Kelompok Saracen banyak yang pindah ke MCA buat bikin berita hoaks

PERISTIWA | 7 Maret 2018 18:19 Reporter : Nur Habibie

Merdeka.com - Polisi tengah menyelidiki jaringan Muslim Cyber Army (MCA) yang disebut kerap menyebarkan berita bohong atau hoaks di dunia maya. Rupanya, dari hasil penyelidikan, anggota MCA juga terdiri dari kelompok Saracen yang beberapa waktu lalu dibubarkan polisi dengan kasus yang sama.

Analis Kebijakan Divhumas Mabes Polri, Kombes Pol Pudjo Sulistiyo mengatakan, pihaknya saat ini masih terus melakukan pendalaman soal keterlibatan Saracen di MCA. Menurutnya, eks anggota Saracen ini berpindah ke MCA, karena saat ini Saracen memang sudah tak ada lagi.

"Itu perlu dilakukan pendalaman, fakta informasi data itu yang disebut eks Saracen itu tentu saja adalah namanya eks Saracen jumlah anggotanya begitu Saracen itu para pelakunya, dedengkotnya ditangkap kan banyak juga yang melakukan migrasi di dalam dunia maya, migrasi itu sudah biasa, kerena ini masalah medsos kalau kelompok kita ini bubar dia bisa bergabung ke kelompok lain," kata Pudjo di Blok M, Jakarta Selatan, Rabu (7/3).

Dirinya menuturkan, saat ini Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipid Siber) Bareskrim Polri, masih melakukan pendalaman terkait keterlibatan Saracen di MCA, seperti misalnya apakah ada pendanaan yang diberikan dari Saracen ke MCA.

"Yang eks Saracen ada yang migrasi ke MCA itu termonitor. Itu nanti keterkaitannya kan di dibuktikan apakah ada pendanaannya atau ada orang yang sama dan lain-lain itu hal yang gampang dalam dunia media sosial sangat gampang dalam hitungan menit bisa," tuturnya.

Namun, saat ini pihaknya belum mengetahui secara pasti berapa anggota eks Saracen yang terlibat dalam MCA, untuk membuat berita bohong atau menyebarkan ujaran kebencian di berbagai media sosial.

Seperti diketahui, Dittipid Siber Bareskrim Polri menangkap tujuh orang pelaku ujaran kebencian dan membuat berita bohong yakni Rizki Surya Dharma (35), Ramdani Saputra (39), Yuspiadin (24), Ronny sutrisno (40) dan Tara Arsih Wijayani (40), Bobby Gustiono. Tujuh orang tersebut tergabung dalam Muslim Cyber Army (MCA).

MCA sendiri ternyata mempunyai empat kelompok jaringan yang mempunyai kerja masing-masing kelompok tersebut. Pertama, kelompok The Family MCA yang mempunyai sembilan orang admin dalam group tersebut bertugas untuk merencanakan dan mempengaruhi member lain.

Yang kedua yaitu kelompok Cyber Moeslim Defeat Army yang memiliki 145 member, dalam kelompok tersebut bertugas untuk melakukan setting isu hoax yang akan diviralkan. Selanjutnya yaitu Kelompok Snipper yang mempunyai 177 member dalam kelompok itu bertugas untuk menyerang seseorang atau kelompok yang diduga lawan MCA. Dan yang terakhir yaitu MCA United yang merupakan grup terbuka bagi siapa yang memiliki visi-misi MCA.


Polri belum minta PPATK telusuri aliran dana The Family MCA
Kelompok MCA dianggap bikin elektabilitas Jokowi turun
Polri pastikan proses pidana siapapun penyebar berita hoaks
Dalam sebulan, Tim Patroli Siber Polri deteksi 300 akun sebar berita hoaks
Kedok Muslim Cyber Army beraroma politik?
Ini kata JK soal MCA Family ingin buat opini pemerintah gagal kelola negara
PKS kritisi polisi tak memproses pelaporan pada pembully partai oposisi

(mdk/rnd)