KPK Ancam Pihak Sembunyikan Mantan Sekretaris MA Nurhadi

KPK Ancam Pihak Sembunyikan Mantan Sekretaris MA Nurhadi
PERISTIWA | 16 Februari 2020 20:00 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih mencari keberadaan bekas Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi. KPK mengancam pihak-pihak yang mencoba menyembunyikan tersangka suap dan gratifikasi terkait dengan penanganan perkara di MA pada tahun 2011-2016.

Nurhadi dinyatakan buron atau masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) bersama dengan dua tersangka lainnya dalam kasus ini. Mereka adalah Rezky Herbiyono selaku menantu Nurhadi dan Direkur PT MIT Hiendra Soenjoto.

"Perlu kami ingatkan, siapapun dilarang menyembunyikan keberadaan para tersangka ini, karena akan diancam dengan ketentuan Pasal 21 UU Tipikor," ujar Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri saat dikonfirmasi, Minggu (16/2).

Pasal 21 UU Tidak Pidana Korupsi (Tipikor) menyatakan, 'Setiap orang yang dengan sengaja mencegah, merintangi, atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap tersangka dan terdakwa ataupun para saksi dalam perkara korupsi, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 12 tahun dan atau denda paling sedikit Rp150 juta dan paling banyak Rp600 juta'.

Terkait dengan pernyataan Maqdir Ismail yang menyebut KPK berlebihan dalam menetapkan Nurhadi sebagai buron, Ali Fikri malah balik mempertanyakan status Maqdir Ismail.

"Kami belum tahu kapasitas Pak Maqdir selaku penasihat hukum tersangka NH (Nurhadi) dan kawan-kawan atau bukan. Yang kami tahu hanyalah sebagai kuasa dari pemohon praperadilan," kata Ali.

Ali mengatakan, dari pada Maqdir memberikan pernyataan yang tendensius terhadap KPK, menurut Ali lebih baik Maqdir turut membantu KPK demi berjalannya proses hukum dengan baik.

"Jika Pak Maqdir memiliki itikad baik, kami persilakan, dan kami tunggu Pak Maqdir menginformasikan kepada KPK tentang keberadaan para tersangka saat ini, dan pasti akan kami tindak lanjuti," kata Ali.

Sebelumnya, Maqdir Ismail sempat menyatakan bahwa KPK berlebihan dalam menyematkan status buron terhadap Nurhadi.

"Menurut hemat saya itu tindakan yang berlebihan. Tidak sepatutnya seperti itu," kata Maqdir, Jumat, 14 Februari 2020.

Maqdir meminta KPK memastikan terlebih dahulu alasan ketidakhadiran Nurhadi ketika dipanggil KPK. Salah satu alasan yang menjadikan Nurhadi buronan lantaran kerap tak memenuhi panggilan pemeriksaan.

"Coba tolong pastikan dulu apakah surat panggilan telah diterima secara patut atau belum oleh para tersangka. Lagi pula sebaiknya mereka tunda dulu pemanggilan, karena kami sedang mengajukan permohonan praperadilan," kata Maqdir.

Reporter: Fachrur Rozie (Liputan6.com) (mdk/did)

Baca juga:
Nurhadi Jadi Buronan, Pengacara Nilai KPK Berlebihan
Mantan Sekretaris MA Nurhadi Jadi Buronan KPK
Istri Eks Sekretaris MA Nurhadi Diperiksa KPK Terkait Suap dan Gratifikasi
Lima Kali Mangkir, Eks Sekretaris MA Nurhadi Diultimatum KPK
Kembali Mangkir Panggilan KPK, Nurhadi Klaim Tak Tahu Ada Pemeriksaan
Sudah Mangkir 4 Kali, Nurhadi Kembali Dipanggil KPK

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan
TOPIK TERKAIT

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Gerak Cepat Jawa Barat Tangani Corona - MERDEKA BICARA with Ridwan Kamil

5