Kemenkes: New Normal Masih Wacana, Jangan Diributkan

Kemenkes: New Normal Masih Wacana, Jangan Diributkan
PERISTIWA | 25 Mei 2020 13:31 Reporter : Supriatin

Merdeka.com - Rencana pemerintah menjalankan new normal di tengah pandemi Covid-19 menuai kritik. Pemerintah dianggap terlalu gegabah meminta masyarakat bersiap menjalani new normal, sementara kasus Covid-19 terus meningkat.

Juru bicara pemerintah untuk penanganan kasus Covid-19, Achmad Yurianto menegaskan new normal masih sebatas wacana. Dia meminta sejumlah pihak tak meributkan wacana tersebut.

"Itu enggak perlu diributkan. Apakah sudah dijalankan?" ujarnya saat dihubungi Merdeka.com, Senin (25/5).

Menurut Yuri, pemerintah masih mengkaji secara mendalam soal rencana new normal. Pemerintah juga masih menyiapkan berbagai hal sebelum menjalankan konsep new normal.

"Kenapa diributkan konsep. Kasih masukkan dong," kata dia.

Dia melanjutkan, seharusnya sejumlah pihak membantu pemerintah pusat memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pola hidup sehat dan menjaga jarak fisik guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Termasuk pemerintah daerah mulai tingkat provinsi hingga perangkat RT.

"Ini kan kita saja yang repot. Kita minta edukasi masyarakat dengan ramai-ramai," ucapnya.

1 dari 1 halaman

Pemerintah Dianggap Gegabah Wacanakan New Normal

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra menilai langkah pemerintah pusat mewacanakan new normal di tengah kasus positif Covid-19 meningkat tidak tepat. Seharusnya, pemerintah pusat tetap menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) secara menyeluruh dan ketat.

"New normal itu sesuatu yang biasa dan memang harus dipersiapkan tetapi memang timingnya harus dilihat baik-baik. Kalau sekarang terlalu gegabah," kata Hermawan saat dihubungi Merdeka.com, Senin (25/5).

Data per 24 Mei 2020, kasus positif Covid-19 mengalami peningkatan sebanyak 526. Sehingga secara akumulatif ada 22.271 kasus kasus positif Covid-19 di Indonesia.

Kasus meninggal karena Covid-19 juga bertambah, yakni sebanyak 21. Dengan demikian, total kasus meninggal naik menjadi 1.372.

Menurut Hermawan, peningkatan jumlah kasus ini menunjukkan bahwa Indonesia belum bisa menerapkan new normal. Apalagi, Indonesia belum melewati titik krusial atau puncak pandemi Covid-19.

"Jadi wacana new normal itu hanya akan efektif bila pada kasus yang sudah berhasil terlewati atau terkendali dengan baik," ujarnya. (mdk/rhm)

Baca juga:
Tanpa Perhitungan Matang, New Normal Bisa Picu Ledakan Covid-19
Pengamat Nilai Penerapan New Normal Harus Dimulai dengan Merekayasa Sosial
Luhut Minta Masyarakat Disiplin Patuhi Protokol New Normal
Sudah Ada Panduan New Normal, Kapan PNS Mulai Bekerja dari Kantor?
PDIP: New Normal Jalan Kompromi Antara Kesehatan dan Ekonomi

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Menolak Bahaya Lebih Baik Daripada Mengejar Manfaat

5