Komnas HAM Sebut Tindakan OPM Lebih Brutal dari GAM

Komnas HAM Sebut Tindakan OPM Lebih Brutal dari GAM
Pasukan TNI Bersenjata Lengkap Buru KNPB di Papua Barat. Penerangan Kodam Kasuari ©2021 Merdeka.com
NEWS | 18 September 2021 20:32 Reporter : Yunita Amalia

Merdeka.com - Ketua Komnas HAM, Ahmad Taufan Damanik mendorong aparat keamanan menindak pihak yang melakukan kekerasan terhadap masyarakat sipil di Pegunungan Tengah, Papua. Hal ini sehubungan dengan meningginya intensitas kekerasan oleh kelompok bersenjata, bahkan tenaga kesehatan menjadi korban karena berusaha menyelamatkan diri.

"Tentu saja selain menjaga disiplin aparat untuk tidak melakukan pelanggaran HAM di dalam operasi keamanan dan penegakan hukum di Papua, kami juga mendesak agar OPM atau KKB menghentikan serangan-serangan mereka terutama kepada masyarakat sipil," ucap Taufan kepada merdeka.com, Sabtu (18/9).

Komnas HAM juga mendorong, agar aparat menangani masalah ini tetap melibatkan tokoh adat setempat untuk berdialog dan berdiskusi mencari solusi, agar kekerasan bisa dihentikan.

"Kami mendorong terus penegakan hukum yang terfokus kepada pihak yang melakukan kekerasan. Namun meminta langkah dialog kepada tokoh-tokoh agama, adat dan kepala daerah untuk mencari solusi," imbuhnya.

Taufan sepakat, kekerasan kelompok bersenjata di Pegunungan Tengah, Papua semakin brutal dengan menyasar masyarakat sipil. Bahkan ia berpandangan, kekerasan di sana berbeda dengan gerakan kelompok separatis Aceh.

Menurut Taufan, jika GAM di Aceh tidak melakukan tindakan kekerasan dan serangan terhadap masyarakat sipil, hal ini sangat berbanding terbalik dengan kelompok separatis Papua.

"Memang sangat kompleks, saya bandingkan dengan pengalaman di Aceh dulu, agak berbeda di mana GAM misalnya tidak sampai melakukan tindakan brutal seperti ini ke masyarakat sipil. Adakalanya memang seperti mencari perhatian, tapi saya kira ini tidak bisa kita terima, internasional juga mengecam tindakan ini," tegasnya.

Sementara itu, Asosiasi Bupati Pegunungan Tengah Papua berharap, para tenaga medis dan pendidik di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, segera diungsikan ke tempat yang lebih aman. Permintaan ini menyikapi meningkatnya eskalasi keamanan di Papua akhir-akhir ini.

Ketua Asosiasi Bupati Pegunungan Tengah Papua, Befa Yigibalom, mengatakan tidak ada pilihan lain Bupati Pegunungan Bintang diharapkan segera menarik tenaga medis, pendidik di wilayah sekitar kejadian ke ibu kota Kabupaten Pegunungan Bintang yakni Distrik Oksibil.

"Memang jalur darat dari Distrik Kiwirok belum terhubung ke daerah sekitarnya sehingga daerah seperti ini harus diperhatikan dengan serius," ujarnya. Demikian dikutip dari Antara, Sabtu (18/9).

Menurut Befa, pihaknya juga menyampaikan turut berduka cita dan memberikan penghormatan yang tinggi kepada tenaga medis, terutama korban yang sampai kehilangan nyawanya dan berharap keluarga diberikan kekuatan.

"Asosiasi Bupati Pegunungan Tengah Papua mengutuk keras tindakan tersebut," ujar Befa yang juga merupakan Bupati Lanny Jaya.

"Eskalasi di Kabupaten Pegunungan Bintang ini perlu disikapi serius oleh berbagai pihak dan diambil tindakan tegas terukur sehingga tidak meninggalkan benih-benih kekerasan yang sama," ucap dia.

Dia menambahkan, dirinya mengaku mengenal suku-suku di Pegunungan Bintang terutama suku Ngalum yang merupakan memiliki nilai budaya luhur yang tinggi, memiliki moral dan nilai-nilai baik, mengasihi juga jauh dari tindakan kekerasan. (mdk/rnd)

Baca juga:
TNI: Nakes Harus Lapor Jika Ada Indikasi Gangguan Keamanan di Papua
Terkendala Cuaca, Jenazah Suster Gabriela Belum Bisa Dievakuasi ke Jayapura
Komnas HAM Sebut Tindakan OPM Lebih Brutal dari GAM
Asosiasi Bupati Pegunungan Tengah Papua Minta Nakes Diungsikan
Polri Tegaskan Pengamanan Nakes di Papua Jadi Perhatian Aparat

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami