Kisah Mbah Lindu, Jualan Gudeg Sejak Zaman Penjajahan

Kisah Mbah Lindu, Jualan Gudeg Sejak Zaman Penjajahan
PERISTIWA | 13 Juli 2020 08:32 Reporter : Purnomo Edi

Merdeka.com - Penjual gudeg legendaris, Biyem Setyo Utomo atau dikenal dengan nama Mbah Lindu tutup usia diumur 100 tahun, Minggu (12/7). Mbah Lindu meninggal dunia pada pukul 17.58 WIB di rumahnya yang ada di Klebengan Blok E-6, Desa Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, DIY.

Keponakan Mbah Lindu, Mudiati (62) menceritakan perjalanan hidup Mbah Lindu berjualan gudeg. Mudiati menyebut Mbah Lindu sudah berjualan gudeg sejak masa penjajahan Jepang atau sekitar tahun 1943.

Mbah Lindu yang dikenal berjualan gudeg di Jalan Sosrowijayan, Kota Yogyakarta meniti karirnya dari berjualan gudeg keliling. Berbekal obor, dulunya Mbah Lindu berjalan kaki menjajakan gudeg racikannya dari Condong Catur, Sagan,Terban, Tugu Yogyakarta, Malioboro dan di Jalan Sosrowijayan.

"Mbah Lindu sudah berjualan lebih dari 80 tahun. Dari zaman penjajahan Jepang, Mbah Lindu sudah jualan gudeg. Dulu pembelinya sudah londo-londo (orang Belanda)," ujar Mudiati, Minggu (12/7).

"Dulu jualannya masih pakai oncor atau obor dari blarak. Dagangan gudegnya masih digendong terus keliling. Belum seperti sekarang yang ada warungnya. Dulu dari rumah ke daerah Condongcatur, Sagan, Terban, jalan sampai Malioboro. Kalau ada yang beli ya berhenti," sambung Mudiati.

1 dari 1 halaman

Usaha Turun Temurun

Mudiati mengungkapkan akhirnya Mbah Lindu memutuskan berjualan di Jalan Sosrowijayan karena di daerah sekitaran Malioboro itulah banyak pembeli yang cocok dengan gudeg racikan Mbah Lindu.

Mudiati menuturkan Mbah Lindu belajar membuat gudeg dari budenya. Setelah bisa membuat gudeg, Mbah Lindu pun kemudian berjualan mandiri.

"Belajar bikin gudeg turun menurun. Dari budenya Mbah Lindu belajarnya. Budhe belajar dari simbah-simbah buyut. Dulu Mbah Lindu bantu-bantu bikin gudeg. Setelah bisa kemudian buka sendiri. Daerah Klebengan ini memang cikal bakal para penjual gudeg," ungkap Mudiati.

Mudiati mengenang sosok Mbah Lindu sebagai orang yang tak pelit ilmu. Kepada siapa saja, Mbah Lindu mau mengajari dan berbagi resep membuat gudeg.

"Mbah Lindu itu enggak pelit. Kalau ditanya cara buat gudeg sama orang pasti dikasih tahu. Mau nonton cara buat gudeg juga diajak Mbah Lindu ke dapur. Enggak ada namanya resep rahasia atau bumbu rahasia. enggak ada yang ditutup-tutupi sama Mbah Lindu," urai Mudiati.

Mudiati menceritakan jika setiap meracik bumbu, Mbah Lindu tak pernah menggunakan timbangan atau alat ukur. Mbah Lindu selalu memakai feeling yang sudah diasah puluhan tahun untuk menakar bumbu.

Mudiati menyebut hingga sebelum meninggal dunia, Mbah Lindu masih membantu membuat gudeg di dapur yang ada di rumahnya. Nantinya setelah masakan matang barulah dibawa ke Jalan Sosrowijayan untuk dijual.

"Ya masih bantu-bantu mengupas telur, membuat bumbu sama mengupas lombok (cabai). Ya sejak jatuh pada 6 Juni 2020 sudah enggak membantu lagi. Sempat jatuh di dapur terus dirawat di RS Panti Rapih selama dua hari setelahnya dirawat di rumah," ucap Mudiati.

Sementara itu, anak Mbah Lindu, Ratiyah menyebut terakhir kali Mbah Lindu aktif berjualan gudeg di Jalan Sosrowijayan sekitar tahun 2018. Setelahnya hanya sesekali saja Mbah Lindu ikut berjualan.

"Kadang kalau kangen jualan minta diantar ke Sosrowijayan. Ikut bantu-bantu jualan. Ya kalau Mbah Lindu ga jualan, banyak pembeli yang tanya. Kadang malah ada yang sampai ke rumah untuk ketemu Mbah Lindu. Terus ya makan di dapur," papar Ratiyah.

"Kalau membantu bikin gudeg ya masih terus. Mbah Lindu enggak pernah mau berhenti beraktivitas. Mbah Lindu fisiknya masih bagus. Pendengaran dan ingatannya juga masih bagus. Kalau penglihatan memang sudah berkurang," imbuh Ratiyah.

Ratiyah yang menjadi penerus warung gudeg Mbah Lindu ini menuturkan bahwa banyak anggota keluarga Mbah Lindu yang juga berjualan gudeg. Selain anak, cucu dan keponakan Mbah Lindu pun saat ini tersebar dan membuka warung gudeg. (mdk/eko)

Baca juga:
Mbah Lindu, Penjual Gudeg Legendaris di Yogyakarta Tutup Usia
Hasil Swab, Pendiri PKS Hilmi Aminuddin Positif Covid-19
Politisi Gerindra Meninggal Dunia di Singapura
Sosok Hilmi Aminuddin Dianggap Ulama Rujukan Bagi Generasi Muda PKS
5 Fakta Meninggalnya Ayah Ivan Gunawan, Masih Bisa Jalan Saat di RS dan Penyakit Gerd

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami