Kemasan Sachet Indutri Makanan & Minuman Paling Banyak Sumbang Sampah Plastik

PERISTIWA | 12 November 2019 12:29 Reporter : Muhammad Genantan Saputra

Merdeka.com - Aktivis Lingkungan Hidup membeberkan audit merek temuan terbanyak sampah perusahaan produk kebutuhan sehari-hari atau Fast Moving Consumer Goods (FMCG). Audit itu dilakukan di tiga pulau Kepulauan Seribu yakni Pulau Air, Pulau Bokor dan Pulau Congkak sepanjang tahun 2016-2019.

Hasilnya, sampah plastik menempati posisi pertama sebagai kategori sampah anorganik. Sampah ini didominasi produk kemasan minuman wadah botol plastik, gelas plastik, dan air minuman dalam kemasan.

Untuk tahun ini, tiga terbesar merek diduduki oleh sejumlah perusahaan makanan dan minuman penyumbang sampah plastik terbanyak.

Juru kampanye Urban Greenpeace Indonesia, Muharram Atha Rasyadi, menyebut, sebagian besar merek itu adalah penyumbang sampah dalam industri makanan dan minuman. Kategori industri itu terus berkembang tiap tahun mengikuti pertumbuhan populasi dan tingkat daya beli masyarakat.

Ditambah lagi, produsen kini gencar menjual produk dalam kemasan ekonomis seperti kemasan sachet. Dia kemudian mengutip laporan terbaru Greenpeace berjudul 'Throwing Away The Future: How Companies Still Have It Wrong on Plastic Pollution 'Solutions'.

Atha mengatakan, sebanyak 855 miliar sachet terjual di pasar global pada tahun ini dengan Asia Tenggara memegang pangsa pasar sekitar 50 persen. Diprediksi jumlah kemasan sachet yang terjual akan mencapai 1,3 triliun pada tahun 2027.

"Ketika industri terus bertumbuh, volume sampah plastik pun akan meningkat, karena industri masih mengandalkan plastik sekali pakai sebagai kemasan," kata Atha dalam diskusi Rekapitulasi Termuan Audit Merek Sampah Plastik Tahun 2016-2019 di Indonesia Bertajuk 'Krisis Belum Terurai, di Jakarta, Selasa (12/11).

Menurutnya, plastik kemasan memegang porsi terbesar dalam industri plastik secara global. Volume sampah plastik yang semakin besar juga menjadi momok bagi lingkungan dan masyarakat Indonesia. Ditambah, daya tampung Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) terbatas. Belum lagi, tidak semua sampah plastik bisa didaur ulang.

"Oleh sebab itu, pengurangan produksi plastik sekali pakai dan penerapan konsep ekonomi sirkular merupakan solusi utama dari krisis masalah plastik," tegas Atha.

Greenpeace pun terus mendorong para pemangku kepentingan untuk bisa mengaplikasikan sistem penggunaan kembali (reuse) dan isi ulang (refill). Menurut Atha, solusi yang ditawarkan perusahaan FMCG sejauh ini tergolong salah. Contohnya, Nestlé Indonesia yang bakal meluncurkan produk minumannya dengan sedotan kertas.

Apalagi, pelaku industri pulp dan kertas seringkali tersangkut dengan aktivitas ilegal yaitu perambahan hutan untuk keperluan bisnis yang akhirnya berakibat pada perubahan iklim. Dan perusahaan FMCG yang beralih dari plastik ke kertas juga harus menyadari bahwa daur ulang kertas mempunyai keterbatasan. Sebab, tidak semua kertas bisa didaur ulang.

"Nestlé seharusnya mulai melakukan proses uji coba mengaplikasikan konsep refill," lanjutnya.

Selain sampah bermerek, kegiatan audit juga menyoroti temuan sampah non merek seperti sedotan, styrofoam, ataupun kantong plastik. Pada audit merek 2019, sedotan menjadi sampah non merek terbanyak dengan porsi 16 persen (2.228 buah) dari total sampah merek dan non merek sebanyak 13.539 buah. Menyusul berikutnya, sampah kantong plastik sebanyak 1.503 buah atau 11 persen dan puntung rokok sebesar 475 buah atau 4 persen.

Baca juga:
Hypebeast Ramah Lingkungan, Sepatu Besutan Kanye West Ini Gunakan Busa dari Ganggang
Pemprov DKI Adopsi Saringan Sampah Otomatis dari Australia
Potret Sapi Pemakan Sampah di Aceh
Sejarah Kantong Plastik, Dulu Selamatkan Bumi Sekarang Jadi Penyumbang Sampah
Di KTT ke-35 ASEAN, Jokowi Usul Kemitraan Penanganan Limbah B3 dan Plastik

(mdk/rhm)