Keluarga Pasien Meninggal Covid-19 Perlu Pendampingan Tokoh Masyarakat

Keluarga Pasien Meninggal Covid-19 Perlu Pendampingan Tokoh Masyarakat
PERISTIWA » MALANG | 29 Maret 2020 13:25 Reporter : Intan Umbari Prihatin

Merdeka.com - Viral di media sosial video jenazah pasien dalam pengawasan (PDP) Corona Covid-19 asal Kabupaten Kolaka. Perempuan berusia 32 tahun itu meninggal di RS Bahteramas Sulawesi Tenggara, Senin (23/3) lalu. Jenazah PDP itu dibawa dari RS Bahteramas menuju Kabupaten Kolaka dengan menggunakan mobil pribadi milik anggota keluarganya.

Sebelum jenazah dipulangkan, perawat dan dokter rumah sakit telah melaksanakan tindakan antisipasi dengan memutus potensi virus menyebar. Dokter melilit jenazah yang memiliki riwayat perjalanan umroh itu dengan plastik bening sebelum dibawa pihak keluarga. Tetapi sampai di rumah keluarga membuka plastik tersebut.

Dengan adanya tindakan keluarga pasien tersebut, menurut Sekretaris Jenderal IDI, Adib Khumaidi, imbauan untuk tidak membawa dan membuka jenazah harus disertai dukungan dari pihak lain seperti kelurahan, RT/RW, dan tokoh masyarakat. Bukan hanya dibebankan kepada tenaga medis saja.

"Ya saya kira kalau seperti ini kan memang perlu peran melibatkan stakeholder yang lain. Dalam hal ini Lurah, RT, RW, ulama itu penting memberikan penjelasan kepada masyarakat," kata Adib saat dihubungi merdeka.com di Jakarta, Minggu (29/3).

Adib menjelaskan bukan hanya imbauan saja dari pemerintahan dan dinas kesehatan tetapi perlu ada sosialisasi yang jelas. Sehingga masyarakat bisa mengerti.

"Nanti hal-hal ini harus ada penjelasan, jangan sampai muncul stikmatisasi kepada keluarga yang meninggal seperti ini. Sekali lagi ini perlu penjelasan rinci dan tegas bahwa ini untuk kepentingan semua," ungkap Adib.

Jika tidak diindahkan, dia menjelaskan indikasi penularan pun bisa terjadi. Ketika, kata dia, pasien tersebut dari PDP nantinya bisa jadi positif kemungkinan keluarga dan yang melayat bisa terpapar. Sebab itu perlu ada sosialisasi yang jelas serta melibatkan pihak-pihak lain.

"Betul, kita agak sulit untuk ini, sudah di-pressure apalagi keluarga seperti itu nah ini kita agak kesulitan. Bahwa tugas medis di rumah sakit juga sudah cukup banyak," kata Adib.

"Tetapi jika dibantu dengan aparat yang lain dari RT/RW hingga aparat setempat saya kira ini perlu dilakukan sehingga koordinasi antara kita, lintas sektor. Karena ini bukan hanya orang kesehatan saja, tetapi harus menjadi tanggung jawab semua," lanjut Adib.

Hal senada pun dikatakan oleh Psikolog, Rena Latifa yang menjelaskan penting bagi semua pihak untuk bekerja sama. kondisi keluarga yang ditinggalkan akibat wabah tersebut. Sebab dia menjelaskan kondisi keluarga pasti terganggu.

"Karena pada dasarnya sudah pasti sedang terganggu, apalagi hingga tidak mau mengindahkan standard kesehatan; maka memang penting melibatkan banyak pihak dalam hal menegakkan standard aturan tersebut," ungkap Rena. (mdk/did)

Baca juga:
Paling Lambat Senin Besok, Akses ke Luar Jakarta Bakal Ditutup
Pemprov DKI Lakukan Penyemprotan Disinfektan Pakai Drone
WNI 62 Tahun di London Meninggal karena Corona
144 Jemaah Berstatus ODP di Masjid Tamansari Tolak Pindah ke Wisma Atlet Kemayoran
Sudin Jakarta Barat Tanggung Makan Jemaah yang Diisolasi di Masjid Tamansari
Tiga Pasien Positif Virus Corona di Kota Malang Sembuh

TOPIK TERKAIT

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami