KontraS Duga Penyebab Bentrokan Polisi Empat Lawang vs Warga Karena Pungli

PERISTIWA | 2 September 2019 19:16 Reporter : Irwanto

Merdeka.com - KontraS menduga penyebab utama terjadinya bentrokan polisi dan warga di Empat Lawang, Sumatera Selatan, beberapa waktu lalu karena adanya pungutan liar (pungli). Polisi didesak mengusut tuntas kasus ini agar terbongkar latar belakangnya.

Kepala Divisi Pembelaan HAM Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Arif Nur Fikri mengungkapkan, dugaan itu muncul setelah warga Desa Tanjung Raman, Kecamatan Pendopo, Empat Lawang, mengadu terkait bentrokan dan penangkapan belasan warga. Warga membantah kronologis yang disampaikan kepolisian.

Warga menyebut, polisi melakukan pungli saat pembangunan jalan. Polisi meminta jatah Rp 30 ribu per angkutan truk selama beberapa bulan sebelum kejadian.

"Persoalan utamanya adalah dugaan pungli yang dilakukan oknum polisi di Empat Lawang, ada warga yang hendak melaporkan. Ini menjadi dugaan penyebab terjadinya bentrokan," ungkap Arif, Senin (2/9).

Menurut dia, kasus ini telah dilaporkan ke Ombudsman RI dan warga tinggal menyertakan barang bukti seperti data pendukung adanya pungli. Semestinya, kasus dugaan pungli tersebut harus diusut tuntas.

"Makanya dikejar ke situ dan dibuktikan dengan data yang ada," ujarnya.

KontraS juga mendesak polisi menyelidiki dugaan penganiayaan yang dilakukan polisi kepada para tersangka dan saksi bentrokan dalam proses penyelidikan. Bahkan, seorang tersangka yang terbaring di rumah sakit akibat terkena tembakan polisi juga harus diborgol.

"Kita menyayangkan itu, dia sudah mengalami luka tembak, tidak berdaya, masih diborgol. Padahal dia tidak bisa lari kemana-mana karena luka itu, tidak mungkin juga melarikan diri, ini tidak manusiawi," kata dia.

Menanggapi hal itu, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sumsel Kombes Pol Yustan Alpiani mengaku belum mengetahui adanya laporan warga terkait dugaan pungli. Dia mengimbau tidak asal menuding tanpa bukti yang lengkap.

"Kalau itu kan terserah, apapun versi mereka (warga). Seandainya kalau ada dia menemukan itu, dia bisa lapor dong. Melaporkan siapa yang melakukan itu," ujarnya.

Dijelaskannya, dugaan pungli dan penangkapan 14 tersangka penyerangan adalah kasus yang berbeda. Dugaan pungli tidak bisa dijadikan pembenaran untuk melakukan penyerangan terhadap anggota polisi yang sedang bertugas.

"Konteks kita pada saat anggota mau nangkap orang, dilakukan perlawanan. Kalau awalnya yang lain itu terserah, yang pasti seandainya tidak ada perlawanan, penyerangan terhadap anggota, itu tidak akan terjadi," kata dia.

"Sekarang kita tangani dulu kasus penyerangan ini. Kalau warga mau lapor itu (pungli) itu terserah mereka," tutupnya.

Diberitakan sebelumnya, empat polisi mengalami luka tusuk dan tembak akibat diserang massa. Sebanyak 16 warga diamankan polisi dalam insiden itu.

Keempat polisi yang terluka adalah Ipda Arsan Fajri (Kanit Reskrim Polsek Ulu Musi), Bripka Darmawan, Bripda Teja Apriaga, dan Briptu Agus.

Bentrokan terjadi di dua tempat, yakni di Desa Tanjung Raman, Kecamatan Pendopo, Empat Lawang, Sumatera Selatan, Rabu (31/7) malam. Kemudian disusul serangan massa di RSUD Tebing Tinggi, Empat Lawang.

Peristiwa itu bermula saat seorang warga melaporkan dirinya menjadi korban pengancaman oleh warga setempat. Ipda Arsan bersama tiga anak buahnya mendatangi rumah pelaku, Erwin. Polisi tak menemukan pelaku karena tidak berada di tempat.

Di perjalanan, petugas bertemu pelaku bersama tujuh orang lainnya. Ketika petugas bermaksud mendamaikan pelapor dan terlapor, pelaku Erwin justru menyerang dengan pisau.

Ipda Arsan dan Bripka Darmawan terkena luka tusuk. Tak ingin situasi semakin membahayakan, dua petugas yang lain melepaskan tembakan peringatan. Tembakan membuat enam pelaku kocar-kacir, dan dua pelaku, Erwin dan Irwan diamankan dengan luka tembak di kaki.

Empat polisi dan pelaku yang terluka langsung dibawa ke RSUD Tebing Tinggi untuk menjalani perawatan. Tak lama, datang sekitar 70 orang menyerang polisi yang tengah dirawat di rumah sakit.

Para pelaku membawa senjata api dan sajam berbagai jenis. Polisi mengeluarkan tembakan peringatan agar sekelompok orang itu membubarkan diri.

Tembakan itu dibalas para pelaku yang membuat dua polisi yang sedang berjaga, Bripda Teja Apriaga dan Briptu Agus terkena luka tembak. Dalam insiden itu, petugas mengamankan dua pucuk senjata api rakitan dan 15 bilah senjata tajam. Anggota yang terluka kini dirujuk ke RS di Lubuklinggau. (mdk/cob)

Baca juga:
Periksa 20 Saksi, Tersangka Penyerangan Polisi di Empat Lawang Kemungkinan Bertambah
16 Orang Ditetapkan Tersangka Penusuk dan Penembak 4 Polisi di Empat Lawang
Gugatan Diterima, PKS Pertimbangkan Laporkan KPU Sumsel dan Empat Lawang ke Polisi
Penyerang Polisi Empat Lawang di Sumsel Diupahi Rp50.000/Orang
Polda Sumsel Kantongi Aktor Penyerangan Polisi yang Dirawat di RSUD Empat Lawang
Situasi Kondusif Usai Serangan Massa, 269 Polisi Disiagakan di Empat Lawang
Polisi Kejar Provokator Bentrok Anggota Dan Warga di Empat Lawang

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.