Korban Dugaan Pelecehan Seksual Minta Maaf, Eks Pejabat BPJS TK Sujud Syukur

PERISTIWA | 8 Desember 2019 13:28 Reporter : Nur Habibie

Merdeka.com - Syafri Adnan Baharuddin (SAB) langsung sujud syukur usai diputuskan tak bersalah dalam kasus pelecehan seksual. Mantan Dewan Pengawas Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJS TK) ini sujud syukur di hadapan awak media menggunakan sajadah merah. Sujud syukur ini merupakan nazar Syafri.

Kuasa hukum Syafri, Memed Adiwijaya mengatakan, sejumlah putusan hukum yang menyatakan kliennya tidak bersalah di antaranya Keppres No.12/P tahun 2019, keputusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Selain itu, penilaian dari Dewan Pers atas hak jawaban dan juga surat ketetapan penyidik Dit Reskrimum yang memberhentikan kasus pelecehan seksual tersebut karena dinilai tak cukup bukti.

"Terkait tuduhan kepada klien kami, maka dengan ini kami menyatakan bahwa klien kamu tidak pernah terbukti melakukan hal-hal yang dituduhkan selama selama ini," kata Memed di Jakarta Pusat, Minggu (8/12).

"Dan kami berharap nama baik dan kehormatan klien kami dan keluarganya dapat dipulihkan sebagaimana reputasi dan kehormatan klien kami sebelum permasalahan di atas mencuat," sambungnya.

1 dari 1 halaman

SAB Maafkan RA

SAB sendiri mengaku sudah memaafkan segala tuduhan mantan bawahannya, RA. SAB juga menyebut bahwa RA sudah memberikan surat permohonan maaf kepada dirinya.

"RA juga sudah memberikan surat permohonan maaf kepada saya bermaterai disaksikan kedua orangtuanya dan dimediasi Polri, menyatakan bahwa tuduhan kepada SAB adalah tidak benar," jelas SAB dengan menunjukkan copy surat bermaterai tersebut kepada media.

Sebelumnya, seorang pegawai kontrak di Dewan Pengawas BPJS TK berinisial RA (27) mendatangi Bareskrim Polri. Wanita muda itu melaporkan mantan atasannya SAB.

Pengacara RA, Heribertus S Hartono menjelaskan laporan tersebut termuat dalam surat laporan polisi dengan nomor: LP/B/0006/I/2019/Bareskrim, tanggal 3 Januari 2019.

"Secara resmi tadi kami laporkan. Inisial yang dilaporkan SAB. Kemarin kan konsul, pasal mana yang dijadikan rujukan. Sekarang sudah resmi," ucap Heribertus di Jakarta, Kamis (3/1).

Dia pun mengungkapkan sudah menyertakan bukti awal. Di antaranya, keterangan saksi dan salinan percakapan antara RA dan SAB.

"Kita ada saksi, ada chat WhatsApp dan ada dokumen-dokumen," ungkap Heribertus. (mdk/ray)

Baca juga:
Suruh Siswa Onani, Guru PPKN di Malang Berdalih untuk Disertasi
Seorang Guru PPKN di Malang Suruh 18 Siswanya Onani
Seorang Pengasuh Ponpes di Jombang Diduga Cabuli Santriwati
Merasa Laporan Diabaikan Polisi, IRT di Jeneponto Viralkan Kasus Pemerkosaan Anak
Seorang Pengendara Sepeda Motor di Depok Remas Payudara Perempuan

TOPIK TERKAIT

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.