Kisah AS tukar pilot CIA dengan pesawat Hercules TNI AU

PERISTIWA » MALANG | 8 April 2015 05:42 Reporter : Yulistyo Pratomo

Merdeka.com - Indonesia tercatat sebagai negara pertama di luar Amerika Serikat yang memiliki dan mengoperasikan pesawat Lockheed C-130 Hercules. Pesawat angkut modern ini sebelumnya hanya diperuntukkan bagi militer AS dan belum pernah diberikan atau dijual kepada negara lain sejak diproduksi pertama kali tahun 1954.

Oleh Indonesia, pesawat ini sudah bertugas di bawah TNI AU sejak 1960, bahkan sebelum Australia membeli secara resmi pesawat kargo ini. Kejadian ini tak lepas dari tertangkapnya pilot AS, Alan Pope yang ditembak jatuh saat memperkuat AUREV-Permesta pada 1958.

Dilansir Antara, buku Skuadron Udara 31 Hercules Sang Penjelajah terbitan TNI AU menyebutkan, pesawat ini diberikan secara cuma-cuma oleh Presiden AS John F Kennedy pada akhir 1959. Di hadapan Soekarno, Kennedy merasa berhutang atas pembebasan Pope yang ditembak jatuh dalam pertempuran udara dengan Kapten Udara Pnb Dewanto. Buki ini menyebut pertempuran udara antara Dewanto dan Pope menjadi satu-satunya dog fight yang dimenangkan TNI AU hingga kini.

Saat berkunjung ke AS, Soekarno ditawari 'pengganti' untuk membayar pembebasan Pope. Kennedy menawarkan beberapa opsi, salah satunya pesawat transportasi. Sebelum membuat pilihan, Panglima AU Laksamana Madya (U) Suryadarma menyebutkan, AURI memerlukan pengganti pesawat transportasi de Havilland Canada DHC-4 Caribou.

Pilihan kemudian C-130B Hercules, dalam kunjungan Soekarno ke pabriknya, Lockheed. Akhirnya 10 unit C-130B diterbangkan secara ferry ke Tanah Air. Tak seperti biasanya, penerbangan pesawat-pesawat ini murni dilakukan para pilot dan awak dari TNI AU, bukan produsen maupun personel USAF. Pesawat tersebut terdiri dari delapan varian C-130B kargo dan 2 varian C-130B tanker, dan semuanya mendarat di Pelabuhan Udara Kemayoran, Jakarta.

"Itu menunjukkan bangsa Indonesia disegani dan memiliki posisi tawar yang kuat di mata Amerika Serikat," kata Marsekal Pertama TNI Teguh David, dalam buku itu.

Pendaratan pertama C-130B Hercules ke Tanah Air dilakukan Mayor (U) Pnb S Tjokroadiredjo, Letnan Muda (U) II A Cargua, Sersan Mayor (U) S Wijono, dan Kapten (U) Nav The Hing Ho. Juga Sersan Mayor (U) M Smith, Kapten (U) Pnb Pribadi, Letnan Muda (U) II Alex Telelepta, Sersan Mayor (U) Ali Nursjamsu, Letnan Muda (U) I Basjir, Letnan Muda (U) I Sukarno, Letnan Muda (U) I Arifin Sarodja, dan Kapten Muda (U) Sasmito Notokusumo.

Tak hanya diterbangkan oleh pilot AURI, penerbangan ferry ini pertama kali terjadi, di mana C-130B AURI terbang sejauh 13.000 mil laut melintasi tiga samudera dari pabrikan ke negara operatornya. Tak hanya itu, penerbangan tersebut internasional pertama C-130 yang 100 persen diawaki personel aktif AURI, dan belum pernah terjadi pada militer lain di dunia saat itu.

Usai mendarat di Lanud Kemayoran pada 18 Maret 1960, Indonesia menjadi operator terbanyak C-130 Hercules di belahan selatan dunia di kemudian hari. 10 Unit C-130B kemudian dimasukkan ke dalam Skuadron Udara Angkut Berat AURI mendampingi Skuadron Udara 2 berintikan C-47 Dakota/Skytrain.

Saat menerima pesawat tersebut, pesawat ini termasuk kendaraan multiengine modern dengan berteknologi turboprop. Tanpa melalui proses pelatihan yang melelahkan, teknologi ini dengan cepat dikuasai para penerbang TNI AU. Keberhasilan ini mendapat pujian dari Menteri Keamanan Nasional, Jenderal AH Nasution, dan beberapa petinggi Lockheed.

Dikarenakan jumlahnya cukup banyak, maka pada 19 Februari 1962, didirikanlah Skuadron Udara 31 angkut berat, disusul Skuadron Udara 32 pada 29 Desember 1965. Yang unik, C-130B saat itu kemudian berdampingan dengan Antonov An-12 buatan Uni Soviet di Skuadron Udara 31.

Saat itu, kedua skuadron udara itu (31 dan 32) berpangkalan di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Kemudian Skuadon Udara 32 dipindahkan ke Pangkalan Udara Utama 32 Abdulrahman Saleh, Malang, Jawa Timur, pada 1976.

Skuadron Udara 32 sempat dinonaktifkan sejalan penonaktifan Antonov An-12 pada 11 Mei 1965; kemudian diaktifkan lagi pada 11 Juli 1981, yang keseluruhannya berisikan C-130B. Pembagian kekuatan udara di antara kedua skuadron udara adalah enam C-130HS (nomor registrasi A-1317, A-1318, A-1319, A-1320, dan A-1324 plus C-130H/A-1323) untuk Skuadron Udara 31. Skuadron Udara 32 mendapat dua C-130B (A-1301-A-1313), dua C-130H (A-1315 dan A-1316), dan dua C-130KC (tanker udara, A-1309 dan A-1310).

Sebetulnya, masih ada beberapa varian C-130 Hercules yang dioperasikan TNI AU, yaitu satu versi sipil C-130 Hercules, L-100-30, yang lalu dikonversi ke militer (A-1314) dan C-130HS (A-1341) yang didedikasikan pada Skuadron Udara 17 VIP. A-1314 dan A-1341 dinomori di luar kelaziman, karena jika dijumlah, baik angka 1314 dan 1341 akan menghasilkan angka 9, ini sesuai pemberian langsung dari Menhankam/Panglima ABRI (saat itu), Jenderal TNI M Yusuf.

Skuadron Udara 17 VIP merupakan satu-satunya skuadron udara militer di dunia yang mengoperasikan C-130 dan variannya sebagai pesawat terbang VIP kenegaraan resmi. Skuadron Udara 5 pernah mendapat satu C-130MPH bernomor registrasi A-1322 sebagai pesawat intai maritim yang dijejali sensor elektronika penjejak.

Sampai saat ini, TNI AU mengoperasikan hingga 28 unit C-130 Hercules dari berbagai varian, terbanyak di belahan selatan dunia. Jumlah ini bertambah dengan datangnya sembilan unit C-130H Hercules dari Australia.

Selain jet tempur, TNI AU berniat beli pesawat angkut & heli

Ini wujud INS Kalvari, kapal selam pertama buatan India

India sukses bikin kapal selam, Indonesia kapan?

Mengintip pabrik senjata di dalam gua Suriah

Kisah operasi alpha, misi pembelian pesawat TNI AU ke Israel

(mdk/tyo)