Kisah Difabel di Bondowoso Sempat Diminta Mundur dari Sekolah Karena Tak Bisa Menulis

Kisah Difabel di Bondowoso Sempat Diminta Mundur dari Sekolah Karena Tak Bisa Menulis
PERISTIWA | 4 Agustus 2020 16:18 Reporter : Muhammad Permana

Merdeka.com - Muhammad Hendra Afriyanto, pelajar kelas VII di SMP Negeri 2 Tamanan, Bondowoso, sangat menikmati bulan-bulan pertamanya berseragam putih biru. Sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) dikarenakan situasi pandemi tidak menyurutkan semangatnya menuntut ilmu.

Tetapi, masalah datang ketika Hendra bersama ibunya Asyati diminta mendatangi sekolah pada Senin (3/8) kemarin. Asyati sempat heran sebab biasanya, proses pengumpulan tugas selama PJJ adalah hari Selasa. Tetapi dia tetap berangkat ke sekolah bersama Hendra.

"Saya ditelepon hari Minggu, suruh ke sekolah. Katanya mengumpulkan tugas. Saya agak heran, karena biasanya pengumpulan tugas hari Selasa. Kok ini Senin. Tetapi kata gurunya, ini khusus untuk Hendra," cerita Asyati saat ditemui di kediamannya, di Desa Sumber Kemunging, Kecamatan Tamanan, Bondowoso pada Selasa (04/08).

Setibanya di sekolah Asyati dan Hendra menemui seorang guru wali kelas. Setelah Hendra mengumpulkan tugasnya, guru tersebut meminta waktu untuk berbicara.

"Saya lupa namanya, karena masih beberapa minggu sekolah. Pokoknya guru honorer," ujar Asyati.

Dalam perbincangan itu, guru menanyakan kemampuan Hendra mengikuti pendidikan di sekolah tersebut karena kedua tangannya tidak bisa digerakkan secara optimal sejak bayi. Tidak seperti anak-anak lainnya. Kondisi ini disebut pula difabel daksa.

Kondisi tersebut memang membuat tugas menulis dan PR lainnya dituliskan sang ibu.

"Saya jawab, memang dari SD sudah seperti itu. Tapi dia secara akal, bisa mengikuti pelajaran seperti anak-anak lainnya. Dia bisa membaca, bahkan punya nilai matematika yang menonjol saat di SD," kata Asyati menirukan ucapannya pada guru tersebut.

Guru tersebut kemudian mempertanyakan jika nantinya ada proses ujian, apakah Asyati harus membantu menuliskan.

Setelah itu, Asyati dan anaknya dibawa menemui kepala sekolah dan beberapa orang guru. Dalam pertemuan tersebut, salah seorang guru menjelaskan kepada Asyati, bahwa pihak sekolah kesulitan jika Hendra tetap bersekolah di SMPN 2 Tamanan. Sebab, tidak ada guru khusus inklusi yang bisa mendampingi Hendra.

Saat itu pula, Asyati mulai merasakan pihak sekolah secara halus meminta agar buah hatinya itu mengundurkan diri dari sekolah tersebut.

"Saat itu saya jawab, apakah berarti di sekolah ini tidak sanggup mengajar anak saya dengan kondisi seperti ini. Kemudian salah seorang guru menyarankan agar anak saya dipindahkan saja ke Sekolah Luar Biasa (SLB)," ujar Asyati.

Walaupun berat hati, Asyati yang masih didampingi Hendra, mengiyakan 'saran' dari kepala sekolah dan jajaran guru di SMPN 2 Tamanan. Ia menyetujui saran agar anaknya mengundurkan diri dari sekolah tersebut dan pindah ke sekolah. Pengunduran diri itu langsung diterima oleh pihak sekolah.

"Mereka langsung bilang, lebih enak sekolah di SLB," ujar Asyati.

Saat itu pula, Asyati mengembalikan sejumlah buku pelajaran milik buah hatinya, kepada sekolah. Dialog itu begitu membekas di benak Hendra yang ikut mendampingi ibunya.

"Pulang sekolah, anak saya langsung menangis cukup lama. Beberapa jam menangis," ujar Asyati yang juga tak kuasa menahan air mata selama wawancara.

Baca Selanjutnya: Sesalkan Pernyataan Pihak Sekolah...

Halaman

(mdk/lia)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami