Kisah Evakuasi Pendaki Wanita di Gunung Slamet dan Hilangnya Empati Sesama Pendaki

Kisah Evakuasi Pendaki Wanita di Gunung Slamet dan Hilangnya Empati Sesama Pendaki
PERISTIWA | 3 November 2020 18:10 Reporter : Abdul Aziz

Merdeka.com - Seorang pendaki wanita, Elsa Qurratul Aini (19), warga Banyumas terpaksa dievakuasi tim SAR saat mendaki Gunung Slamet via jalur Bambangan, Kabupaten Purbalingga, Jumat (30/10) malam. Di balik evakuasi tersebut, termuat kisah tidak menyenangkan yakni hilangnya rasa empati antarpendaki.

Kronologinya, Aini mengalami sakit di pos 2. Ia ditemani oleh dua kawannya. Saat itu, dua kawan Aini meminta pedagang di sekitar lokasi pos 2 untuk turun melaporkan kabar ke kamp induk bahwa ada pendaki sakit.

Kepala Pos Pendakian Gunung Slamet via Bambangan, Saiful Amri, mengatakan bahwa kamp induk menerima laporan adanya pendaki sakit sekitar pukul 17.30 WIB. Setelah dilakukan verifikasi, petugas akhirnya menurunkan Tim SAR untuk melakukan penjemputan.

"Tim SAR berangkat menuju pos dua pukul 19.00 WIB dan berhasil mengevakuasi survivor menggunakan tandu. Tim sampai di basecamp sekitar pukul 23.30 WIB," kata Saiful Amri, Selasa (3/11).

Sesampainya di kamp induk, Aini langsung mendapatkan penanganan dari petugas. Kondisinya pun berangsur membaik.

Namun ada hal yang disayangkan oleh Tim SAR. Saat Aini dievakuasi, tidak mendapat pendampingan saat turun menuju kamp induk. Justru dua kawannya naik ke puncak Gunung Slamet.

"Begitu ketemu tim SAR, rombongan korban malah justru melanjutkan pendakian sampai puncak, tidak ada satupun yang mendampingi tim SAR ke basecamp," ujarnya.

Saiful pun menilai, kejadian ini menggambarkan hilangnya empati sesama pendaki. Padahal di dalam tata tertib pendakian tertulis dilarang meninggalkan rekan pendakian dalam keadaan apapun.

"Teman pendakian korban mengejar ego semata, puncak tak akan lari dikejar, seharusnya utamakan keselamatan bersama," tegasnya.

Sesampai di kamp induk, tujuh rekan survivor pun akhirnya disidang oleh petugas. Mereka dibina secara verbal di depan banyak pendaki.

"Kami berikan sanksi sosial, kami bina di basecamp di depan banyak pendaki sebagai contoh sehingga ada efek jera," pungkasnya. (mdk/cob)

Baca juga:
Seorang Pendaki Lemas saat Turun dari Puncak Gunung Agung Bali
Pendakian Gunung Pangrango Kembali Ditutup, Ternyata Ini Alasannya
Pendaki Gunung Gede-Pangrango Dibatasi 600 Orang Per Hari
Sempat Tersesat, 6 Pendaki Gunung Adeng Ditemukan Selamat
Puncaknya Bisa Didaki Pakai Motor, Ini 5 Fakta Unik Gunung Telomoyo
Nanggarjati Camp 2020 Segera Digelar di Sumut, Dihadiri Ratusan Kelompok Pecinta Alam

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami