Kisah Altar Pusaka Mbah Kuntjung di Klenteng Banyumas

PERISTIWA | 25 Januari 2020 06:03 Reporter : Abdul Aziz

Merdeka.com - Altar Pusaka Mbah Kuntjung mempunyai tempat istimewa di hati para umat Klenteng Bon Tek Bio, Kabupaten Banyumas. Altar ini berisi tiga bilah keris serta dimaknai sebagai altar para suci Kejawen.

Sejarah keberadaan pusaka Mbah Kuntjung, bermula dari sasmita (pesan gaib) yang didapat oleh penasihat spiritual klenteng Bon Tek Bio, Lie Fon Won di awal tahun 1990-an. Lewat mata batin, Lie diperlihatkan bahwa Mbah Kunjtung pernah hidup ratusan silam di Banyumas. Ia dianggap seorang tokoh suci.

Konon, Mbah Kuntjung merupakan titisan kyai Semar. Semar dalam kebudayaan Jawa mendapat tempat yang khas sebagai pamong dan danyang pulau Jawa.

Untuk menghormati Mbah Kuntjung, Klenteng Bon Tek Bio dianggap mempunyai kewajiban mendirikan altar. Di altar ini, pamor Mbah Kuntjung berupa tiga keris yakni Keris Brojol, Sapu Jagat dan Cempana Citra. Pusaka ini memiliki kedudukan yang sama dengan rupang para dewa.

"Altar ini pengayom unsur lokalitas Banyumas," kata Humas Klenteng Boen Tek Bio Banyumas, So Bin Ta Nanda, Sabtu (18/1).

Altar Mbah Kuntjung juga dipercaya sebagai instrumen ibadah yang punya kekhususan untuk penyembuhan penyakit. Para umat yang hendak berdoa di altar ini biasanya akan mengambil air terlebih dahulu di sumur klenteng. Air nantinya akan diletakkan di altar dan dipercaya dapat menyembuhkan penyakit.

Nanda bercerita pernah suatu kali seorang umat meminta kesembuhan di depan altar Mbah Kuntjung ketika hendak dilarikan ke rumah sakit. Ajaibnya, sebelum ke rumah sakit, umat tersebut sembuh.

"Sebelum melakukan persalinan, umat klenteng di sini biasanya berdoa meminta keselamatan di altar Mbah Kuntjung," ujarnya.

Keajaiban lainnya, kesaksian Nanda nampak saat Klenteng mengalami bencana kebakaran di tahun 2012. Saat itu, 90 persen bangunan klenteng dilahap api. Saat dilakukan pembersihan klenteng, pusaka keris mbah kuncung didapati berada di bawah altar. Pusaka ini tidak tersentuh api.

"Padahal keris ini selalu terpajang di altar dan diikat. Seolah-olah saat kebakaran ia bergerak dan dapat menyelamatkan diri dari api," kata Nanda.

Tiga keris pusaka yang disakralkan ini dijamasi (dimandikan) saban setahun sekali. Petugas jamasan pemandi pusaka keris tersebut adalah orang khusus yang disebut kuncen. Marno (40) telah mengabdikan diri di Klenteng Boen Tek Bio Banyumas selama 13 tahun. Ia menjadi kuncen menggantikan pamannya.

Marno, warga Kecamatan Somagede ini menjelaskan keris pusakan dirawat sebagaimana rupang para Dewa. Perlakuannya saat dijamasi direndam di air kembang dan dibalur perasan jeruk nipis.

"Tidak ada hal-hal khusus. Cara pemandian sama dengan rupang lainnya," kata Marno.

Memandikan rupang dimaknai menjadi bentuk bakti umat pada para dewa. Di Klenteng Boen Tek Bio Banyumas, memandikan rupang dilakukan 10 hari sebelum Imlek sesuai prediksi hari baik.

Pada hari pemandian rupang, para dewa dipercaya naik ke langit meninggalkan rupang. Para dewa diyakini tengah melapokan hal-hal yang terjadi di bumi selama setahun. Sewaktu rupang kosong, patung-patung dewa dikeluarkan dari altar. Instrumen ibadah ini dibersihkan di sekitar klenteng. (mdk/cob)

Baca juga:
Menjaga Keberagaman Beragama di Jember Saat Tahun Baru Imlek
Klenteng TITD Pay Lien San, Potret Toleransi Umat Beragama di Jember
Narapidana di Bangka Belitung Penerima Remisi Imlek 2020 Terbanyak
Pedagang Burung Pipit dan Bunga Raup Untung Berlipat di Hari Imlek
Libur Tahun Baru Imlek, Penumpang PT KAI Naik 7 Persen

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.