Kontras Soroti Cara Polisi Bubarkan Aksi May Day & Demo 21-22 Mei

PERISTIWA | 1 Juli 2019 23:22 Reporter : Muhammad Genantan Saputra

Merdeka.com - Komisi untuk orang hilang dan korban tindak kekerasan (Kontras) memberikan catatan kepada Polri dalam HUT Bhayangkara ke-73. Salah satunya mengenai tindakan arogan dalam penanganan aksi massa.

Koordinator Kontras Yati Andriyani mengatakan, tindakan itu terjadi ketika penanganan aksi May Day di Bandung 1 Mei 2019. Menurutnya aksi tersebut diwarnai tindakan sewenang-wenang aparat keamanan dengan membubarkan massa lewat cara memukul meski tanpa perlawanan.

"Anggota Polri juga menangkap, mengumpulkan, menelanjangi, menyuruh jalan jongkok satu demi satu, menggunduli, mengecat tubuh, serta memperlakukan massa aksi di depan umum," katanya saat jumpa pers di kantor Kontras, Senen, Jakarta Pusat, Senin (1/6).

Kemudian, pada aksi May Day di Bandung aparat menangkap massa aksi hingga 619 orang yang terdiri dari 326 orang dewasa, 293 anak dibawah umur, dan 14 perempuan. Yati mengungkapkan, pada saat penangkapan, prosesnya penuh intimidasi verbal maupun nonverbal.

"Massa aksi dipukul secara membabi buta dan adapula yang ditelanjangi di tempat dan disemprotkan menggunakan cat pilox," ucapnya.

Kontras pun menyoroti tindakan tidak manusiawi saat penanganan aksi 21-22 Mei 2019. Dalam kasus itu, Kontras bersama LBH Jakarta melakukan pemantauan dan bekerja sama membuka pos pengaduan, untuk memverifikasi dan mendalami jatuhnya korban jiwa di kerusuhan tersebut.

Yati menyebut, bahwa pihaknya mendapatkan 7 pengaduan. Di antaranya sulitnya akses keluarga korban untuk bertemu anggota keluarga yang ditangkap, tidak diberikannya surat perintah dan penahanan, adanya penyiksaan dan pelanggaran hak hak anak.

"Pelanggaran-pelanggaran tersebut dapat bermuara pada dihukumnya orang yang tidak bersalah karena tidak mendapatkan hak-haknya sedari awal proses hukum," kata Yati.

Kontras juga mengumpulkan kasus dugaan penganiayaan dan penyiksaan pada kerusuhan 21-22 Mei. Salah satunya terhadap Markus, salah seorang tukang parkir yang dianiaya oknum anggota Brimob saat bertugas di kerusuhan tersebut. Markus hingga sekarang masih dirawat di RS Polri.

Selain itu ada Reza, korban meninggal yang sempat hilang. Namun tiba-tiba keluarga diberikan kabar kematian Reza dari RS Polri pada 27 Mei 2019. Korban tewas lain dalam peristiwa itu bernama Sandro. Padahal, Sandro tidak mengetahui adanya aksi itu. Namun, ia harus meregang nyawa karena peluru melewati rusuk kanannya.

"Ia (Sandro) sempat dioperasi, namun sehari kemudian ia meninggal di RS Tarakan," tukas Yati. (mdk/fik)

Baca juga:
Kontras Singgung Maraknya Pembubaran Aksi 2019 Ganti Presiden oleh Polisi
Kontras Catat Penggunaan Senpi oleh Polisi, 229 Orang Tewas
Kontras Catat 57 Kasus Penyiksaan yang Dilakukan Anggota Polri
Kontras: Polri Lakukan 643 Tindak Kekerasan Satu Tahun Terakhir
KontraS Nilai Polisi Lambat Ungkap Pelaku Penembakan Aksi 21-22 Mei
KontraS Desak Presiden Jokowi Bentuk TPF Kerusuhan 22 Mei

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.