Kisah Sukses Mita Kopiyah Jadi Peternak Sapi Perah

PERISTIWA | 19 Oktober 2019 01:29 Reporter : Imam Mubarok

Merdeka.com - Mita Kopiyah memulai karirnya dalam dunia peternakan sapi perah sejak tahun 2005. Dia melanjutkan Profesi peternak dari keluarganya. Namun, orang tua Mita berkecimpung dalam peternakan sapi potong. Keinginan mengubah haluan dari peternak sapi potong ke peternak sapi perah dimulai ketika dia dan suaminya melihat saudara dan tetangga yang lebih dulu menjadi peternak sapi perah.

"saya adalah generasi peternak sapi perah pertama di keluarga. Awalnya kami melihat saudara atau tetangga yang lebih dulu beralih menjadi peternak sapi perah. Sepertinya mereka mempunyai penghasilan lebih setiap bulan. Sementara jenis sapi pedaging harus menunggu lebih lama lagi," ujar Mita kepada wartawan, Tulungagung, Jumat (18/10).

Awalnya, modal membeli sapi perah didapatkan dari memelihara sapi perah milik orang lain dengan sistem bagi hasil. Perlahan, pendapatan dari sistem ini mampu membeli satu sapi sendiri. Hingga saat ini, Mita dan suaminya mempunyai 15 sapi perah dengan produksi sekitar 75 liter/hari.

Pada 2018, Mita resmi bergabung sebagai peternak binaan Frisian Flag Indonesia (FFI) melalui Koperasi Bangun Lestari, dengan mengikuti program Farmer2Farmer. Pada tahun berikutnya (2019), dirinya terpilih menjadi salah satu dari 4 peternak yang diberangkatkan ke Belanda dalam naungan program tersebut selama dua pekan untuk mengikuti berbagai pelatihan langsung dengan peternak Belanda.

Di sana, Mita diajarkan manajemen kandang serta sistem pemeliharaan dengan standar "Good Farming Practices For Animal Production Food Safety" yang ditetapkan oleh FAO. Standar penilaian keberhasilan usaha peternakan sapi perah menurut FAO terdiri dari beberapa aspek teknis antara lain: aspek pembibitan dan reproduksi, pakan dan air minum, pengelolaan, kandang dan peralatan, kesehatan dan kesejahteraan ternak.

"Banyak pengetahuan yang didapatkan, terutama tentang kesehatan sapi, cara pemberian rumput, konsentrat dan air minum, hingga pola bentuk kandang yang tepat. Satu hal lagi yang paling penting adalah kebiasaan untuk mencatat atau diary sapi. Jadi kami tahu produksi dan perkembangan sapi setiap hari. Sebelum mengikuti F2F, produksi susu dari peternakan biasanya hanya di angka 8-12 liter/ekor/hari. Setelah program F2F, produksi sekarang biasanya stabil di angka 15-18/liter/ekor/hari. Bahkan beberapa hari bisa mencapai 26 liter. Secara pendapatan, kami juga mengalami kenaikan bahkan saat ini, anak saya tertarik untuk melanjutkan usaha ini," ujar Mita.

Kompetisi Farmer2Farmer 2019 merupakan bagian dari program Farmer2Farmer dari FFI. Program berkelanjutan ini bernaung di bawah Dairy Development Program (DDP) oleh perusahaan induk, Friesland Campina, dan merupakan salah satu usaha untuk mewujudkan tujuan perusahaan, yaitu Nourishing by Nature ke dalam kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut dilakukan dalam mencapai tujuan jangka panjang perusahaan yaitu memberikan nutrisi yang lebih baik kepada dunia, meningkatkan kesejahteraan peternak sapi perah lokal di negara-negara perusahaan beroperasi, serta membangun dunia yang lebih baik untuk generasi sekarang dan yang akan datang.

Tahun 2019 merupakan tahun ketujuh dari implementasi program Farmer2Farmer. Secara nasional, kompetisi ini dimulai dari awal tahun dengan melibatkan para peternak sapi perah lokal yang berasal dari empat koperasi peternak sapi perah di Jawa Barat dan Jawa Timur, yaitu Koperasi Peternakan Sapi Bandung Selatan (KPSBS) Pangalengan dan Koperasi Peternakan Sapi Bandung Utara (KPSBU) Lembang di Jawa Barat, Koperasi Usaha Tani Ternak Suka Makmur dan Koperasi Bangun Lestari di Tulungagung Jawa Timur.

PT Frisian Flag Indonesia (FFI) bekerjasama dengan Koperasi Bangun Lestari Tulungagung dan para pakar peternakan menyelenggarakan bincang-bincang Bewara di Tulungagung untuk memperingati hari pangan sedunia, Jumat (18/10/2019).

Melalui kegiatan ini, FFI kembali menekankan pentingnya kemitraan dan kolaborasi untuk meningkatkan pemberdayaan peternak lokal dalam mencapai visi misi bersama, yaitu memberikan ketersediaan pangan nasional untuk SDM unggul Indonesia.

Susu merupakan sumber protein hewani yang mengandung banyak gizi penting. Dari sisi hilir, Indonesia merupakan salah satu negara yang konsumsi susunya tergolong rendah dengan angka konsumsi susu masyarakat Indonesia sebanyak 16,5 kg per orang per tahun. Sementara di sisi hulu, produksi lokal baru mencapai 864,6 ribu ton atau sekitar 19 persen dari kebutuhan nasional sebanyak 4,5 juta ton.

Saat ini, global tengah berada pada Revolusi Industri 4.0 atau dikenal dengan Era Disrupsi. Oleh karena itu, dunia usaha perlu mengantisipasi tantangan era ini melalui kompetensi 4C. Communication pemenuhan proses interaksi sosial, Collaboration menjalin kerjasama, Critical Thinking membangun tradisi pemikiran kritis dan Creativity mendorong proses kreatif.

Dalam hal inilah, kompetensi komunikasi dan kolaborasi dapat direalisasikan dalam sebuah proses kemitraan. Dengan demikian, kemitraan menjadi salah satu faktor penting bagi dunia usaha dalam menghadapi Era Disrupsi.

Kepala Divisi Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan IPB, Epi Taufik mengatakan pengetahuan dan pemahaman para peternak sapi perah lokal harus terus diperbarui, sesuai dengan GDFP (Good Dairy Farming Practices) salah satunya melalui program kemitraan. Hal tersebut dilakukan agar para peternak sapi perah lokal dapat mengikuti perkembangan informasi dan teknologi peternakan sapi perah terkini di Indonesia dan dunia pada umumnya.

"Saya sangat mengapresiasi dunia usaha yang terus bermitra dengan para peternak sapi perah lokal seperti yang dilakukan FFI. Saya berharap industri pengolahan susu lainnya dapat melaksanakan hal yang sama. Bagi yang sudah melaksanakan, diharapkan untuk terus menjalankan programnya dengan berkesinambungan,"ujar Epi.

Sementara itu, Fresh Milk Relationship Manager Frisian Flag Indonesia Efi Lutfillah berharap kegiatan ini dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang peranan penting peternak sapi perah lokal dalam ketersediaan susu nasional dan kontribusinya terhadap gizi nasional. Selain itu, melalui kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan, diharapkan para peternak dapat menggenjot produksi sapi perah dan turut meningkatkan kesejahteraan mereka.

"Kami berharap masyarakat lebih menyadari kontribusi peternak lokal dalam penyediaan kebutuhan susu dan gizi nasional. Kegiatan ini juga merupakan salah satu wadah untuk saling berbagi pengetahuan dan pengalaman antar sesama peternak sapi perah lokal dengan ahli peternakan untuk meningkatkan produksi susu dan kesejahteraan peternak," ujar Efi.

Ketua Koperasi Bangun Lestari Tulungagung, Muntohin mengapresiasi berbagai inisiatif yang dilakukan oleh FFI terhadap peternak lokal. Ia mengakui adanya perubahan signifikan yang dialami oleh para peternak lewat berbagai inisiatif yang dilakukan oleh FFI.

"Kebanyakan peternak yang ada di koperasi ini adalah peternak turunan. Pengetahuan yang ada pun biasanya hanya didapatkan dari lingkup yang terbatas. Kami sebelumnya tidak mengetahui apa yang dibutuhkan oleh industri dan begitu juga sebaliknya, industri tidak mengetahui apa yang dibutuhkan oleh peternak. Dengan adanya kemitraan antara FFI dan peternak lokal, ada dialog yang terjadi dan solusi-solusi yang bisa diambil terhadap tantangan ini. Hal-hal yang sebelumnya dianggap sederhana dan sepele seperti pemberian pakan atau tempat tidur para sapi ternyata berpengaruh besar terhadap kuantitas dan kualitas produksi susu yang nantinya berimbas ke pendapatan peternak." ujar Muntohin.

Ia juga menambahkan bahwa ada banyak pengetahuan yang didapatkan dari program ini. Selain itu, kegiatan ini juga melatih para peternak menjadi individu yang proaktif dan mampu bekerja sama secara kelompok.

"Dengan meningkatnya pengetahuan peternak, hal ini juga meningkatkan kesejahteraan peternak. Sehingga menjadi peternak mulai dilirik kembali dan diharapkan dapat memacu regenerasi. Kami berharap kerjasama ini terus dilakukan oleh FFI dan FFI tetap konsisten dalam mengembangkan potensi para peternak sapi perah Indonesia," tambah Muntohin.

Baca juga:
Pemilik Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo Ungkap Kunci Sukses Bisnis Kuliner
Kisah Claudia, Gadis Berusia 22 Tahun Sukses Bikin Baju Renang Seharga Rp800 Juta
Luncurkan Produk Lipstick, Anak Gus Dur Coba Peruntungan di Dunia Bisnis Kecantikan
Kisah Sukses Masaru, Pekerja Sayur yang Kini Jadi Miliuner Berharta Rp14 Triliun
Berkat KUR, Pengusaha Asal Morotai ini Sukses Jual Lobster Hingga Luar Negeri
Cerita Korban Gempa Palu Sukses Jadi Produsen Jipang

(mdk/bal)