Kisah wanita desa di Malang jadi pejuang antiperbudakan di Amerika

PERISTIWA » MALANG | 26 Juli 2016 05:32 Reporter : Darmadi Sasongko

Merdeka.com - Ima Matul Maisaroh (33) mendadak kembali menjadi pembicaraan hangat. Ini lantaran wanita asli Malang, Jawa Timur ini menjadi salah satu pembicara Konvensi Nasional Partai Demokrat, di Kota Stadion Wells Fargo, Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat, Selasa (26/7) waktu setempat.

Dia diminta membicarakan pengalaman serta upaya melawan perdagangan manusia. Konvensi itu dihadiri ribuan orang, agendanya memilih calon presiden dukungan partai, dalam hal ini hampir pasti Hillary Clinton.

"Saya juga menyampaikan program-program penanggulangan perbudakan dan perdagangan manusia yang telah dilakukan Hillary Clinton," kata Ima.

Ima sebelumnya ramai diperbincangkan lantaran kisah kelam masa lalu. Kepergiannya ke Amerika diawali saat Ima pisah dari orang tua. Perempuan asal Gondanglegi, Kabupaten Malang itu hendak dinikahkan dengan pria yang jauh lebih tua.

"Dulu saya berhenti sekolah karena mau dikawinkan dengan orang yang gak kenal dan umurnya 12 tahun lebih tua," kata Ima Matul Maisaroh saat dihubungi merdeka.com, Senin (25/7).

Namun penolakan Ima gagal, hingga akhirnya menikah dengan pria tersebut. Sempat kabur, tetapi orang tua akhirnya menemukan dan menikahkannya, walaupun kemudian bercerai.

"Rumah tangga gak bahagia karena gak cinta. Saya kabur dari rumah tapi orang tua temuin saya. Terus saya pisah sama suami, habis itu merasa malu jadi saya pingin pergi jauh-jauh dari kampung," kisahnya.

Sejak bercerai, Ima mendaftar di sebuah perusahaan pengerah tenaga kerja. Saat sedang magang, Ima mendapatkan kemudahan jalan.

Majikan sementaranya itu, tenyata memiliki kerabat yang kemudian mengajak bekerja di tempatnya. Sejak saat itu, Ima bekerja di Amerika Serikat.

"Terus saya daftar ke PT untuk kerja di Hong Kong. Karena saya gak punya pengalaman jadi saya harus latihan kerja. Saya latihan kerja di Malang dan majikan saya ini punya saudara sepupu di AS. Saudaranya ini perlu pembantu, saya ditawarin. Saya senang sekali karena gajinya USD 150 per bulan," pungkasnya.

Setibanya di AS, Ima memang menjadi pembantu rumah tangga, namun pekerjaan itu sudah masuk kategori perbudakan. Dia bekerja 18 jam sehari bahkan lebih, tak pernah punya libur akhir pekan. Majikan Ima memaksanya membersihkan rumah, mencuci, merapikan taman, hingga mencuci mobil.

Setelah tiga tahun, Ima akhirnya memberanikan diri untuk kabur lantaran tak digaji. Dia menulis surat ke wanita yang bekerja di seberang rumah, juga sesama pembantu rumah tangga.

Dengan komunikasi terbatas lewat surat, akhirnya wanita yang ada di depan rumah sanggup menolong Ima dan membawanya jauh dari rumah majikan

Ima dibawa ke kantor CAST di Los Angeles. Di tempat itu, dia dirawat dan diajari bahasa inggris serta keterampilan lainnya. Dia juga belajar komputer. Pada 2005, Ima bergabung sebagai aktivis lembaga CAST. Dia menjadi korban yang berhasil selamat dan kini berkampanye melawan perbudakan serta perdagangan manusia.

Turio (55), ayah Ima menceritakan, putrinya juga mendapat kesempatan sekolah di Amerika. Kata Turio, sekolah dilaksanakan setiap Sabtu dan Minggu setelah pulang bekerja.

"Kemudian menikah dengan pria Meksiko dikaruniai dua anak, tetapi kembali pisah. Kemudian dengan pernikahannya yang sekarang, dengan pria Jawa Barat diberi satu anak," tuturnya.

Sementara ibu Ima, Alima bangga lantaran putrinya sukses. Keluarga pun kerap dikirimi uang. Ima juga ikut membantu pembiayaan pembangunan rumah dan memberangkatkan umrah kedua orang tua.

"Anaknya kecil, tapi sejak anak-anak sudah terlihat tekun, belajarnya sungguh-sungguh, ngajinya juga sungguh-sunguh," ungkap Alima mengenang.

Sejak 2012, Ima ditunjuk Presiden Barack Obama menjadi salah satu anggota Gugus Tugas Pemberantasan Perdagangan Manusia (PITF). Karenanya pidato nanti akan mencakup pula kapasitasnya sebagai penasehat presiden AS.

"Katanya ke mana-mana diajak Presiden, tidak tahu kerjanya apa pokoknya di kantor. Kerjanya menolong orang yang terlantar di sana," ungkap Alima dengan nada polos.

Baca juga:

Mantan TKI asal Malang jadi pembicara Konvensi Partai Demokrat AS

Ima Matul Maisaroh putus sekolah karena dipaksa menikah

Orang tua Ima: Anak saya memang ke mana-mana diajak Presiden Obama

Kebahagiaan orang tua Ima Matul bangga anaknya jadi penasehat Obama

Kisah 2 wanita Indonesia jadi korban perbudakan hingga sukses di AS (mdk/cob)

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.