Ketika Bakat Menulis Sastrawan Radhar Panca Dahana Terlihat Sejak SD

Ketika Bakat Menulis Sastrawan Radhar Panca Dahana Terlihat Sejak SD
Radhar Panca Dahana. ©2021 Merdeka.com
PERISTIWA | 23 April 2021 00:48 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Kabar duka datang dari budayawan tanah air. Radhar Panca Dahana dikabarkan meninggal dunia. Kabar duka tersebut dibenarkan pihak keluarga.

Dilansir dari situs resmi Kementerian Pendidikan, Radhar Panca Dahana dikenal sebagai esais, sastrawan, kritikus sastra, dan jurnalis yang telah melahirkan banyak karya semasa hidupnya.

Pria yang lahir di Jakarta, 26 Maret 1965 telah menghasilkan puluhan esai, kritik, karya jurnalis, kumpulan puisi, naskah drama, pertunjukan teater, dan beberapa buku tentang teater telah dihasilkannya.

Radhar Panca Dahana memang dianugerahi bakat menulis. Ketika masih duduk bangku kelas lima sekolah dasar, ia sudah mampu menulis sebuah cerita pendek “Tamu Tak Diundang.” Karyanya itu dimuat oleh harian Kompas. Kemampuan menulisnya itu mengantarnya menjadi seorang redaktur tamu majalah Kawanku.

Selama beberapa bulan, ia membantu menyeleksi naskah cerpen dan puisi yang masuk. Ia mulai mengarang cerita pendek, puisi, dan membuat ilustrasi ketika duduk di kelas tiga SMP. Beberapa karyanya, di antaranya, dimuat di majalah Zaman, yang waktu itu redakturnya adalah Danarto.

Pencapaiannya saat ini adalah mengelola rubrik “Teroka” di harian Kompas, memimpin Federasi Teater Indonesia, Bale Sastra Kecapi, dan Teater Kosong yang ia dirikan serta pengajar di Universitas Indonesia.

Kini, Radhar Panca Dahana menetap di Tangerang bersama istri dan seorang anaknya.

Ketika Arswendo Atmowiloto membuat Koma (Koran Remaja) pada akhir 1970-an, Radhar turut terlibat sebagai reporter dan menandai kiprahnya sebagai jurnalis. Ia mencantumkan nama aslinya Radhar sebagai reporter dan Reza sebagai penata artistik.

Pada periode itu produktivitasnya mengarang cerpen remaja sangat tinggi. Waktu itu terbit berbagai majalah kumpulan cerpen di Jakarta, seperti Pesona dan Anita, menjadi tempat penampungan karyanya.

Cerpen Radhar Panca Dahana kala itu juga mengisi media massa cetak, seperti majalah remaja Gadis, Nona, dan Hai, bahkan, majalah dewasa, seperti Keluarga, Pertiwi, dan Kartini. Karier Radhar sebagai jurnalis pemula semakin berkembang ketika ia diterima bekerja di harian Kompas.

Valens Doy, wartawan senior berpengaruh, menempatkannya sebagai pembantu reporter atau reporter lepas. Ia diminta menulis rubrik apa saja: olahraga, kebudayaan, pendidikan, berita kota tentang kriminalitas, dan hukum.

Akan tetapi, pekerjaannya sebagai jurnalis terhenti saat orang tuanya tidak mengizinkannya bekerja. Radhar harus kembali ke bangku sekolah. Pendidikan SLTA-nya (melalui SMA 11 Jakarta, SMA 46 Jakarta, dan sebuah SMA di Bogor) dihabiskan dalam waktu enam tahun.

Radhar Panca Dahana Lekat dengan Sahabat

Penyair Noorca Marendra Massardi mengaku amat kehilangan sosok Budayawan, Radhar Panca Dahana. Noorca mengaku mendapat kabar dari Radhar Tri Baskoro. Sahabatnya tutup usi pada Kamis 22 April 2020 sekira pukul 20.00 WIB.

Noorca mengaku sangat mengenal dekat Radhar. Pertemanan keduanya sudah terjalin sejak 40 tahun silam.

"Saya bersahabat dengan Radhar sudah 40 tahun sejak dia masih kecil. Saya sudah anggap seperti adik saya sendiri," kata dia saat dihubungi.

Noorca mengaku kagum dengan sosok Radhar yang bisa terus berkarya dan memperjuangkan hidup para seniman di tengah kondisinya yang sedang mengindap gagal ginjal. Noorca menilai, Radhar memiliki semangat juang yang tinggi.

"Dia bisa bertahan untuk hidup melawan penyakitnya gagal ginjal, selama 20 tahun terakhir, dia berjuang dengan itu dan tetap semangat, tetap berkarya, tetap bikin tulisan, tetap bikin pentas, tetap aktif memperjuangkan para seniman, memberikan penghargaan kepada tokoh para teater senior berbagai cara dan upaya dia lakukan dan tidak pernah mengenal lelah," ujar dia.

Kepedulian terhadap seniman pun tak perlu diragukan. Noorca mengungkapkan, Radhar adalah sosok budayawan yang sangat istimewa, dia memiliki jaringan yang sangat luas baik itu di kalangan seniman, budayawan sampai kalangan politisi.

"Saya kira dia punya jaringan yang tidak dimiliki para seniman lain. Temennya banyak sekali, politisi budayawan, seniman yang senior maupun junior," ujar dia.

Noorca mengungkapkan cita-cita yang betul-betul diwujudkan oleh sahabatnya itu. Menurutnya, Radhar ingun seniman Indonesia mendapatkan perhatian dari negara. Hal itulah yang terus diperjuangkan hingga saat ini.

"Selama ini dia coba berbagai jalur. Itu yang belum terwujud dan sulit lah kalau satu orang memperjuangankan itu karena untuk perhatian pemerintah harus melalui mekanisme lain seperti DPR," papar dia.

Noorca menyampaikan, terakhir berkomunikasi dengan Radhar dua hari lalu melalui sambungan pesan singkat. Saat itu, Noorca mengirimkan beberapa buah foto lama dan mendapatkan balasan dari Radhar

"Saya beberapa hari lalu masih kirim-kirim WhatsApp ke dia kirim foto-foto lama saya dan dia kasih komentar wah ini ini foto bersejarah," ucap dia.

Reporter: Ady Anugrahadi (mdk/ray)

Baca juga:
Budayawan Radhar Panca Dahana Meninggal Dunia
Tinggal Kenangan, Ini 4 Potret Kedekatan Citra Kirana dan Sang Ayah
Pangeran Philip, Suami Ratu Elizabeth Meninggal Dunia dalam Usia 99 Tahun
Kriminolog dan Guru Besar UI Ronny Nitibaskara Tutup Usia
Ulama Abuya Uci Meninggal Dunia, Ratusan Pelayat Datangi Ponpes Al-Istiqlaliyyah

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami