Kesaksian sipir Cebongan: Mereka todong senjata agar kami tiarap

Kesaksian sipir Cebongan: Mereka todong senjata agar kami tiarap
Sidang kasus Lapas Cebongan. ©2013 Merdeka.com/parwito
PERISTIWA | 2 Juli 2013 13:21 Reporter : Parwito

Merdeka.com - Sidang kasus penyerangan Lapas Cebongan oleh 12 anggota Kopasus dengan agenda mendengarkan keterangan saksi digelar di Pengadilan Militer (Dilmil) II-11, Bantul, Yogyakarta. Tiga dari 10 sipir yang bertugas saat penyerangan dihadirkan dalam sidang yang dipimpin langsung oleh Majelis Hakim, Letkol Joko Sasmito.

Ketiganya saksi dari lapas itu adalah Idrawan Tri Widayanto yang betugas sebagai penjaga pintu masuk, Supratikno pimpinan regu penjaga lapas, dan Margo Utomo kepala keamanan. Mantan Kalapas Cebongan, Sukamto, sedianya memberikan kesaksian namun tidak bisa hadir.

Para sipir tersebut memberikan kesaksian bagi tiga terdakwa, yakni Serda Ucok Tigor Simbolon, Serda Sugeng Sumaryanto, dan Koptu Kodik. Kepala Oditurat Militer (Otmil) II-11 Yogyakarta, Letkol Budiharto menghujani pertanyaan kepada saksi.

Indrawan merupakan saksi pertama yang mendapat pertanyaan dari Otmil. Budiharto bertanya soal sebelum kejadian, saat kejadian berlangsung sampai pasca-penyerangan yang terjadi pada Sabtu 23 Maret dinihari.

"Saya bersama lima orang penjaga sedang nonton bola. Empat penjaga lainnya di belakang. Malam itu tepat pukul 00.30 WIB, ada lima orang datang mengenakan sebo (penutup muka). Mereka membawa senjata laras panjang. Salah satu dari lima orang itu, membuka penutup muka. Orang tersebut menyodorkan surat berkop Polri yang mengaku dari Polda DIY. Intinya, mereka mau meminjam empat tahanan titipan atas nama Dicky Cs," tuturnya.

Belum sempat membaca surat yang terkesan cepat langsung ditutup, Indrawan langsung ditodong pistol oleh salah seorang yang mengenakan penutup muka.

"Saya tidak sempat baca, langsung suratnya ditutup. Kemudian, rekannya yang mengenakan penutup muka menodongkan senjata laras panjang meminta untuk membuka pintu," ungkapnya.

Merasa dibawah ancaman, dia langsung membuka pintu dan lima orang tersebut meminta kunci sel tempat Dicky ditahan. Para penjaga itu mengaku tidak membawa kunci karena kunci ruang tahanan dipegang kepala keamanan, Margo Utomo. Akhirnya, karena tempat tinggal Margo hanya 50 meter dari Lapas Cebongan, Margo langsung didatangi beberapa orang yang mengenakan penutup muka tersebut.

"Orang yang membuka sebo itu bilang, nyuwun sewu Pak, ndalu-ndalu merepotkan. Ini mau ngebon tahanan. Kemudian, Pak Margo keberatan dan meminta persetujuan dari Kalapas (Sukamto). Saat menelepon baru bilang 'Halo Pak, Selamat Malam'. Mereka menodongkan senjata agar kami semua tiarap. Setelah itu tidak lihat apa-apa lagi," paparnya.

Indrawan mengaku, sekitar 15 menit lamanya mereka tiarap di lantai. Saat ditanya Budiharto apakah mendengar suara tembakan? Indrawan mendengar dengan jelas suara tembakan.

"Iya Pak, dengar. Berapa kali saya lupa," katanya.

Saat majelis hakim kembali menanyakan dari mana asal suara? Indrawan menyatakan suara terdengar dari ruang tahanan Blok A-5. Dia kemudian mengetahui ada empat orang tewas setelah lima orang tersebut pergi dengan dua unit mobil.

"Setelah mereka pergi, saya cek ke belakang. Ada empat tahanan titipan tewas dengan luka tembak," tuturnya.

Majelis Hakim kembali bertanya kepada Indrawan mengenai salah satu pelaku yang membuka penutup muka. Sebab, keterangannya ada satu orang yang membuka penutup muka meski hanya sebagian.

"Dari tiga terdakwa itu, siapa di antara mereka yang membuka penutup muka," kata Joko sambil menunjukan ketiga terdakwa.

Setelah beberapa saat mengamati, Indrawan ragu untuk mengungkapkan di antara tiga terdakwa yang dihadir di persidangan. Indrawan mengaku lupa karena waktu itu hingga saat ini mengalami ketakutan.

"Saya lupa Pak, waktunya sudah lama. Setelah kejadian itu saya sangat trauma," tuturnya.

Joko kemudian menanyakan apakah lampu penerangan cukup untuk melihat jelas wajah salah satu pelaku yang membuka penutup muka? Indrawan menyatakan sudah lupa.

Usai memberikan kesaksian, majelis hakim meminta untuk dihadirkan saksi berikutnya yaitu Supratikno pimpinan regu penjaga lapas, dan Margo Utomo kepala keamanan. Sidang dengan menghadirkan saksi ini berlangsung lama karena para saksi dicecar pertanyaan dari Otmil, hakim, maupun penasehat hukum dari ketiga terdakwa. (mdk/did)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami