Ketua Lentera Anak: 7,8 Juta Anak Merokok Akibat Harga Rokok yang Murah

Ketua Lentera Anak: 7,8 Juta Anak Merokok Akibat Harga Rokok yang Murah
PERISTIWA | 1 Juni 2020 19:28 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Ketua Lentara Anak Lisda Sundari, mengatakan, jumlah perokok anak di Indonesia terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada 2018, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar Nasional, jumlah perokok anak usia 10-18 tahun meningkat mencapai 9,1% atau sama dengan 7,8 juta anak.

Padahal RPJMN (Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional) menargetkan pada 2019, prevalensi perokok anak harus turun menjadi 5,4%. Ini menunjukkan pemerintah gagal dalam mengendalikan konsumsi rokok, dan industri rokok berhasil merekrut perokok baru yaitu anak-anak pada tiap tahunnya.

Lisda menyebutkan, ada dua penyebab tingginya perokok anak yang saling berkaitan erat, yaitu praktik iklan rokok yang sangat leluasa menyasar anak-anak sebagai target pemasaran produknya, dan harga rokok yang relatif terjangkau dimana memudahkan anak-anak membeli rokok.

"Praktik diskon rokok akan memperburuk upaya-upaya pencegahan perokok anak, karena harga rokok akan semakin murah dan anak-anak semakin mudah menjangkaunya," jelas Lisda.

Lisda mengungkap hal itu dalam acara diskusi daring bertajuk ‘Melindungi Anak Dengan Menghapus Diskon Rokok’ yang digelar alinea.id, Senin (1/6).

Karena itu, Lentera Anak mendesak pemerintah dalam hal ini Dirjen Bea Cukai untuk meninjau kembali aturan yang memungkinkan rokok dijual lebih murah, sebagai bentuk keberpihakan pemerintah terhadap perlindungan anak dan masa depan bangsa.

1 dari 2 halaman

Setop Diskon Rokok

Sementara itu, Dosen FEB Universitas Indonesia Dr Abdillah Ahsan yang juga hadir dalam diskusi mengatakan, dari sudut pengendalian rokok, harga merupakan salah satu unsur paling penting. Semakin mahal semakin baik dan jika sebaliknya, semakin murah, semakin sulit proses pengendaliannya.

"Maka untuk mengembalikan semangat pengendalian konsumsi rokok, aturan yang membolehkan diskon rokok itu perlu direvisi," kata Abdillah.

Selain itu, kebijakan diskon rokok dinilainya bertentangan dengan PP 109/2012, khususnya pada Pasal 35 yang menyebutkan Pemerintah melakukan pengendalian promosi produk tembakau, di antaranya tidak memberikan secara cuma-cuma, potongan harga, hadiah produk tembakau, atau produk lainnya yang dikaitkan dengan produk tembakau.

2 dari 2 halaman

Cukai Rokok Naik Terus

Sementara Direktur Teknis dan Fasilitas Cukai Direktorat Jenderal Bea Cukai Nirwala Dwi Heryanto, mengatakan, Pemerintah berdiri seimbang dalam mengatur rokok.

"Kebijakan cukai menjadi instrumen pengendalian tembakau dimana tarif cukai naik setiap tahun. Tujuan kenaikan cukai sendiri adalah membuat harga rokok tidak terjangkau utamanya untuk anak. Dalam pelaksanaannya, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai memantau harga rokok secara berkala di pasar sesuai dengan ketentuan Peraturan Menteri Keuangan," ucap Nirwala.

Dia menegaskan, terjadi perbedaan pemahaman mengenai istilah yang disebut sebagai diskon rokok. Apa yang disebut sebagai diskon rokok sebenarnya merupakan potongan harga di tingkat penjualan.

"Harga jual eceran (HJE) itu di tingkat retailer, sedangkan pengawasan bea cukai enggak mungkin melakukan pengawasan di retail, makanya kami lakukan itu di perusahaan. Cuma masalahnya, harga dari pabrik kalau sudah 100%, nanti menjadi sama antara HJE dan harga transaksi pasar (HTP). Terus nanti yang mengongkosin distribusi siapa? Itulah yang disebut teman-teman penggiat antitembakau tadi, sebagai diskon," papar dia.

HJE itu merupakan harga patokan bandrol untuk kepentingan fiskal, adapun HTP itu diserahkan pasar. Pengaturan HTP saat ini diatur dalam PMK 152/2019 dimana ditetapkan HTP adalah minimal 85% dari HJE. Pemerintah menerapkan Pengaturan HTP minimal 85%, untuk melindungi industri yang di bawah. Saat ini pengawasan HTP dilakukan 98 kantor bea cukai yang terdiri dari 97 KPPBC dan 1 KPUBC yang melakukan pengawasan berkala 4 kali dalam setahun.

"Jadi sebenarnya enggak masalah kalau pemerintah mencabut aturan itu karena bagi pemerintah penerimaan kita dasarnya adalah HJE," tutup dia. (mdk/rnd)

Baca juga:
Produksi Turun, Industri Rokok Ikut Terpukul Pandemi Corona
CEK FAKTA: Tidak Benar Rokok Sampoerna Akan Dimusnahkan Karena Terpapar Corona
7 Buruh Linting Pabrik Rokok di Tulungagung Positif Covid-19 Hasil Rapid Test
Sampoerna Pastikan Tetap Bayar Upah Buruh Selama Pabrik Tutup Imbas Corona
Khofifah Bongkar Penyebab Ratusan Buruh Sampoerna Terpapar Corona
CEK FAKTA: Tidak Benar Rokok Sampoerna Terpapar Covid-19 Beredar di Masyarakat

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Jatim Bersiap Jalani Kehidupan New Normal - MERDEKA BICARA with Khofifah Indar Parawansa

5