Klenteng TITD Pay Lien San, Potret Toleransi Umat Beragama di Jember

PERISTIWA | 25 Januari 2020 19:38 Reporter : Muhammad Permana

Merdeka.com - Menggunakan lap biasa, Sugik nampak sibuk membersihkan beberapa patung dewa yang ada di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Pay Lien San, yang ada di Desa Glagahwero, Kecamatan Panti, Jember, Jawa Timur.

Saat itu, Minggu (19/01), bersama puluhan umat Tri Dharma lainnya, Sugik satu persatu membersihkan debu-debu yang menempel di seluruh sisi tempat ibadah tiga aliran agama itu.

"Tetapi saya seorang muslim, bukan umat di sini. Saya di sini sebagai pekerja, tukang bersih-bersih," ujar Sugik yang memiliki nama asli Miroso.

"Karena nama anak pertama saya Sugik, makanya saya oleh warga sekitar dipanggil Pak Sugik. Itu memang tradisi masyarakat Madura yang ada di desa di pulau Jawa ini," ujar Pak Sugik.

Meski bukan umat Tri Dharma, tetapi Pak Sugik alias Miroso memiliki pertautan dengan sejarah salah satu tempat ibadah Tri Dharma tertua di Jember ini. Dia merupakan keponakan dari Ton Hua Sen, pendiri dari TITD Pay Lien San.

"Bibi saya, Masni itu warga asli sini, lalu menikah dengan pak Ton Hua Sen, pendiri tempat ibadah di sini. Warga sekitar biasa memanggil Ayin (kepada Ton Hua Sen)," ujar Sugik.

Sayangnya, Sugik tidak tahu persis sejarah TITD Pay Lien San. Dulu klenteng berdirinya sekitar tahun 1950 atau 1940. Sedangkan dia baru lahir tahun 1963.

"Setahu saya bibi saya juga tidak pernah sembahyang di sini. Saya tidak tahu persis, apakah dia ikut keyakinan suaminya atau tidak. Karena paman dan bibi saya meninggal ketika masih kecil," ujar Sugik.

Sudah sejak remaja, Sugik ikut bekerja sebagai pembersih di TITD Pay Lien San. Selain bekerja membersihkan TITD Pay Lien San, Sugik bersama istrinya yang juga muslimah, menggeluti profesi sebagai petani dan ternak ayam skala kecil.

"Kerja di sini santai sih, tidak terlalu banyak tekanan. Saya gaji bulanan, kalau hari tertentu, juga ada tambahan," papar Sugik.

Selain Sugik dan istrinya, TITD Pay Lien San juga mempekerjakan seorang lagi sebagai petugas kebersihan. Dia adalah Koh Ing alias Gunawan Hadiwidjaja, yang merupakan seorang pemeluk Katolik yang taat.

"Di sini, tidak pernah ada gesekan dengan warga sekitar. Kalau pas acara ibadah di sini bersamaan dengan suara adzan, ya biasa-biasa saja warga. Karena sudah saling memahami," papar Sugik.

Letak TITD Pay Lien San yang ada di seberang jalan desa, memang berhadapan persis dengan Masjid Al-Barokah. Keduanya hanya berjarak selemparan batu. Sekitar 5 meter.

Potret toleransi dua tempat ibadah ini juga dibenarkan oleh Hasan, salah satu Takmir Masjid Al-Barokah. "Di sini semua warga sudah saling memahami. Biasanya waktu yang bersamaan kan malam, adzan Isya bersamaan dengan acara di klenteng (TITD Pay Lien San)," ujar Hasan.

Sepanjang berdirinya TITD Pay Lien San, seingat Hasan, tidak pernah terjadi sekalipun gesekan dari kedua beragama tersebut. "Kita juga sesekali diundang ke acara mereka," imbuh Hasan saat ditemui Merdeka.com pada Sabtu (25/01) ini.

Potret toleransi itu juga dibenarkan Hery Novem Stadiono, Wakil Ketua TITD Pay Lien San. "Jujur saja, di sini sangat toleran. Kita saling memahami dan tidak pernah ada gesekan," ujar Hery di sela-sela peringatan Imlek pada Sabtu (25/01) ini.

Hery sendiri baru belasan tahun terakhir aktif di TITD. Untuk mengenang sejarah berdirinya, potret Ton Hua Sen juga dipajang di salah satu altar yang ada di teras depan TITD Pay Lien San.

"Ton Hua Sen sebagai pendiri, yang saya dengar memang berasal dari Tiongkok daratan. Lalu hijrah ke Indonesia, entah dia singgah di daerah mana saja, lalu tahu-tahu menetap di desa ini dan menikah dengan warga setempat," jelas Hery yang memiliki nama asli Jap Swie Liong ini.

Desa Glagahwero sendiri, masuk di Kecamatan Panti yang ada di pinggiran pusat kota Jember. Letak desa ini, cukup terpencil dari pusat kota. Tidak ada informasi pasti, bagaimana dan mengapa Ton Hua Sen bisa tinggal di pelosok desa tersebut.

Dalam catatan sejarawan Universitas Jember (Unej), Edy Burhan Arifin sebagaimana yang dikutip oleh Retno Winarni dkk dalam buku yang berjudul "Cina Republik Menjadi Indonesia", masuknya etnis China ke Jember terjadi sejak akhir abad XIX. Mereka semula terkonsentrasi di kawasan Pecinan yang ada di pusat kota Jember, yang kini berubah nama menjadi kawasan Jompo.

TITD Pay Lien San sendiri, termasuk salah satu tempat ibadah Tri Dharma yang tertua di Jember. "Sebenarnya ada yang lebih tua, yakni di Jompo. Tapi sekarang sudah tidak aktif, karena tidak ada regenerasi kepengurusan," pungkas Hery. (mdk/gil)

Baca juga:
Pedagang Burung Pipit dan Bunga Raup Untung Berlipat di Hari Imlek
Imlek, Stasiun Gambir Dimeriahkan Atraksi Barongsai
Potret Keluarga Ruben Onsu di Momen Imlek, Penampilan Betrand Peto Curi Perhatian
Prediksi Pakar Fengshui di Tahun Tikus Logam: Banyak Bencana & Muncul Pengusaha Baru
Pertunjukan Barongsai Hibur Penumpang di Stasiun LRT Velodrome
Melukis Perayaan Imlek di Petak Sembilan
43 Narapidana Dapat Remisi Khusus Imlek 2020

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.