Kontras Catat 57 Kasus Penyiksaan yang Dilakukan Anggota Polri

PERISTIWA | 1 Juli 2019 18:17 Reporter : Muhammad Genantan Saputra

Merdeka.com - Komisi untuk orang hilang dan korban tindak kekerasan (Kontras) menyoroti kultur kekerasan dan praktik penyiksaan oleh anggota Polri. Mereka mencatat setidaknya terdapat 57 kasus angka penyiksaan di institusi Polri pada periode Mei 2018 hingga Juni 2019.

Koordinator Kontras Yati Andriyani mengatakan, kepolisian menduduki peringkat pertama dalam daftar institusi yang kerap melakukan praktik penyiksaan dan tindakan tidak manusiawi.

"Sejumlah 49 kasus bermotif untuk mendapatkan pengakuan dari korban. Temuan lainnya dalam periode 2018-2019 ini menunjukkan bahwa terdapat setidaknya sebanyak 51 peristiwa salah tangkap," katanya saat jumpa pers di kantor Kontras, kawasan Senen, Jakarta Pusat, Senin (1/7).

Kontras juga menemukan tindakan penyiksaan dengan menggunakan binatang sebagai instrumennya. Yati menceritakan, salah satu kasus dugaan pejambretan ponsel yang dilakukan Hiron Hiluka, warga kampung Ibele, Papua dan ditangkap anggota Polres Jayawijaya.

Saat melakukan proses interogasi kepada pelaku, polisi mengeluarkan seekor ular dan dililitkannya ke tubuh pelaku guna mendapatkan pengakuan. Kejadian tersebut terjadi pada 4 Februari 2019.

Kemudian, kasus penyiksaan diruang terbuka yang dialami Deddy Hernawan pada 13 Desember 2018. Deddy ditangkap Ditresnarkoba Bengkulu atas tuduhan kepemilikan narkoba.

Saat ditangkap, Deddy lebih dahulu dibawa ke pondok-pondok pinggir pantai panjang untuk mengakui kepemilikan narkoba. Karena tidak mengaku, Deddy dipukul dengan tangan kosong dan balok kayu berkali-kali oleh sekitar 10 polisi yang membawanya.

"Bahkan ada anggota yang memukul menggunakan balok ke arah betis, hingga mengakibatkan luka sobek pada kaki," ucapnya.

Selain itu, Kontras mencatat peristiwa penyiksaan yang dialami Ari Ismail, sopir truk Ogan Ilir, Palembang pada 13 Desember 2018. Yati mengatakan, Ari dipaksa mengakui perbuatannya yang tidak pernah dilakukannya, yakni memerkosa seorang bidan.

Ari saat itu dihadang dan dimasukkan secara paksa ke dalam mobil. Kemudian, ia mendapatkan pemukulan sekitar 10-15 menit dan dipaksa mengakui memerkosa seorang bidan. Karena tidak mau mengakui, ia dipukul di bagian tubuh dengan keadaan tangan diborgol dan matanya ditutup menggunakan lakban coklat.

Dari situ, Kontras menilai Polri masih menggunakan praktik penyiksaan untuk menggali informasi atau sebagai penghukuman terhadap pelaku kriminal. Tindakan itu banyak terjadi pada tingkatan Polres dan Polsek.

"Masih tinggi penyiksaan oleh anggota Polri menunjukkan bahwa institusi kepolisian tidak menjadikan peristiwa penyiksaan oleh anggotanya sebagai upaya untuk mengevaluasi dan mengoreksi kerja Polri di lapangan," kata Yati.

Kontras menilai, pola penyiksaan yang kerap dilakukan terjadi karena tiga faktor yaitu gagalnya polisi dalam menggali informasi sebuah peristiwa, kultur kekerasan yang tinggi dan tiadanya sanksi atau hukuman yang membuat efek jera.

Baca juga:
Seorang Polisi di Denpasar Dikeroyok saat Rayakan Ulang Tahun
Tersangka Akui Aniaya Kasatreskrim Wonogiri dengan Senjata Tajam dan Kayu
Tersangka Kerusuhan dan Pengeroyokan Kasatreskrim Wonogiri Jadi 25 Orang, 15 Ditahan
Pengeroyokan Kasatreskrim Wonogiri, 21 Orang Ditetapkan Jadi Tersangka
Video Polisi Pukuli Pria di Kampung Bali, Mabes Polri Janji Tak Segan Beri Sanksi
Penjelasan Polri Soal Video Viral Brimob Pukuli Pria di Kampung Bali
Alami Pengeroyokan, Eks Kasatreskrim Wonogiri Dirawat Lanjutan di Singapura

(mdk/fik)