Kemenhub Ambil Alih Proyek MRT di Surabaya

PERISTIWA | 22 Februari 2019 00:29 Reporter : Moch. Andriansyah

Merdeka.com - Menteri Perhubungan (Menhub), Budi Karya Sumadi berencana mengambil alih proyek transportasi massal cepat atau Mass Rapid Transportation (MRT) dan LRT (Light Rapid Transit) di Surabaya yang gagal diwujudkan Wali Kota Tri Rismaharini.

Nah, untuk mewujudkan rencana pembangunan trem tersebut, Budi menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Surabaya, Kamis (21/2), terkait pengembangan perkeretaapian di Provinsi Jawa Timur.

Maksud dari FGD ini digelar, kata Budi, untuk meminta masukan dari beberapa pemegang kebijakan dan warga. "Kita, perencanaan ini, kita tidak melupakan aspirasi masyarakat lokal. Kami perlu masukan perumusan," kata Budi usai FGD.

Proyek MRT dan LRT ini sendiri, lanjutnya, sejalan dengan program pemerintah pusat untuk mendukung aglomerasi Kota Surabaya dan sekitarnya. "Surabaya sebagai kota kedua terbesar, yang menurut hemat saya masih belum terlambat untuk membuat perencanaan kembali yang sangat baik," paparnya.

Lebih lanjut, Budi berharap, konsep yang keluar nantinya, bisa jadi contoh untuk kota-kota lain di luar Kota Pahlawan. "Kami tidak akan ngomong langsung apa, namun silakan diskusi," ucapnya.

Yang pasti, masih kata Budi, pihaknya tidak akan mengindahkan konsep atau perencanaan yang dibuat Wali Kota Risma sebelumnya terkait trem untuk Surabaya. "Biarkan masyarakat bicara, sebab transportasi masal merupakan suatu pilihan dan bukan suatu keniscayaan."

Selebihnya, Budi meminta agar dalam perencanaan proyek transportasi massal di Surabaya ini, juga mengajak swasta. Sebab, katanya, peran swasta harus dipikirkan.

Ekonomi di Jatim Harus Merata

Sementara Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak yang turut hadir di acara FGD Menhub ini, mengatakan bahwa perencanaan untuk jangka panjang, perlu adanya perluasan. Tidak hanya berkutat di Surabaya saja.

"Yang menjadi pertanyaan, Surabaya, Megapolitan mau dibawa ke mana? Kalau kita melihat Surabaya ini kan crowdednya luar biasa," kata Emil.

Kalau Surabaya sudah mentok, lanjutnya, ekonomi gak bisa tumbuh. Perekonomian harusnya tidak terhenti hanya di satu kota saja. "Ekonomi Jatim siapa yang mau dorong kalau Surabaya sudah padat dan terhenti?" tanya suami pesohor Arumi Bachsin ini.

Maka, tandas Emil, perekonomian di Jawa Timur harus tumbuh merata di setiap daerah. "Di sini kami melihat konsep Gerbang Kertasusila atau Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo dan Lamongan, jadi perlu segera direalisasikan," ucapnya.

Seperti diketahui, proyek trem di Kota Surabaya ini merupakan mimpi Risma sejak 10 tahun silam, ketika masih menjabat kepala Bappeko (Badan Perencanaan Pembangunan Kota).

Namun, di sisa dua tahun jabatannya sebagai wali kota, rencana proyek yang diperkirakan akan menghabiskan anggaran sekitar Rp 3,8 triliun dan dibahas mulai 2016, itu berakhir kandas.

"Ndak! Ndak ada (proyek trem), karena aku sudah ndak bisa kan! Aku tinggal dua tahun (sisa masa jabatan sebagai wali kota)," katanya kepada wartawan di Balai Kota Surabaya, 10 Desember 2018 lalu.

"Karena kalau transportasi, kalau massal, itu konstruksinya di atas dua tahun. Dua tahunlah paling cepat, jadi nggak mungkin aku," sambungnya.

Sebagai gantinya, Risma mengalihkan angkutan massal tersebut ke armada bus. "Yang paling mudah itu pakai bus. Iya, kita pakai bus. Tapi kalau untuk yang trem, itu nggak bisa," tegasnya.

Baca juga:
Berapa Tarif MRT yang Diinginkan Warga Jakarta?
DPRD DKI Usul Tarif MRT Rp 10.000
Menhub Budi Ungkap MRT Rute Bundaran HI-Kampung Bandan Mulai Dibangun Maret
JK soal Tarif Tiket MRT: Kalau Ingin Cepat dan Nyaman Harga Disesuaikan
MRT akan Beroperasi, JK Minta Warga Tak Rusak Fasilitas, Disiplin dan Budayakan Antre
Melihat Perkembangan MRT Fase 1 yang Sudah Capai 98,59 Persen
Menhub Budi: Pembangunan MRT Cikarang-Balaraja Dimulai 2021

(mdk/gil)