Kerja Sama dengan Warga, Satgas Madago Raya Persulit Gerak Anggota MIT Poso

Kerja Sama dengan Warga, Satgas Madago Raya Persulit Gerak Anggota MIT Poso
Satgas Madago Raya. Antara
NEWS | 28 Juli 2021 12:18 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Satgas Madago Raya masih terus mengejar anggota teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang tersisa. Salah satu yang dilakukan adalah dengan menggandeng tokoh agama dan masyarakat demi mempersulit gerak kelompok tersebut.

Kabid Humas Polda Sulteng Kombes Didik Supranoto menyampaikan,Satgas Madago Raya melakukan sejumlah langkah antara lain melakukan pengejaran kepada DPO teroris, melakukan penyekatan jalur, dan menggandeng potensi masyarakat baik tokoh agama dan tokoh masyarakat.

"Untuk menyampaikan kepada seluruh masyarakat di sekitar wilayah operasi bahwa yamg dilakukan oleh para DPO adalah tindakan teror atau pidana, tidak ada kaitannya dengan ajaran agama mana pun, bahkan menjadi larangan bagi semua agama," tutur Didik saat dikonfirmasi, Rabu (28/7).

"Dengan demikian masyarakat ini tidak ada lagi yang memberikan bantuan, baik berupa logistik maupun informasi," sambungnya.

Kemudian, kata Didik, Satgas Madago Raya juga bekerjasama dengan Pemda setempat dan BNPT untuk memberikan bantuan kepada para mantan simpatisan dan narapidana terorisme.

"Berupa pemberian modal dengan dibukakan usaha seperti peternakan dan lain-lain. Dengan demikian mereka sadar bahwa pemerintah telah memberikan perhatian dan hadir di tengah masyarakat dalam mengatasi permasalahan yang dia hadapi," ujar Didik.

Sebelumnya, polisi mengambil enam sampel DNA keluarga dari tiga jenazah anggota kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang tewas pada 11 Juli dan 17 Juli 2021 di Kabupaten Parigi Moutong. Hal itu demi mempercepat proses identifikasi.

"Enam orang yang diambil sampel DNA-nya adalah keluarga teroris Poso yang berada di Nusa Tenggara Timur 1 orang, dari Bima, Nusa Tenggara Barat 2 orang, Sulawesi Selatan 1 orang, Palu 1 orang, dan Poso 1 orang," tutur Kasatgas Humas Madago Raya Kombes Didik Supranoto dalam keterangannya, Senin (26/7/2021)

Didik mengatakan, pengambilan sampel DNA dilakukan tim DVI Polda setempat dibantu Densus 88 Antiteror Polri. Saat ini sampel DNA telah dikirim ke Laboratorium Pusdokkes Mabes Polri di Cipinang, Jakarta.

"Diharapkan kepada masyarakat atau media untuk tidak berspekulasi terhadap identitas tiga jenazah teroris Poso tersebut. Apabila hasilnya sudah diterima oleh Satgas Madago Raya, maka akan segera diumumkan kepada masyarakat," kata Didik.

Jumlah anggota kelompok MIT Poso, Sulawesi Tengah tersisa enam orang. Hal ini pascatewasnya tiga orang yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).

Waka Satgas Humas operasi Madago Raya AKBP Bronto Budiono di Palu menjelaskan, tim satgas Madago Raya gabungan TNI/Polri masih terus melakukan pengejaran terhadap sisa kelompok MIT ini.

Pengejaran dilakukan berdasarkan analisis evaluasi di daerah-daerah yang diduga menjadi tempat pelarian para DPO.

"Pengejaran tetap dilakukan dan kami minta ke enam DPO ini menyerahkan diri agar diproses secara hukum," kata dia, dikutip dari Antara.

Seperti diketahui, lokasi persembunyian DPO MIT Poso ini berada di wilayah pegunungan Kabupaten Poso, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Parigi Moutong.

Selama sepekan, terjadi dua kali kontak tembak antara Satgas Madago Raya dengan DPO MIT Poso. Insiden kontak tembak tersebut menewaskan sebanyak tiga orang DPO MIT.

Insiden pertama terjadi pada Minggu 11 Juli 2021, di Pegunungan Desa Tanah Lanto, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong yang mengakibatkan dua DPO MIT Poso tewas.

Kemudian pada Sabtu 17 Juli 2021, kontak tembak mengakibatkan satu DPO MIT Poso kembali tewas. Insiden terjadi di Desa Tolai Induk, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong. Tidak jauh dari lokasi kontak tembak yang pertama.

"Kontak tembak ini merupakan pengembangan dari kejadian yang pertama," tutur Bronto, Sabtu 17 Juli 2021.

Dari dua lokasi tersebut, satgas Madago Raya, mengamankan sejumlah barang bukti berupa senjata api jenis revolver, amunisi, bom lontong, kompas, bendera, serta sejumlah barang bukti lainnya yang diduga digunakan tiga DPO MIT Poso yang tewas tersebut saat berada di pegunungan.

Ketiga jenazah DPO MIT Poso ini dimakamkan di area Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kelurahan Poboya, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Namun, dari tiga jenazah ini baru satu jenazah yang berhasil diidentifikasi oleh pihak kepolisian.

Jenazah yang terindentifikasi itu diketahui DPO MIT Poso bernama Abu Alim alias Ambo, warga Bima, Nusa Tenggara Barat. Sementara dua lainnya yang tewas pada kontak tembak yang pertama hingga saat ini belum teridentifikasi.

"Kalau sudah ada hasilnya, kita sampaikan," kata Bronto.

Reporter: Nanda Perdana Putra (mdk/ray)

Baca juga:
Densus 88 Sebut Terorisme di Indonesia Metamorfosis Ketidakpuasan Politik Masa Lalu
Kapolda Sulteng sebut Pemberantasan Teroris MIT Poso Terkendala Simpatisan
Kepala BNPT Berharap Sisa DPO Teroris MIT Poso Bisa Dilumpuhkan
Identifikasi 3 Jenazah Anggota MIT, Polisi Ambil 6 Sampel DNA Keluarga
Polisi: Bom Lontong Milik Teroris Poso Radius Ledakan Capai 50 Meter

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami