Kisah Brigadir Angga, Pengantar Buku untuk Para Siswa di Pelosok Kepri

PERISTIWA | 31 Oktober 2019 05:38 Reporter : Abdullah Sani

Merdeka.com - Lincahnya Brigadir Angga mengendarai sepeda motor dinas kepolisian tidak kalah dengan pengantar surat dari kantor pos. Meski kadang terjatuh dari motornya karena jalan yang becek, bintara Polres Lingga itu tak menyerah.

Jika langit sudah gelap, Angga terpaksa menginap di pelosok negeri, Desa Singkep Barat Kecamatan Dabo Singkep Kabupaten Kepulauan Riau. Polisi bernama lengkap Teuku Angga Kurniawan itu ternyata bertugas sebagai perpustakaan keliling.

Setiap hari, ada 300 buku dengan beragam judul yang dibawa motor Yamaha Vixion. Buku-buku itu diambil dari Perpustakaan Pemkab Lingga yang sudah bekerjasama dengan Polres setempat. Buku dibawa Brigadir Angga ke SD dan TK yang sulit terjangkau di Kabupaten Lingga.

Motor dinas kepolisian di bagian belakangnya dimodifikasi dengan penambahan bok yang mirip gerobak pedagang asongan. Buku itu disusun rapi dalam gerobak, yang diangkut dengan sepeda motor dinas. Persis seperti tukang pos.

‎Puspa, adalah singkatan dari Program Perpustakaan Keliling Polres Lingga ini disingkat Puspa yang digencarkan sejak tahun 2018 lalu. Angga membutuhkan waktu perjalanan hingga 2 sampai 3 jam.

Tidak semudah yang dibayangkan, jalan-jalan desa di sana tidak sedikit yang berlumpur saat musim hujan. Bahkan, jembatan kayu yang sudah tua dan nyaris roboh menjadi tantangan baginya. Tidak terpikir olehnya jika suatu saat jembatan itu roboh ketika dilewatinya.

"Yang saya pikirkan hanyalah bagaimana membawa buku ini agar sampai ke anak-anak dan dibaca mereka," kata Angga, Rabu (30/10).

Hingga dia tiba di sekolah jarak jauh, Desa Singkep Barat. Hanya ada 11 siswa yang baru duduk di bangku kelas satu Sekolah Dasar. Semangat Angga membara begitu anak-anak menyambutnya dengan riang.

Hampir mirip dengan film Laskar Pelangi. Jumlah siswa hanya sedikit, serta jaraknya yang sangat jauh dari kota. Angga hadir sebagai pengantar ilmu ke sana. Tikar yang dibawanya dibentangkan, anak-anak duduk di atasnya. Buku-buku bacaan disusun.

©2019 Merdeka.com/Abdullah Sani

Angga baru mengizinkan anak-anak membaca buku itu ketika jam istirahat tiba. Generasi penerus bangsa itu langsung menyerbu buku-buku yang tersusun rapi. Seperti kehausan, mereka gembira bisa membacanya.

Bagaimana tidak, di sekolah mereka hanya ada buku pelajaran. Tidak ada buku bacaan seperti yang dibawa Angga. Buku yang dibawa Angga berisi tentang agama, pengetahuan umum, sejarah, dan cerita anak-anak. Tentunya itu semua gratis untuk dibaca.

Bagi siswa yang belum lancer membaca, Angga tak sungkan mengajarinya. Dia juga menjelaskan beberapa bacaan siswa. Dengan waktu yang terbatas, Angga dan para siswa saling lempar senyum. Sampai akhirnya jam istirahat usai, mereka kembali masuk.

Namun pukul 10.00 WIB di sekolah jarak jauh ini ‎sudah selesai. Angga tidak langsung pulang, dia menunggu anak-anak selesai belajar. Mereka kembali menemui polisi itu jika jam pulang telah tiba.

"Anak-anak kembali melanjutkan untuk membaca. Memang saya tunggu mereka membaca buku-buku itu hingga 3 jam," ucap Angga.

Dalam aturan buku-buku milik pemerintah itu tidak boleh dibawa pulang oleh siswa. Hingga suatu masa, seorang siswa menangis dan merengek agar Angga mengizinkan buku itu dibawanya pulang. Sebuah buku cerita yang dimintai satu siswa itu.

