Kisah Amin, mantan atlet senam nasional makan dari jual barang bekas

PERISTIWA | 7 Agustus 2015 17:11 Reporter : Andrian Salam Wiyono

Merdeka.com - Nasi bungkus tersedia di kantong kresek besar. Jumlahnya mencukupi untuk belasan orang. Nasi itu baru saja dibeli warga, korban penggusuran lahan di kawasan Kelurahan Kebonwaru, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung.

Setiap harinya nasi itu dibeli dari hasil penjualan barang bekas puing-puing yang dibumiratakan dalam sepekan ini. Barang bekas berupa besi-besi dan yang masih memiliki nilai ekonomi dirupiahkan.

"Hasilnya untuk makan kami yang bertahan di sini," ucap Amin Ikhsan (42) pada merdeka.com, Jumat (7/8).

Amin adalah atlet senam nasional yang sudah membawa nama harum Indonesia di pentas kejuaraan senam Asia. Namun kini nasibnya sungguh menyedihkan setelah rumah yang sudah ditempati sejak puluhan tahun digusur.

Amin beserta puluhan warga lainnya memilih bertahan lantaran belum ada kejelasan dari Pemerintah Kota Bandung ihwal ganti rugi. Istri dan anak Amin diungsikan ke rumah neneknya di kawasan Cibiru, Kabupaten Bandung. Adapun Amin yang kondisinya lemah lantaran penyakit gagal ginjal dideritanya tetap bertahan.

Pria yang pernah menyabet peringkat ke-7 atlet senam terbaik Asia dalam ajang Suzuki World Cup di Jepang pada tahun 2000 itu kini hidup menjadi gelandangan di tenda reot yang didirikan di tengah puing-puing. Kasur lusuh menjadi tempat dia istirahat di malam hari.

"Sementara jadi gelandangan dulu saja. Sampai kapan? Sampai jelas saja nasib kami. Karena belum ada kejelasan," ungkapnya. Pemkot Bandung menurutnya akan merevitalisasi ke Rusunawa yang ada di kawasan Batununggal. Tapi itu hanya sementara. "Kami diberi setahun, setelah itu ke mana lagi."

Saat dihancurkan oleh Pemkot Bandung, bangunan yang dijadikan tempat usaha: kamar kos dan studio musik kini sirna. Pemasukan yang diandalkan, lantaran sudah pensiun menjadi atlet membuat hidupnya tanpa arah.

Apalagi penyakit gagal ginjal yang diderita sejak 10 bulan terakhir membuat fisiknya tidak bisa menerima dengan aktivitas berat. Sepekan tiga kali ginjalnya harus dibersihkan oleh alat.

"Senin, Kamis, Sabtu saya harus cuci darah. Karena kalau tidak badan saya langsung bengkak," tuturnya.

Amin beserta ratusan warga meminta Pemkot Bandung tidak menggantungkan nasib mereka.

(mdk/hhw)