Kemen PPPA Sebut Pelaku Pemerkosa Remaja di Serpong Bisa Terancam Hukuman Kebiri

Kemen PPPA Sebut Pelaku Pemerkosa Remaja di Serpong Bisa Terancam Hukuman Kebiri
PERISTIWA | 16 Juni 2020 08:55 Reporter : Nur Habibie

Merdeka.com - OR (16) seorang anak dibawah umur yang menjadi korban perkosaan oleh tujuh pria dewasa di daerah Tangerang Selatan, pada April 2020. Kini, empat dari tujuh orang pelaku sudah ditangkap oleh polisi.

Menanggapi hal itu, Deputi Bidang Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak (PPPA) Nahar mengatakan, para pelaku sudah melanggar Undang-Undang perlindungan anak.

"Nah ketika ada kekerasan seksual, lalu korbannya anak. Maka ya betul itu ada kaitannya dengan Undang-undang perlindungan anak. Ketentuan pidana yang dilanggar, saya sih merekomendasikan pakai Pasal 81 tambahan Pasal 82 nomer 17 tahun 2016," kata Nahar saat dihubungi merdeka.com, Selasa (16/6).

Meski begitu, para pelaku tak hanya terancam hukuman kurungan penjara saja. Namun, para pelaku bisa terancam terkena hukuman kebiri kimia atas apa yang sudah diperbuatnya itu.

"Ini kan kasusnya menjadi menarik, kalau seandainya ini jadi mengingat semua orang. Karena UU 17/2016 itu kan tujuannya membuat efek jera pelaku. Jadi sebaiknya publik diingatkan kembali terkait dengan bahwa ini anak sudah meninggal. Satu dia sudah meninggal dan pelakunya itu lebih dari satu orang (7 orang)," ujarnya.

"Itu udah kena UU nomor 17 tahun 2016, tapi kemudian yang kita perlu dalami lagi. Apakah dia meninggalnya itu karena dia mengalami gangguan jiwa, akibat perbuatan itu. Itu bisa lebih berat lagi, bisa terancam kebiri (kimia) itu," sambungnya.

Ia berharap, para penyidik yang menangani kasus ini dapat mengetahui penyebab meninggalnya OR. Apakah dampak dari kekerasan seksual sehingga sampai Masuk Rumah Sakit Khusus Jiwa Darma Graha Serpong atau karena yang lainnya.

"Iya betul (harus didalami), kalau itu diakibatkan misalnya dia mengalami gangguan jiwa atau luka berat atau kena penyakit menular atau terganggu hilangnya fungsi reproduksi, itu salah satu unsur yang bisa dikenakan kebiri kimia dan pemeriksaan alat pendeteksi elektronik. Jadi memang ini sangat tergantung dari proses penyidikan begitu dan beberapa alat bukti yang dimiliki. Mudah-mudahan penyidik di Tangsel bisa menggali itu," jelasnya.

"Lalu kemudian proses hukumnya mudah-mudahan bisa menggali apakah ini juga berkaitan dengan persoalan dampak dari perbutan para pelaku," sambungnya.

Ternyata, tak hanya mendapatkan hukuman kebiri saja. Pelaku juga bisa dikenai hukuman pidana seumur hidup atau pidana hukuman mati.

"Karena kalau efek dari perbuatan itu, lalu kemudian mengakibatkan anak mengalami beberapa kebutuhan seperti dalam Pasal 81 ayat 5, itu bisa pemberatan dengan ancaman hukuman. Ada tambahan dan bisa dihukum bahkan bukan hanya 15 (tahun) bisa 20 (tahun) malah bisa, malah pilihannya pidana mati, seumur hidup dan lain-lain," ungkapnya.

Baca Selanjutnya: Korban Dicekoki Obat...

Halaman

(mdk/gil)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami