Keluarga korban minta SBY ungkap kasus Cebongan

Keluarga korban minta SBY ungkap kasus Cebongan
Lapas Sleman. ©2013 Merdeka.com/parwito
PERISTIWA | 10 April 2013 12:25 Reporter : Muhammad Mirza Harera

Merdeka.com - Empat keluarga korban penembakan di Lapas Cebongan, Sleman, Yogyakarta, mendatangi kantor Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) dan diterima langsung oleh Ketua Wantimpres Albert Hasibuan. Keempat keluarga tersebut adalah Jorhans kaja kaka dari Hendrik Sahetapy Engel alias Deki, Victor kakak dari Johanes Manbait alias Juan, Yani rohi kakak dari Adi Gamelia, dan Yohanes Lado kakak Adrianus Galaja alias Dedi.

Mereka berempat meminta kasus penembakan itu diusut karena keluarga korban menilai ada yang janggal atas peristiwa tersebut.

"Kami meminta kasus di Hugo's Cafe itu diusut dan dibongkar. Kita belum lihat ada apa di CCTV cafe," kata Johanes saat jumpa pers di Watimpres, Rabu (10/4).

Dalam kesempatan yang sama, Victor menjelaskan peristiwa ini merupakan peristiwa luar biasa yang membutuhkan penanganan yang luar biasa juga. Hal itu yang membuat Victor dan keluarga korban lainnya mendatangi Watimpres agar aspirasi keluarga korban menjadi pertimbangan presiden.

"Kami berpendapat penanganan ini harus membentuk tim yang independen, agar bisa memeberikan keadilan bagi keluarga korban dan juga keluarga Heru santoso, mudah-mudahan ini menjadi pertimbangan untuk bapak presiden," ujar Victor.

Yohanes Lado menilai tindakan para kopasus tersebut bisa dikategorikan kejahatan terhadap kemanusiaan yang digolongkan dalam pelanggaran HAM berat. Menurutnya, hal ini tidak bisa dibiarkan terjadi lagi kepada siapapun.

"Ini seharusnya menjadi momentum kebangkitan reformasi hukum yang dimana dalam penegakan hukum harus mempertimbangkan hak kemanusiaan," tutupnya. (mdk/war)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

TOPIK TERKAIT

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami