Kejati Sulbar Tangkap Buronan Kasus Korupsi Pendidikan

Kejati Sulbar Tangkap Buronan Kasus Korupsi Pendidikan
PERISTIWA | 29 September 2020 21:31 Reporter : Ahmad Udin

Merdeka.com - Tim Intelijen Kejati Sulawesi Barat (Sulbar) kembali menangkap salah seorang terpidana korupsi perkara menyelenggarakan kegiatan keaksaraan yang diprogramkan Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Barat pada Tahun 2012 dan merugikan keuangan negara Rp270 Juta. Terpidana atas nama Ruspahri, menjadi DPO selama Tiga tahun.

Penangkapan terpidana ini, terjadi di pulau Kerayaan Utara dan Kerayaan Kecamatan Pulau Laut Kepulauan Kabupaten Kota Baru Provinsi Kalimantan Selatan, Selasa (29/9).

Kajati Sulbar, Johny Manurung mengatakan, penangkapan terpidana Korupsi selaku Ketua PKBM Ar-Rahmat yang telah menerima dana hibah dari Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Barat sebesar Rp424 Juta. Dipimpin langsung oleh Asisten Intel Kejati Sulbar, Irfan Samosir, diakui sangat sangat menguras tenaga.

Tim gabungan bersama Polres setempat, diketahui empat hari melakukan perburuan terhadap pelaku hingga ke gunung, namun hasilnya nihil. Karena kata dia, rupanya kedatangan tim Intelijen Kejati Sulbar, jauh sebelum nya sudah diketahui oleh terpidana.

"Informasi yang didapat oleh tim bahwa pelaku melarikan diri ke gunung. Dengan modal semangat tim kembali melakukan pengejaran di hari ketiga namun hasil tetap nihil, karena kemungkinan bocor sehingga dengan cepat terpidana melarikan diri," kata Kajati Sulbar, Johny Manurung.

Lanjut Johny, penangkapan terpidana yang dibantu oleh masyarakat, bahkan tim menegaskan kepada warga untuk tidak menyembunyikan terpidana. Untuk memastikan keberadaan terpidana, rumah yang menjadi tempat tinggal terpidana menjadi sasaran penggeledahan tim gabungan namun lagi-lagi hasilnya nihil.

"Sekira pukul 07.00 wita, tim intel dan tim polres melakukan penggeledahan rumah masyarakat dan mendapatkan hasil nihil yang diduga target melarikan diri ke laut. Sore hari, tim beristirahat dan sekira pukul 20.00 wita, tim intelijen dan tim polres dan dibantu masyarakat kurang lebih 60 orang melakukan penyisiran gunung dan hasilnya masih nihil," sebutnya.

Masih kata dia, terpidana korupsi yang pelariannya yang sudah tiga tahun, dikabarkan pindah-pindah tempat untuk menghindari kejaran petugas.

"Rupanya terpidana ini kerja perbengkelan di pulau Kerayaan dan dia berpindah-pindah tempat. Namun tim Intelejen tidak bosan - bosannya mengejar hingga terpidana menyerahkan diri di Polsek setempat," ungkapnya.

Sebelumnya terpidana mendapat vonis bersalah oleh Majelis Hakim Tipikor dan harus dihukum penjara selama Empat tahun denda sebesar 50 Juta subsider Enam bulan dan membayar uang pengganti sebesar 270 juta 250 Ribu. Seperti diketahui, terpidana melakukan penyalahgunaan dana tersebut dengan cara tidak melaksanakan kegiatan berdasarkan naskah perjanjian hibah daerah dan tidak menyalurkan dana tersebut sehingga telah merugikan keuangan Negara sebesar kurang lebih 270 Juta, berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri Mamuju nomor. 13 / Pid. Sus / 2018 / PN. Mam tanggal 12 Desember 2018.

"Terpidana ini, selama di persidangan tidak pernah hadir dan di vonis penjara selama 4 tahun, dan terdakwa ini menghilang sejak bulan November 2017," pungkasnya. (mdk/eko)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami