Kenangan Leonita, Detik-detik Sang Ayah Embuskan Napas Terakhir di Ruang Isolasi

Kenangan Leonita, Detik-detik Sang Ayah Embuskan Napas Terakhir di Ruang Isolasi
PERISTIWA | 26 Maret 2020 10:58 Reporter : Yunita Amalia

Merdeka.com - Leonita Triwachyuni bercerita kondisi ayahnya yang secara tiba-tiba mengalami demam tinggi pada 22 Maret lalu. Sampai akhirnya dilarikan ke rumah sakit dan meninggal dunia keesokan harinya.

Ayahanda seorang Guru Besar Epidemiologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Bambang Sutrisna. Menurut Leonita, pada tanggal 22 Maret itu kesehatan ayahnya terganggu. Tanpa pikir panjang, Leonita bersama suami langsung membawa ayahnya ke rumah sakit.

"Kemarin hari Minggu, panas banget akhirnya telepon suami aku terus dibawa ke rumah sakit sama suami," katanya mengawali perbincangan dengan merdeka.com, Kamis (26/3).

Dokter Bambang dibawa menantu, suami Leonita, menuju RS Persahabatan. Setibanya di rumah sakit, langsung dibawa menuju ruang isolasi yang selama ini dipakai untuk merawat pasien positif virus Corona atau Covid-19. Gejala yang dialami sang ayahlah membuat pihak rumah sakit kemudian memasukkan Dokter Bambang ke ruang isolasi.

Setelah sang ayah dimasukkan ke dalam ruang isolasi, Leonita hanya bisa berpasrah Tuhan memberikan kesembuhan. Menurut dia, tidak ada dukungan lain yang bisa diberikan keluarga selain berdoa mengingat ketika seseorang pasien masuk ruang isolasi maka ruangan itu benar-benar steril. Keluarga pun tidak bisa melihat dari kejauhan, hanya menunggu di ruang tunggu.

"Ya masuk ruang isolasi, enggak tahu apa-apa lagi semenjak itu," tukasnya.

Leonita menceritakan, ada satu kejadian yang masih diingat jelas saat ayahnya berada di ruang isolasi. Teleponnya berdering, ayahnya menghubungi dan mengaku mengalami sangat sesak.

Sebagai anak, dia benar-benar panik malam itu. Dia sempat meminta pertolongan rekannya yang bertugas di rumah sakit untuk mengabarkan pada perawat soal kondisi ayahnya.

"Papah malam-malam telepon aku karena sesak banget. Papah cuma ngomong 'Noni tolong papih Noni tolong, papih sesak banget' cuma ngomong gitu aja tapi berkali-kali, dan itu (komunikasi) terakhir," kenang Leonita.

Dia yakin petugas rumah sakit sigap menolong. Tetapi dia memahami, ruang isolasi tidak bisa asal dimasuki sekalipun oleh petugas jika belum memiliki peralatan yang lengkap.

"Harus ada pelindung diri yang tidak sederhana. Pintu menuju ruang isolasi saja berlapis-lapis," jelasnya.

Sampai akhirnya, dia mendapat kabar kabar ayahnya meninggal dunia. Suara permintaan tolong Dokter Bambang malam itu, ternyata menjadi yang perbincangan yang terakhir dirinya dengan sang ayah.

1 dari 2 halaman

Ayahnya Sempat Didatangi Pasien Sakit

Leonita juga menceritakan kondisi ayahnya jauh sebelum mengalami demam. Kira-kira pada 12 Maret lalu di klinik praktek, ayahnya kedatangan pasien laki-laki yang mengalami sakit.

Keluarga sebenarnya sudah meminta Dokter Bambang tidak praktik. Tetapi, dia memilih tetap bertugas dengan masker sebagai pelindung diri.

"Disuruh jangan praktik bilangnya kasihan orang dari jauh," katanya.

Beberapa hari kemudian, ayahnya mulai merasakan demam dan batuk. Karena merasa tidak parah, Dokter Bambang enggan ke rumah sakit untuk memeriksakan diri. Bahkan guru besar masih sempat mengajar dari rumah. Sampai terjadilah kondisi demam tinggi tanggal 22 Maret itu.

2 dari 2 halaman

Sempat Meminta Dimakamkan di Lahan yang Telah Dibeli

Setelah ayahnya dinyatakan meninggal dunia, pihak keluarga sempat meminta agar jenazah dikuburkan di lahan pemakaman yang telah dibeli sejak lama di Sandiego Hills. Namun, katanya, dari pihak rumah sakit menyarankan di TPU Pondok Ranggon.

"Jujur saja, sebenarnya papah sudah beli kuburan. Sudah lama. Di Sandiego Hills. Jadi kita tanya apa boleh kita kuburkan di tempat yang papah beli, katanya enggak bisa. Enggak bisa juga kita dandani sendiri, mandikan sendiri, enggak bisa," cerita Leonita.

Pihak keluarga tidak ingin memaksa kehendak. Sebab, ayahnya meninggal dalam kondisi gejala mirip terinfeksi Covid-19 meski hasil tes swabnya belum keluar. Menurutnya, demi keselamatan bersama sudah sepatutnya instruksi pihak berwenang diikuti dan sepakat jasad sang papah dimakamkan di TPU Pondok Ranggon. (mdk/lia)

Baca juga:
Jumlah ODP Virus Corona di Sultra Membengkak Menjadi 2.289 Orang
Pemda DIY Jelaskan Penyebab Kasus Positif Virus Corona Melonjak Jadi 18 Orang
Hari Ini, IHSG Kembali Menguat ke Level Psikologis 4.000
Transaksi E-Channel dan E-Banking BRI Melonjak Imbas Corona
Fraksi PDIP Minta Paripurna Pemilihan Wagub DKI Ditunda Usai Pandemi Corona Selesai

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami