KontraS Nilai Polisi Lambat Ungkap Pelaku Penembakan Aksi 21-22 Mei

PERISTIWA | 12 Juni 2019 17:27 Reporter : Ahda Bayhaqi

Merdeka.com - Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mengkritik polisi yang merilis pengakuan tersangka kerusuhan 21-22 Mei 2019. KontraS menilai polisi mengabaikan sembilan korban tewas yang belum juga jelas kematiannya.

"Ada hal penting yang harus disampaikan tapi justru tidak disampaikan," kata Wakil Koordinator KontraS Bidang Strategi dan Mobilisasi, Feri Kusuma dalam konferensi pers di kantornya, kawasan Senen, Jakarta Pusat, Rabu (12/6).

Feri menyayangkan polisi tidak memastikan anggotanya terkait dugaan penggunaan peluru tajam saat kerusuhan 22 Mei. Polisi saat menangani kerusuhan tersebut menyatakan tidak menggunakan peluru tajam. Belum lagi, sudah lewat 20 hari tidak ada uji balistik dan rekonstruksi yang dilakukan kepolisian.

Sebab, beberapa korban tewas diduga karena tertembak. Sampai saat ini asumsi beredar peluru tersebut berasal dari polisi. Maka itu, dia meminta polisi segera menjelaskan kepada publik.

"Apakah peluru tajam, peluru karet, yang menyebabkan tewasnya warga," kata Feri.

KontraS mendapatkan informasi enam korban tewas karena tembakan. Tiga di antaranya telah dikonfirmasi ke pihak keluarga.

Berdasarkan foto yang dilihat KontraS, terdapat bekas tembakan di bagian belikat dan leher. Tiga korban yang didatangi KontraS menyebut surat keterangan kematian menuliskan penyebab kematian karena cidera lain. Tidak tertulis bekas tembakan atau lainnya.

"Ada lubang tembakan, dari 6 orang ada luka tembakan," kata Peneliti KontraS Rivanlee Anandar.

KontraS juga menyayangkan kepolisian menyebut sembilan korban tewas sebagai perusuh. Menurut KontraS belum bisa identifikasi apakah sembilan orang tersebut sengaja digerakkan. Sebab tiga di antara korban adalah anak di bawah umur yang tak sengaja terseret dalam peristiwa tersebut.

"Kontras menyayangkan polisi menyebut 9 orang ini massa perusuh, terlalu cepat," ucap Feri.

Sebelumnya, Polri menyatakan masih terus mendalami munculnya korban akibat ditembus peluru tajam pada kerusuhan 22 Mei 2019 lalu. Dalam proses penyelidikan, polisi perlu menemukan lokasi awal penembakan.

"Salah satu tugas penting tim investigasi bersama ini adalah mencari penyebab dari sembilan yang meninggal itu. Tidak secara keseluruhan kita mengetahui TKP terjadinya hal yang menyebabkan meninggal dunia tersebut," tutur Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Asep Adi Saputra di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (12/6).

Menurut Asep, lokasi awal atau Tempat Kejadian Perkara (TKP) sangat penting dalam upaya mengungkap korban tewas akibat peluru tajam. Lebih jauh, hal itu bisa mengungkapkan identitas pelaku.

"Karena ini meninggal dunia diduga akibat peluru tajam, maka kita harus mengetahui nanti bagaimana arah tembak, jarak tembak, dan sebagainya. Jadi Olah TKP itu penting. Tetapi sekali lagi kita menemukan dulu TKP-nya dimana, itu menjadi tugas kita," jelas dia.

Terkait dengan hasil uji balistik peluru, tim gabungan nantinya akan menyampaikan secara khusus. Termasuk jenis senjata yang digunakan pelaku.

"Yang jelas saya katakan tadi untuk menentukan kejadian peristiwa seperti ini, bagaimana kita harus mengolah TKP-nya. Sementara salah satu hambatan adalah secara keseluruhan belum diketahui TKP-nya ada di mana," Asep menandaskan.

Baca juga:
KontraS Desak Presiden Jokowi Bentuk TPF Kerusuhan 22 Mei
Menhan: Tim Mawar Sudah 10 Tahun Selesai, Kopassus Aktif Tak Ada Gitu-gituan
Moeldoko Sebut Tak Ada Tim Mawar dalam Kerusuhan 21-22 Mei
Tunggu Dewan Pers, Bareskrim Belum Tindaklanjuti Laporan Eks Komandan Tim Mawar
Jubir BPN: Agak Mustahil Pak Kivlan Ingin Makar, Tapi Kita Uji di Pengadilan
Polisi Sulit Temukan Lokasi Penembakan saat Rusuh 21-22 Mei
Wiranto Tegaskan Pengakuan Tersangka Kerusuhan 22 Mei soal Kivlan Zen Bukan Karangan

(mdk/gil)