Kisah Para Keluarga Pejabat Indonesia Tidak Mau Diistimewakan

PERISTIWA | 19 Juni 2019 06:40 Reporter : Fellyanda Suci Agiesta

Merdeka.com - Menjadi keluarga pejabat negara di Indonesia tidak lantas aji mumpung. Apalagi selalu ingin diistimewakan. Beberapa kisah ini contohnya.

Ada beberapa kisah dari keluarga pejabat Indonesia ini yang patut dijadikan contoh. Meski ayahnya jadi seorang pejabat negara yang punya kekuasaan besar dan banyak akses, hal itu tidak digunakan dan dimanfaatkan. Mereka memilih mengikuti peraturan yang ada. Siapa saja mereka, berikut ulasannya:

1 dari 4 halaman

Istri Gubernur Jabar Ikut Antre Daftar Anak Masuk SMA

Istri Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Atalia Praratya, ikut mengantre saat daftarkan anaknya Camilia Laetitia Azzahra di SMA Negeri 3 Bandung. Atalia ikut mengantre bersama orangtua murid lainnya.

Saat itu, Atalia mendapat nomor antrea 197. Padahal ia sudah datang ke sekolah sekitar pukul 08.00 WIB. Atalia mengantre hingga pukul 11.00 WIB untuk mendaftar di SMA favorit tersebut.

"Enggak aoa-apa demi anak mah. Luar biasa karena memang animo masyarakat terkait sekolah-sekolah negeri luar biasa tinggi. Jadi saya juga memantau SMA 2 dan lain-lain begitu ngantre," kata Atalia.

2 dari 4 halaman

Anak Pejabat Tak Diterima di Sekolah Favorit

Masih cerita dari keluarga Ridwan Kamil. Dalam akun Facebook-nya, Ridwan Kamil yang sat itu menjabat sebagai Wali Kota Bandung menceritakan soal anaknya yang tidak bisa diterima di SMP negeri Bandung.

"Zara, anak perempuan saya, NEM-nya bagus dan mendaftar ke SMPN 2 Bandung. Namun ia tidak diterima karena tergerser oleh sistem zonasi PPDB Kota Bandung versi awal sebelum yang sekarang."

Dalam unggahan Facebook-nya, kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, menceritakan bahwa anaknya menangis dan bertanya-tanya. Akhirnya Kang Emil menjelaskan pada anaknya bahwa sebuah peraturan harus dihormati. Dia mengaku banyak pihak yang bertanya padanya tentang jabatannya.

"Anda kan Walikota, Anda kan punya kuasa, bisa kali nyelipin buat anaknya sendiri. Masa tega ama anaknya sendir?!" Akan tetapi, omongan itu tidak dia hiraukan.

Kang Emil dan istrinya sepakat untuk tidak menyalahgunakan jabatan. "Nilai hidup apa yang akan menempel seumur hidupnya Zara, jika ia kami paksa masuk. Maka Ia akan meyakini bahwa berbohong itu boleh. Nauzubillah. Zara kini bahagia dan gembira sekolah di SMP swasta. Semoga ini menjadi hikmah, bahwa mungkin kita tidak menyukai sebuah aturan yang membuat kita di pihak yang kalah. Namun aturan tetaplah aturan. Kesuksesan tidak selalu harus dengan bersekolah di negeri. Mari kita hormati."

3 dari 4 halaman

Anak Presiden Ikut Tes CPNS

Kahiyang Ayu, anak presiden Jokowi, rela ikut tes CPNS bersama peserta lainnya. Ia menggunakan pakaian putih hitam dan juga membawa perlengkapan tulis. Kahiyang ikut tes CPNS di Gedung Bakorwil Surakarta.

Kahiyang harus mengerjakan ratusan soal tes, namun ia hanya berhasil menyelesaikan 100 soal. Alhasil Kahiyang hanya mendapatkan skor 300.

Meskipun sudah mengikuti serangkaian tes, Kahiyang tetap dinyatakan tak lulus. Kepala Pengembangan BKD Pemerintah Kota (Pemkot) Solo Lancer S Naibaho mengatakan, dengan skor 300 itu posisi Kahiyang Ayu dalam test CPNS ini belumlah berada di zona aman.

"Skor tertinggi dalam penerimaan CPNS ini adalah 450-500. Angka tersebut (300) belum bisa menentukan apakah diterima atau belum, tergantung dari formasinya," katanya.

4 dari 4 halaman

Anak Seorang Kapolri Tak Dapat Keistimewaan

Pada tahun 2014 lalu pernah ada cerita. Ada seorang anak Kapolri juga tak ingin mendapat keistimewaan. Dia adalah Danny Tri Sespianto Arif.

Arif diketahui seorang anak dari Kapolri Jenderal Sutarman. Arif menjadi polisi mengikuti jejak ayahnya. Danny memulai kariernya di polisi masuk Akademi Kepolisian (Akpol). Selama Danny di Akpol, ia kerap kali bertemu ayahnya, yang saat itu menjabat sebagai Kapolri.

Meskipun ayahnya seorang Kapolri saat itu, namun Danny tetap mengikuti segala tes di Akpol, termasuk dihukum jika ada kesalahan. Tidak ada perbedaan dengan anak-anak Akpol lainnya.

"Orangtua saya ya saya pandang sebagai orangtua, tanpa saya pandang jabatannya. Saya juga enggak mendapat keistimewaan apapun di Akpol. Kalaupun dihukum, ya saya dihukum sama seperti teman-teman yang lain," kata Danny.

(mdk/has)