Kisah Juru Parkir di Solo Rawat Anak-anak Penderita HIV/AIDS yang Ditolak Keluarga

PERISTIWA | 21 November 2019 05:05 Reporter : Arie Sunaryo

Merdeka.com - Di dunia ini barangkali tak banyak orang yang rela berkorban, demi kemanusiaan, namun juga dengan penuh tantangan dan resiko. Meluangkan banyak waktu untuk merawat puluhan anak dengan HIV/AIDS, yang selama ini tersisihkan oleh warga masyarakat umumnya.

Puger Mulyono, seorang juru parkir di Purwosari, Solo, bersama Yunus Prasetyo temannya, warga Kelurahan Sondakan RT 02 RW 01 itu mendirikan sebuah panti asuhan bernama Yayasan Lentera Surakarta yang dikhususkan untuk anak-anak pengidap HIV/AIDS.

"Saya mendirikan Yayasan Lentera ini karena saya kasihan melihat anak-anak yang menderita HIV/AIDS. Mereka ditolak di mana-mana," ujar Puger, saat ditemui merdeka.com, Rabu (20/11).

Mengabadikan diri untuk anak dengan HIV/AIDS memang menjadi komitmen bapak empat anak ini. Meski dia bukan berasal dari kalangan berada namun itu tak menghalanginya untuk terus peduli pada sesama. Puger mengaku mulai akrab dengan anak-anak dengan HIV/AIDS sejak bergabung di Yayasan Sosial Mitra Alam tahun 2006. Selanjutnya, tepatnya pada tahun 2013 ia bersama beberapa temannya secara mandiri mendirikan Yayasan Lentera.

1 dari 3 halaman

Rumah bagi Anak-anak Penderita HIV/AIDS

Yayasan Lentera merupakan rumah bagi anak-anak penderita HIV/AIDS yang selama ini tersisihkan dari lingkungan tempat mereka tinggal. Pada tahun 2012, ia memperoleh informasi ada seorang bayi di RSUD dr Moewardi Solo yang positif menderita penyakit tersebut. Karena kasihan dan tidak ada yang mau merawat, hatinya tergerak

"Karena tidak ada yang merawat, akhirnya saya bawa pulang dan merawat anak itu, seperti anak saya sendiri," katanya.

Peristiwa serupa kembali terulang pada tahun 2013. Saat itulah, ia bersama beberapa teman berinisiatif mendirikan Yayasan Lentera ini. Hingga saat ini sudah ada sekitar 57 anak yang dirawat oleh yayasan tersebut. Namun saat ini yang tersisa hanya 33 anak.

Menurut Puger, Yayasan Lentera saat ini sudah menjadi semacam rujukan. Dari 57 anak tersebut tak hanya diambil oleh Puger dari lingkungan mereka tinggal. Akan tetapi juga ada yang dirujuk oleh Dinas Sosial dari beberapa Pemda. Satu anak di antaranya bahkan berasal dari Papua.

"Sebagian besar memang sudah tidak lagi bertemu dengan keluarga. Hanya beberapa anak yang dijenguk oleh keluarganya. Ada yang neneknya masih sering ke sini, kalau orang tua mereka kan sudah meninggal karena AIDS. Jadi mereka ini sudah yatim piatu," terangnya.

2 dari 3 halaman

Anak-anak Penderita HIV/AIDS Disingkirkan Keluarga Sendiri

Puger menyampaikan banyak suka duka selama bersama anak dengan HIV/AIDS. Tak sedikit kejadian menyentuh saat menjemput anak-anak tersebut dari lingkungan mereka tinggal. Apalagi mereka ini tak hanya disingkirkan oleh para tetangga tetapi juga oleh keluarga mereka sendiri.

 /></p>
<p style=2019 Merdeka.com/Arie Sunaryo

"Ada yang tidak boleh masuk rumah dan disuruh tinggal di kandang ayam, ada yang barang-barangnya dibakar sama warga, bahkan ada yang tidak berani keluar rumah karena setiap dia keluar rumah langsung dilempari warga," bebernya.

Sedangkan untuk tantangan terberat yang dihadapi adalah ketika anak-anak ini berada pada masa paliatif. Yakni saat di mana mereka membutuhkan perawatan intensif dari pendampingnya.

"Ketika paliatif 100 persen aktivitasnya bergantung pada orang lain, mulai dari minum obat sampai buang air besar dan kecil," jelasnya.

Sedangkan kejadian yang paling menyedihkan adalah ketika anak-anak ini tidak bisa bertahan dan akhirnya menyerah pada penyakitnya alias meninggal dunia. Selama ini, dikatakannya, bagi keluarga yang masih peduli maka jenazah anak dikembalikan ke keluarganya untuk selanjutnya dimakamkan.

Namun untuk keluarga tidak mau atau asal-usulnya tidak jelas maka ia dan para pengurus Yayasan Lentera yang melaksanakan upacara pemakaman.
Sejak tahun 2014 hingga saat ini, lanjut dia, sudah ada 12 anak yang meninggal dunia.

Berdasarkan catatan yang dimilikinya, penghuni termuda di yayasan tersebut masih berusia 5 bulan. Sedangkan yang paling dewasa berusia 15 tahun.

3 dari 3 halaman

Dukungan Keluarga

Puger mengaku senang, langkah yang dilakukannya tersebut memperoleh dukungan penuh dari keluarga karena aksi kemanusiaannya ini. Bahkan istri dan keempat anaknya sering ikut membantu merawat anak-anak dengan HIV /AIDS.

"Mereka tidak takut, malah kadang ikut memandikan dan mengajak anak-anak bermain," katanya lagi.

Untuk operasional Yayasan yang ada di kawasan Taman Makam Pahlawan Kusuma Bakti, Jebres tersebut tentu tidak sedikit. Selain bantuan dari Kementerian Sosial, ia lebih banyak mengandalkan uluran tangan dari donatur.

"Kalau Pemerintah Kota Solo sudah membantu kami memberikan tempat ini," ucapnya.

Disinggung mengenai keinginannya ke depan, Puger berharap bisa berdiri yayasan-yayasan lain serupa dengan Lentera sehingga anak-anak dengan HIV/Aids yang selama ini termarginalkan menjadi terlindungi dan memiliki kehidupan yang lebih baik.

"Sedihnya kalau merawat mereka yang sakit, kemudian meninggal, sedih banget, karena mereka sudah seperti anak kita sendiri. Sukanya kalau melihat mereka tersenyum, cerita, lincah itu senang banget. Berarti anak ini butuh perhatian, butuh kasih sayang yang jarang mereka dapatkan," pungkas dia. (mdk/bal)

Baca juga:
5 Daerah Terbanyak Pengidap HIV AIDS di RI, Penularannya Harus Segera Ditanggulangi
Kembangkan Wisata, Kabupaten Bogor Khawatir Malah Picu Sebaran HIV
50 Ribu Warga Jawa Barat Mengidap HIV/AIDS
Satu Pemeran Pria Video 'Vina Garut' Positif HIV, Pemeriksaan Tunggu Hasil Terapi
21 Siswa di Tulungagung Positif HIV Karena Hubungan Sesama Jenis
Pengidap HIV/AIDS dari Kalangan Ibu Rumah Tangga di Jabar Meningkat 20 persen