Ketua KPK Firli Bahuri Tegaskan Tak Bahas Apapun Bertemu Eks Bupati Muara Enim

PERISTIWA | 18 Januari 2020 00:03 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri membenarkan bertemu dengan Bupati nonaktif Muara Enim, Ahmad Yani pada 31 Agustus 2019. Namun dia menyangkal terjadi obrolan khusus terkait materi dugaan kasus tindak pidana korupsi.

"Ya saya boleh bertemu dengan siapa saja yang jelas tidak ada (obrolan lain) selain bertemu," kata Firli di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (17/1).

Firli mengatakan, pertemuan itu terjadi saat sama-sama baru pulang menunaikan ibadah haji. Dia pun menampik mengetahui adanya kasus dugaan suap yang terjadi di Kabupaten Muara Enim.

"Nggak ada pembahasan apa-apa, orang baru pulang haji bertemu boleh dong, tidak tahu saya tidak tahu sama sekali (kasus suap), dan tidak terlibat apapun," jelas Firli.

Diketahui, sidang kasus suap 16 paket proyek jalan senilai Rp132 miliar dengan terdakwa penerima suap Ahmad Yani menyeret Firli.

Kuasa Hukum terdakwa, Maqdir Ismail di Pengadilan Tipikor Palembang, Selasa (7/1) mengatakan tudingan bahwa terdakwa penyuap yakni Elvyn MZ Muchtar yang memberikan sejumlah uang kepada Firli semasa menjabat Kapolda Sumsel tidak bisa dibuktikan hanya dari penyadapan.

"BAP hanya menerangkan percakapan antara Elvyn dan kontraktor Robi bahwa Elvyn akan memberikan sejumlah uang ke Firli Bahuri, sementara Firli tidak pernah dimintai konfirmasi apakah benar dia menerima uang atau tidak," ujar Maqdir.

Dalam sidang kedua dengan agenda membacakan eksepsi tersebut, Maqdir menegaskan bahwa Ahmad Yani tidak berniat meminta komitmen "fee" sebesar Rp22 miliar dari kontraktor Robi Pahlevi yang berstatus terdakwa.

Komitmen "fee" tersebut merupakan inisiatif Elvyn yang mengatur jalannya 16 paket proyek senilai Rp132 miliar, termasuk upaya memberikan 35 ribu dolar AS kepada Firli Bahuri yang saat itu menjabat Kapolda Sumsel.

Maqdir menjelaskan Elvyn memanfaatkan silaturahmi antara Firli Bahuri dengan Ahmad Yani pada Agustus 2019 untuk memberikan uang senilai 35 ribu dolar AS, uang tersebut dimintakan dari terdakwa Robi yang saat itu berhasrat mendapatkan 16 paket proyek jalan.

Elvyn lantas menghubungi keponakan Firli Bahuri yakni Erlan. Elvyn memberi tahu bahwa ia ingin mengirimkan sejumlah uang kepada Firli Bahuri.

"Tetapi kemudian dijawab oleh Erlan, "ya, nanti diberitahu, tetapi biasanya bapak tidak mau," kata Maqdir.

Percakapan itu ternyata disadap oleh KPK, kata dia, tetapi KPK justru tidak memberitahu kepada Kapolri bahwa Kapolda Sumsel akan diberikan sejumlah uang oleh seseorang.

"Sepatutnya upaya pemberian uang itu diketahui Kapolri, kan sudah ada kerja sama supervisi antara KPK dan Polri, meski demikian tidak juga terbukti bahwa Kapolda menerima uang itu," kata Maqdir.

Reporter: Muhammad Radityo Priyasmono (mdk/gil)

Baca juga:
Terkait Indikasi Dugaan Korupsi Asabri, KPK Tunggu Audit BPK
Ketua KPK Cek Kabar Harun Masiku Sudah Kembali ke Indonesia
KPK Tunggu Penjelasan BPK Soal Dugaan Penyelewengan Dana Asabri
Komisioner Kena OTT, KPU Harus Buka Pintu untuk KPK Bersih-bersih
Ketua KPK ke Kepala Daerah di Jatim: Saya Ingatkan, Hilangkan Uang Ketok Palu
KPK Siapkan 7 Peraturan Turunan UU KPK dengan Lembaga Terkait
Ketua KPK Tegaskan Tak Ada Penyidik Hendak Ciduk Sekjen PDIP

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.