Kemendikbud: Belajar Jarak Jauh Tidak Permanen, Tapi Ada Aplikasinya

Kemendikbud: Belajar Jarak Jauh Tidak Permanen, Tapi Ada Aplikasinya
PERISTIWA | 7 Juli 2020 10:19 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menegaskan, pembelajaran jarak jauh seperti pandemi Covid-19 tidak akan dibuat permanen. Hanya saja, Kemendikbud menyediakan platform digital (aplikasinya) untuk opsi belajar jarak jauh yang sifatnya tak wajib.

Adapun, metode pembelajaran yang diberikan kepada siswa akan tetap ditentukan berdasarkan kategori zona pandemi.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, Iwan Syahril mengatakan, sesuai Surat Keputusan Bersama Empat Kementerian pada Juni lalu, satuan pendidikan yang berada pada zona hijau dan memenuhi berbagai persyaratan ketat lainnya dapat melaksanakan metode pembelajaran secara tatap muka.

Jumlah daerah yang melakukan pembelajaran tatap muka akan terus meningkat seiring dengan waktu. Sementara belajar jarak jauh, hanya akan dilakukan pada satuan pendidikan di zona kuning, oranye, serta merah, dan tidak akan permanen.

"Yang akan permanen adalah tersedianya berbagai platform PJJ (pembelajaran jarak jauh), termasuk yang bersifat daring dan luring seperti Rumah Belajar, yang akan terus dilangsungkan guna mendukung siswa dan guru dalam proses belajar mengajar," jelas Iwan pada Bincang Sore secara virtual, di Jakarta, pada Senin (6/7).

Iwan menambahkan, terkait pemanfaatan berbagai platform pendidikan berbasis teknologi yang telah tersedia, Kemendikbud mendorong pembelajaran dengan model kombinasi (hybrid). Model ini sangat bermanfaat menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan inovatif dalam menghadapi revolusi industri 4.0.

"Saya yakin model pembelajaran berbasis kombinasi pembelajaran ini akan terbukti efektif meningkatkan kemampuan dan kompetensi siswa dalam bersaing di dunia global saat ini," jelas Iwan.

Melalui pembelajaran dengan model kombinasi, kata dia, guru dan siswa akan terus melanjutkan penerapan teknologi yang dikombinasikan dengan tatap muka sebagai metode pembelajaran terpadu. Dengan begitu, alat bantu pembelajaran tidak hanya berupa buku teks saja, namun berbagai platform teknologi yang telah dimanfaatkan dalam PJJ selama pandemi.

"Yang paling penting adalah peran guru tidak akan tergantikan teknologi dalam pembelajaran. Namun, untuk mengakselerasi kompetensi siswa peran teknologi akan sangat mendukung," jelas Iwan.

1 dari 1 halaman

Iwan menjelaskan, teknologi hanyalah alat, sehingga kunci utama terletak pada kualitas dan kompetensi para pendidik dalam memanfaatkan teknologi sehingga mampu menciptakan pembelajaran yang efektif kepada murid-muridnya. Untuk itu, Kemendikbud telah melakukan beberapa hal antara lain menciptakan laman Guru Berbagi.

"Kami telah menciptakan sebuah ekosistem belajar buat guru, yang sifatnya gotong royong yaitu laman Guru Berbagi," ujar Iwan.

Iwan memaparkan bahwa data per 3 Juli 2020 menunjukkan akses laman Guru Berbagi telah mencapai 5,9 juta akses dengan 950 ribu lebih pengunjung. Sebanyak 1,2 juta unduhan di antaranya materi dan Rencana Proses Pembelajaran (RPP) baik untuk PAUD, SD, SMP, SMA dan SLB yang bersifat dalam jaringan (daring) maupun luar jaringan (luring).

"Pelatihan penggunaan teknologi masif kami luncurkan melalui seri webinar per jenjang dan ada topik umum dan khusus per kelasnya," pungkasnya. (mdk/rnd)

Baca juga:
Kemah Virtual Pertama di Dunia, Kemendikbud Ajak Siswa Kembangkan Diri dari Rumah
Kemendagri, Kemendikbud dan Pemprov DKI Sudah Temukan Titik Temu Soal PPDB
Kemendikbud Luncurkan Merdeka Belajar Episode 5: Guru Penggerak
Kemendikbud Beri Keringanan Uang Kuliah Bagi Mahasiswa Terdampak Covid-19
Aksi Bakar Ban Warnai Demo Mahasiswa di Kemendikbud

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami