Kemendikbud Bentengi Sekolah dari Intoletansi dan Radikalisme

PERISTIWA » MALANG | 9 Oktober 2019 21:03 Reporter : Ronald

Merdeka.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bekerjasama dengan Maarif Institute dalam penguatan pengawas internal sekolah intoleransi dan radikalisme pro kekerasan di sekolah. Selain itu, hal ini juga bertujuan untuk membentengi sekolah dari ancaman virus intoleransi dan anti-kebhinekaan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI Muhadjir Effendy menyambut baik hal ini. Menurutnya, hal ini penting bagi pemerintah dan masyarakat sipil bekerjasama untuk satu tujuan yang lebih baik.

"lni adalah komitmen Kemendikbud RI untuk memastikan sekolah sebagai ruang inkubasi nilai-nilai kebangsaan, kebhinekaan dan kemanusiaan, sebagaimana komitmen Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam Nawa Cita. Untuk itu, revitalisasi peran pengawas sangat penting," ujarnya di kantor Kemendikbud, Jakarta Pusat, Rabu (9/10).

Ia menegaskan, aspek dasar adalah mengerti akan menghargai perbedaan, intoleransi dan radikalisme. Hal ini prinsip yang harus didapat oleh peserta didik seperti toleransi dan menghargai perbedaan.

"Sejak awal kami berkomitmen dengan penguatan ideologi," katanya.

Sementara itu Inspektur Jenderal Kemdikbud Muchlis R Luddin menambahkan, pengawasan internal sekolah diharapkan dapat memastikan proses pengajaran di sekolah berjalan lancar. Termasuk menyenangkan dan jauh dari radikal dan anti-kebhinekaan.

"Termasuk di dalamnya adalah mengawasi kinerja kepala sekolah, guru dan tenaga pendidikan," katanya.

Pengawasan internal sekolah menurutnya, menjadi garda terdepan penjaga ideologi Pancasila dalam ranah implementasi pendidikan. Peran pengawas internal sekolah ini diwujudkan dalam pelatihan intensif untuk peningkatan kapasitas pengetahuan dan praktik-metode pengawasan serta pencegahan dari infiltrasi paham-paham anti-kebhinekaan di sekolah.

"Pelatihan tersebut telah berjalan sekurangnya di enam titik yakni Banten, Jogjakarta, Malang, Mataram, Manado dan Denpasar. Melalui program ini, Pengawas internal sekolah dipacu untuk dapat mengenali, mendeteksi, mengawasi dan berperan aktif dalam mencegah penetrasi intoleransi dan radikalisme di sekolah. Tak hanya itu, program ini juga melahirkan buku pendamping untuk para pengawas internal sekolah," beber Muchlis.

Lebih lanjut Direktur Eksekutif Maarif Institute Abd. Rohim Ghazali menambahkan, pihaknya berharap kerjasama tersebut bisa memajukan pemahaman terkait pancasila sebagai ideologi negara.

"Kami berharap kerja sama yang baik Maarif institute dengan kemendikbud atau pihak lain yang berupaya memajukan memberikan pemahaman yang lurus bagaimana berpancasila sesuai pendiri bangsa akan terus berlangsung," ujarnya.

Baca juga:
Pembelaan Mendikbud saat Tenaga Kerja Indonesia Disebut Tak Produktif
Mendikbud Siapkan Rp4,3 Triliun Revitalisasi SMK
Terapkan Sistem Digitalisasi, Kemendikbud Minta Sekolah Swasta Menyesuaikan
Mendikbud Ingatkan Sekolah Tak Beri Sanksi Pelajar Ikut Demo
Mendikbud Mendapat Laporan Ada 50 Orang Menyamar jadi Pelajar saat Demo di DPR
Mendikbud Keluarkan Edaran Minta Kepala Daerah Cegah Pelajar Ikut Demo

(mdk/eko)