Kisah Anak Gadis Penjual Pentol di Samarinda Rawat Ayah yang Sakit Stroke

Kisah Anak Gadis Penjual Pentol di Samarinda Rawat Ayah yang Sakit Stroke
Kisah pilu penjual pentol di Samarinda. ©2022 Merdeka.com
NEWS | 5 Oktober 2022 04:03 Reporter : Saud Rosadi

Merdeka.com - Kondisi Sutardi (64) cukup memilukan. Pria yang sehari-hari berjualan pentol bakso keliling di Samarinda, Kalimantan Timur itu hanya bisa duduk usai serangan stroke pada Januari 2020 lalu.

Merdeka.com datang menyambangi kediaman Sutardi, Selasa (4/10). Lokasinya di bangunan indekos dua lantai di Jalan Lambung Mangkurat RT 27 Gang Syahdan Thoyib, Kelurahan Pelita di Samarinda.

Sutardi tinggal di lantai dua. Saat ditemui dia mencoba bangkit dari pembaringannya. Kamarnya tidaklah luas. Hanya berukuran sekitar 5x5 meter berkeliling plywood.

Di dalamnya terlihat berantakan. Hanya ada satu jendela kecil sekaligus sebagai ventilasi udara. Selain tilam tempatnya tidur, juga ada tumpukan pakaian kotor, botol bekas air mineral ukuran 1,5 liter hingga plastik bekas.

2 dari 4 halaman

Kondisi Sutardi sendiri sudah nyaris sulit berbicara. Sesekali dia terlihat tidak berdaya ketika berusaha menggerakkan tangan kanannya, apalagi kakinya. Serangan stroke itu melumpuhkan anggota tubuh. Dia pun terkadang harus ngesot di lantai untuk pergi ke kamar mandi di lantai dua itu.

Dalam kamar hanya seluas itu, Sutardi dirawat putrinya, Eren Kristiana Dinar Betti. Gadis berusia 16 tahun itu duduk di bangku kelas 1 salah satu SMA swasta di Samarinda.

Eren adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Dua kakaknya berada di Palangkaraya Kalimantan Tengah, dan satu lagi di luar negeri sebagai tenaga kerja Indonesia.

Mencari nafkah dengan berjualan pentol seketika terhenti saat Sutardi terkena stroke itu. Hingga akhirnya istri Sutardi dikabarkan sudah pindah tempat tinggal di Balikpapan.

"Ibu ada di Balikpapan. Kadang ke sini (menjenguk) kalau lagi di Samarinda," kata Eren saat berbincang bersama merdeka.com, Selasa (4/10).

3 dari 4 halaman

Eren menerangkan situasinya memang dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah. Menurut dia, tidak ada uang bisa didapat apabila ibunya tidak bekerja. "Kalau ikut jaga bapak sakit, tidak ada yang cari uang," ujar Eren.

Sutardi adalah perantau asal Jawa. Dari Jawa Timur dia pindah ke Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Pekerjaan Sutardi sebelumnya adalah pekerja bangunan, hingga akhirnya berdagang pentol rebus.

"Bapak aslinya lahir di Mojokerto. Karena keluarga Bapak semua di sana," ungkap Eren.

Situasinya memang menjadi semakin sulit sejak stroke itu. Belum lagi bicara urusan makan sehari-hari yang kini lebih sering sekadar bisa memakan roti. Apalagi dihadapkan pada tenggat waktu pembayaran indekos. Dari kabar, per 10 Oktober 2022 ini Sutardi sudah menunggak indekos dua bulan.

4 dari 4 halaman

Meski hidup prihatin, Eren harus tetap bersekolah demi masa depannya. Tetangga yang iba dan peduli sesekali membantu, meski hanya bisa sesuai kemampuan. "Ibu juga kirim uang ke saya buat makan saya dan Bapak," ucap Eren.

"Saya bersyukur Bapak bisa ditinggal kalau saya sekolah, atau kerjain tugas sekolah dengan teman. Bapak ini tidak mau juga merepotkan orang. Yang bisa dia lakukan, dia lakuin sendiri," Eren menerangkan lagi.

Kini Eren dan ayahnya hanya bisa berharap pulang ke Mojokerto, Jawa Timur. Di mana keluarga ayahnya pernah mengungkapkan akan merawat Sutardi apabila bisa pulang kembali ke Mojokerto.

"Kalau tidak bisa pulang, paling tidak bisa pindah ke tempat yang lebih layak. Supaya saya juga bisa belajar dengan nyaman," demikian Eren mengakhiri perbincangan siang ini. (mdk/cob)

Baca juga:
Kisah Pendiri Whatsapp Jan Koum, Pernah Melamar di Facebook Tapi Ditolak
Berani Berubah: Tekad Kuat Penjaga Hutan Sumba
Kisah Pasutri Beli Mobil Impian Rp168 Juta Pakai Uang Koin Seribu usai 2 Tahun Nabung
Kisah Sukses Milton, Tak Lulus SD Kini Jadi Orang Kaya Raya
Cara Ibu-ibu di Kota Bandung Kurangi Sampah Rumah Tangga, Ubah Baju Bekas Jadi Kebaya

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini