KPAI Temukan Ruang Kelas Mirip Penjara di SMA Palembang yang Siswanya Tewas Saat MOS

PERISTIWA | 17 Juli 2019 15:50 Reporter : Irwanto

Merdeka.com - Kematian siswa baru SMA Semi Militer Plus Taruna Indonesia Palembang, DBJ (14) akibat penganiayaan saat mengikuti masa orientasi siswa (MOS) baru-baru ini mendapat sorotan Komisi Perlindungan Anak Indoensia (KPAI). KPAI menemukan banyak kejanggalan di sekolah tersebut.

Hal tersebut berdasarkan hasil penyelidikan dan pengamatan KPAI ke lokasi. Komisioner lembaga ini juga menjenguk langsung siswa yang terbaring di Rumah Sakit Charitas Palembang.

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti menemukan fasilitas di sekolah itu tak sesuai dengan sistem asrama yang digunakan. Iuran juga sangat mahal yakni Rp22 juta untuk uang masuk, bulanan Rp1,5 juta dan Rp3 juta untuk semester.

"Fasilitasnya sangat tidak memadai, bahkan ada ruang kelas mirip penjara," ujar Retno di Palembang, Rabu (17/7).

Ironisnya lagi, lulusan SMA itu pada tahun lalu tidak ada yang lolos ke tingkat akademi militer maupun akademi polisi. Hanya segelintir yang mampu menjadi anggota polisi melalui jalur bintara atau Bintara. Padahal, sekolah itu menerapkan pendidikan karakter semi militer.

"Jelas berbanding terbalik dengan branding-nya, pakai semi militer tapi tidak ada yang masuk," ucapnya.

Menurutnya, sekolah itu harus dievaluasi secara total karena menyangkut sistem pendidikan ke depan dan tujuannya. Apalagi izin operasionalnya akan habis pada Oktober 2019 setelah beroperasi selama 15 tahun.

"Kita minta audit. Sehingga lebih diketahui apakah nantinya izin sekolah tersebut layak untuk diperpanjang atau tidak," ungkap

Dari hasil pengamatannya, ditemukan banyak kejanggalan di SMA Semi Militer Plus Taruna Indonesia Palembang. Dalam rundown MOS ternyata tidak ada agenda long march sejauh empat kilometer. Tapi kenyataannya berbeda dari rundown. Artinya, kegiatan itu di luar prosedur tetapi tetap dibiarkan oleh panitia maupun pimpinan sekolahnya.

Pembinaan yang menghadirkan TNI juga perlu ditanyakan. Jangan sampai anggota TNI yang terlibat justru ilegal alias tanpa surat perintah dari kesatuannya. "Jika memang menggunakan pendampingan pihak TNI, saya juga menanyakan adakan surat perintah penugasan dari kesatuannya," kata dia.

Pengawasan dari Dinas Pendidikan Sumsel sangat penting agar kejadian serupa tak terulang. Dia menilai perilaku itu akibat lemahnya kontrol instansi yang menanganinya.

"Memang harus perlu evaluasi, saya anggap Dinas Pendidikan kurang mengawasi sekolah berasrama."

Diketahui, siswa SMA Semi Militer Plus Taruna Indonesia Palembang, DBJ (14) tewas saat mengikuti mengikuti MOS, Sabtu (14/7). Dia mengalami luka memar di kepala dan dada.
Polisi yang menerima laporan dugaan penganiayaan langsung melakukan penyelidikan. Alhasil, seorang pembina MOS, Obby Frisman Arkataku (24) ditetapkan sebagai tersangka yang diduga menjadi pelaku penganiayaan.

Baca juga:
Pembina Mengaku Hanya Pukul Pipi Peserta MOS SMA Semi Militer di Palembang
Penganiaya Peserta MOS SMA Taruna di Palembang Baru Sepekan Jadi Pembina
Sebabkan Korban Tewas, MOS SMA Taruna di Palembang Juga Buat Siswa Kritis
Penganiayaan Saat MOS di SMK Palembang, Polisi Tunggu Laporan Korban Lain
Cari CCTV, Polda Sumsel Buru Tersangka Lain Kasus Tewasnya Siswa SMK saat MOS
Siswa SMK Palembang Tewas Saat MOS Akibat Pukulan Benda Tumpul di Kepala

(mdk/noe)