi dan kakao ( PUSLITKOKA ) Jember sebagai penjamin suplai dan bibit. Diduga bibit dari Puslitkoka tersebut merupakan hasil dari stek. (mdk/eko)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan
TOPIK TERKAIT
more tag

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami