Kisah Pendeta 'Menyulap' Kebun Jadi Tempat Membaca Anak-anak

Kisah Pendeta 'Menyulap' Kebun Jadi Tempat Membaca Anak-anak
PERISTIWA | 10 Agustus 2020 08:03 Reporter : Muhamad Agil Aliansyah

Merdeka.com - Hilda, pelajar yang saat ini duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) kelas tujuh, sibuk membolak-balikkan buku bacaan yang dibaca di salah satu rumah kebun. Di rumah kebun yang dinamakan Kebun Baca itu terdapat banyak buku bacaan.

"Banyak buku cerita di sini. Saya suka membacanya," kata Hilda malu-malu.

Ia baru sepekan bergabung di rumah Kebun Baca yang dibangun oleh seorang pendeta bernama Ratna Radiena-Blegur yang juga Ketua Majelis Jemaat GMIT Elim Bolok.

Hilda mengaku selama libur sekolah, tak banyak buku bacaan yang dapat ia baca. Biasanya ia membaca di perpustakaan sekolah, kalau aktivitas sekolah berjalan dengan lancar.

Tetapi selama masa Pandemi Covid-19 ini, hobinya untuk membaca pun terpaksa tak dilakukan karena memang aktivitas sekolah dihentikan. Walaupun ada aktivitas di sekolah, siswa-siswa tidak diizinkan beraktivitas sebagaimana mestinya.

Hilda mengaku bersyukur karena memang dengan adanya Kebun Baca itu, ia bisa terus membaca, karena banyak buku pelajaran dan buku bacaan yang belum ia baca. Selain Hilda beberapa anak-anak yang masih usia PAUD juga berkumpul di kebun baca itu. Ada yang membaca, ada pula yang menggambar.

Wajib belajar bagi anak-anak sudah lama didengungkan pemerintah dengan berbagai pola pembelajaran. Di Desa Bolok, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih banyak anak usia sekolah yang belum bisa membaca dan tidak mengenal huruf. Salah satu faktornya karena minimnya sarana belajar dan kebanyakan anak usia sekolah lebih senang ikut orang tua ke kebun atau sawah.

Kebetulan 95 persen warga di Desa Bolok hidup dari bertani dan nelayan. Masa pandemi Covid-19 dengan sistem pendidikan secara daring (online) makin membuat anak-anak jarang ke sekolah.

Pendeta Ratna Radiena-Blegur, Ketua Majelis Jemaat GMIT Elim Bolok prihatin melihat kondisi ini. Sejak Sinode GMIT menugaskan melayani di GMIT Elim Bolok, Berbagai gerakan dilakukan agar anak usia sekolah di wilayah pelayanannya bisa mengenal huruf dan bisa membaca.

Tahun 2018 lalu, ada warga yang kesulitan uang hendak menjual tanah ke pembeli dari luar NTT. Pendeta Ratna pun menggalang dana dari kerabatnya agar membantu supaya lahan potensial ini tidak berpindah tangan ke orang luar.

Ia pun membeli lahan seluas 20 x 80 meter persegi di dusun Kol'ana Desa Bolok. Tantangan lain dihadapi dalam proses pembersihan lahan. Mereka harus membersihkan pohon duri dan rumput tinggi.

Beruntung banyak anggota jemaat dan warga secara sukarela membantu membersihkan lahan tersebut. Lahan pun disulap menjadi kebun untuk menanam aneka sayuran. Namun hampir setiap hari lahannya menjadi lokasi berkumpul warga dan jemaat. Saat orang tua datang, anak-anak pun ikut serta dan tidak ke sekolah.

Baca Selanjutnya: Jadi tempat baca...

Halaman

(mdk/gil)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami