Khawatir dipenjara Wali Kota, warga Samarinda takut mengkritik
PERISTIWA | 21 Juni 2016 01:00 Reporter : Nur Aditya

Merdeka.com - Pesan singkat kritikan yang dilayangkan Abdul Hamid (62), warga Jalan Siti Aisyah, Teluk Lerong, Samarinda, Kalimantan Timur, kepada Wali Kota Syaharie Jaang berujung penjara, bikin warga hati-hati melayangkan kritikan. Khawatir, kritikan terkait persoalan kota, juga berujung penjara.

Hamid yang dipenjara, jadi perbincangan hangat netizen, di salah satu akun komunitas jejaring sosial facebook. Sebagian besar netizen menyayangkan laporan Wali Kota Syaharie Jaang, hingga Hamid dipenjara dengan Undang-undang No 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Tidak hanya di jejaring sosial, isu kritik berujung penjara oleh pejabat publik itu juga jadi obrolan warung kopi. Warga membaca berita dipenjaranya Hamid, di salah satu media lokal. Terlebih lagi, kini pemberitaannya jadi konsumsi media nasional.

"Dikritik banjir, lah kan memang Samarinda ini banjirnya makin parah ya. Kok malah Pak Wali Kota melaporkan ke polisi? Heran," kata Fadli (36), salah seorang pegawai swasta, dalam perbincangan bersama merdeka.com, Senin (20/6) malam.

Fadli mengungkapkan, pasca mencuatnya pemberitaan itu, kini dia menjadi lebih hati-hati melontarkan kritikan di akun jejaring sosialnya. Baik itu twitter, facebook, maupun path.

"Saya juga korban banjir. Merasakan parahnya banjir, campur lumpur. Kadang saya kesal, sedikit posting kritikan di medsos. Kalau sekarang bisa dipenjara, wah jadi takut juga (mengkritik)," terang Fadli, yang tinggal di kawasan Sempaja Selatan.

Warga lainnya, Hendra (33), mengaku cukup terkejut dengan Wali Kota yang mempolisikan Hamid. Kritikan soal banjir, lazimnya sudah dilontarkan berkali-kali oleh warga. Mestinya, Jaang sebagai pejabat publik, menyikapi dengan bijak.

"Heran saya dengan Pak Jaang, kok bisanya melaporkan ke polisi pengirim sms ke dia ya? Kalau soal banjir, itu jangan ditanya lagi. Ya memang Samarinda banjir kan?" ungkap Hendra.

"Tidak menutup kemungkinan nih, bakal ada yang dilaporkan lagi ke polisi kalau posting keluhkan banjir, kritik Wali Kota soak banjir di medsos, dipenjara lagi. Benar itu, jadi takut-takut sekarang mengkritik. Khawatir dipenjara," sebut Hendra, warga Samarinda Ulu.

Hamid (62), dipolisikan oleh Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang, Jumat (17/6) malam lalu, terkait isi sms yang dikirimkan Hamid ke ponselnya. Hingga saat ini, Hamid masih ditahan Polresta Samarinda meski dikabarkan Wali Kota telah memaafkan.

"Masih, terlapor (Abdul Hamid) masih kita tahan ya. Dia kita tahan sejak Minggu (19/6) malam, " kata Kasat Reskrim Polresta Samarinda, Kompol Sudarsono.

Dia menerangkan, Senin (20/6) siang, penyidik telah meminta keterangan Syaharie Jaang, terkait laporan dia, ke Polresta Samarinda, Jumat (17/6) malam lalu.

"Sudah kita periksa dari siang tadi sampai sore. Kita minta keterangan terkait isi sms itu yang dikirimkan oleh tersangka. Semua kita lakukan prosedural dulu ya," ujar Sudarsono.

"Tersangka memang mengajukan permohonan maaf dan disetujui (Wali Kota Syaharie Jaang). Juga meminta penangguhan penahanan," tambahnya.

Meski permohonan maaf telah disetujui pelapor dan pelapor sudah dimintai keterangan, tidak lantas serta merta Abdul Hamid dibebaskan dari laporan Wali Kota.

"Pengajuan penangguhan penahanan ya, kita evaluasi dulu, kita sampaikan ke Kapolresta (Kombes Pol Setyobudi Dwiputro). Besok lah (hari ini), baru bisa didapatkan kejelasannya ya," ungkap Sudarsono.

Baca juga:

Diguyur hujan deras jelang berbuka puasa, Samarinda dikepung banjir

Dikritik soal masalah banjir, Walkot Samarinda penjarakan warganya

Sikap Wali Kota Samarinda memenjarakan pengkritik mengkhawatirkan

Cerita wali kota Samarinda polisikan warga gara-gara SMS banjir

(mdk/bal)

TOPIK TERKAIT