Setelah dicek, ternyata buku yang diminta siswa itu merupakan sumbangan seorang mahasiswa bernama Jimmy. Anak muda daerah setempat yang menempuh kuliah di Beijing, China. Akhirnya buku itu diberikan kepada siswa tersebut. Angga tidak tega melihat anak itu menangis manja di depannya.

Tugas yang jarang dilakukan anggota Polri itu dijalankan pria berdarah Aceh kelahiran Pekanbaru, Riau tersebut. Tugas itu memang perintah dari Kapolres Lingga, AKBP Joko Adi Nugroho.

Tak hanya membawa buku, Angga juga menasihati anak-anak untuk tidak bermain handphone maupun gadget dalam bentuk lainnya. Sebagai gantinya, Angga menyediakan buku untuk dibaca. Karena usia siswa SD memang harus diberi ilmu yang bermanfaat, yang ada dalam buku.

Seperti sebuah pepatah, 'Buku adalah jendela dunia'. Itu yang ditanamkan Angga kepada para siswa agar menjadi pintar, berwawasan luas dan menjadi anak bangsa yang sukses.

Tak jarang Angga harus menumpang tidur di rumah salah satu warga. Karena ketika itu, hujan turun dengan derasnya. Angga tak bisa pulang ke rumah. Ada dua yang dipikirkannya. Pertama kesehatannya dan kedua takut buku-buku itu basah.

Dia menginap di rumah guru atau anggota Bhabinkamtibmas setempat. Ini ketika harus menempuh jarak desa yang paling jauh ketika hari hujan.

"Saya biarkan mereka sampai puas, walaupun langit sudah mendung. Dan tak mungkin saya pulang, harus menginap di desa. Alhamdulillah saya sangat menikmatinya," kenang Angga.

Dalam sepekan, tiga kali dia berkeliling ke sudut sekolah terpencil. Tidak kenal lelah, walau dia harus mengerjakan tugas lainnya sebagai anggota Polri di Mapolres Lingga.

©2019 Merdeka.com/Abdullah Sani

"Batin saya, anak-anak harus punya minat baca. Supaya mereka terbiasa membaca," kata Angga.

Ternyata, ada salah seorang siswa yang takut melihat Angga karena berseragam polisi. Saat ditanya, ternyata siswa itu pernah ditakut-takuti orang tuanya. Jika nakal, akan ditangkap polisi. Angga pun tertegun, lalu menjelaskan pelan-pelan kepada siswa tersebut, bahwa polisi bukanlah sosok yang menakutkan. Tapi melindungi anak-anak.

Kepada orang tuanya, Angga memberi masukan agar tidak memarahi anak dengan ancaman akan ditangkap polisi.‎ Karena itu akan mengganggu psikologis anak.

Setiap saat Angga katakan ke anak-anak, bahwa polisi adalah sahabat mereka. Akhirnya siswa yang menangis ketika pertama kali melihatnya, justru selalu menantikan buku-buku yang dibawa Angga.

Hari ini, Kapolres Lingga AKBP Joko Adi Nugroho memerintahkan ‎Angga untuk membawa barang tambahan di boks sepeda motornya itu. Selain buku, dia membawa sepatu anak sekolah, sumbangan sejumlah personel Polres Lingga. Ya, seperti itu memang untuk 11 murid dan gurunya. Mereka terharu, bahkan sampai meneteskan air mata saat menerimanya.

"Sepatu-sepatu tersebut untuk murid dan gurunya. Agar mereka semakin semangat ke sekolah. Agar antusias membaca dan belajar untuk menggapai cita-citanya," kata Joko.

Baca juga:
Para Srikandi di Pesawat TNI
Cerita Zulkifli, Masinis KAI yang Sudah Bekerja Seperempat Abad
VIDEO: Anisa Amalia Srikandi Penerbang Pesawat Hercules Pertama
Dulu Takut Ketinggian, Kini Anisa Jadi Pilot Hercules dan Hobi Bermanuver Ekstrem
Anisa dan Mega, Duo Perempuan Penakluk 'Burung Besi' dari TNI AU
Tugas Serba Guna TNI di Papua, dari Selamatkan Anak Tenggelam Hingga Jadi Guru

(mdk/bal)