KPK Dalami Tersangka Lain Dari Dakwaan Suap Eks Dirut Garuda Emirsyah Satar

KPK Dalami Tersangka Lain Dari Dakwaan Suap Eks Dirut Garuda Emirsyah Satar
Emirsyah Satar jalani sidang perdana. ©Liputan6.com/Herman Zakharia
NEWS | 31 Desember 2019 13:11 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendalami kemungkinan adanya tersangka lain terkait suap pengadaan pesawat dan mesin pesawat dari Airbus S.A.S dan Rolls-Royce P.L.C di PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Pelaksana Tugas (Plt) Juru Bicara KPK Ali Fikri menyampaikan, penyidik akan menelusuri lewat hasil dakwaan mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar (ESA) yang dibacakan pada Senin 30 Desember 2019.

Dugaan penerimaan untuk pihak lain itu muncul saat tersangka yang merupakan pendiri PT Mugi Rekso Abadi (MRA) Soetikno Soedarjo, melalui perusahaannya PT Ardyaparamita Ayuprakarsa, menandatangani kontrak side letter dengan Rolls-Royce karena telah dicapainya kesepakatan Total Care Program dengan pihak Garuda.

Dalam surat dakwaan, penandatanganan itu dilakukan Soetikno dalam rangka memberikan upah kepada Emirsyah Satar dan pihak lain yang turut berjasa.

"Untuk dakwaan yang dibacakan kemarin memang kami fokus lebih dahulu kepada terdakwa Emirsyah Satar," tutur Ali dalam keterangannya, Selasa (31/12/2019).

Dari situ, lanjut Ali, sejumlah pejabat Garuda diduga menerima aliran dana atas pengadaan tersebut. Hanya saja, tidak disebutkan identitas dari mereka yang bekerja sesuai arahan dan perintah Emirsyah Satar itu.

"Nanti akan kami kembangkan dengan melihat fakta-fakta di persidangan yang akan digali oleh penuntut umum, baik dari keterangan para saksi maupun alat bukti lain yang akan diperlihatkan JPU di persidangan," jelas dia.

Mantan Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar didakwa menerima suap dari Soetikno Soedarjo, pemilik PT Mugi Rekso Abadi sebesar Rp5,8 miliar, USD 884.200, EUR 1 juta, SGD 1 juta. Penerimaan suap terkait pengadaan sejumlah pesawat di Garuda Indonesia.

"Telah melakukan beberapa perbuatan yang harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri sehingga merupakan beberapa kejahatan, yang diancam dengan pidana pokok yang sejenis, memberi sesuatu yaitu menerima uang," ucap Jaksa Wawan Yunarwanto saat membacakan surat dakwaan milik Emirsyah, Jakarta, Senin (30/12/2019).

Disebutkan bahwa pengadaan barang di Garuda Indonesia oleh Emirsyah Satar hingga berbuntut penerimaan suap yakni; total care program (TCP) mesin Rolls-Royce (RR) Trent 700; pengadaan pesawat Airbus A330-300/ 200; pengadaan pesawat Airbus A320 untuk PT Citilink Indonesia; pengadaan pesawat Bombardier CRJ1.000; dan pengadaan pesawat ATR 72-600.

Penerimaan pertama, berasal dari Rolls-Royce melalui PT Ardyaparamita Ayuprakarsa dan Connaught International. Perusahaan tersebut milik Soetikno.

Pihak Rolls-Royce mendekati Emirsyah Satar melalui Soetikno untuk menawarkan perawatan mesin dengan metode TCP untuk pesawat maskapai pelat merah itu. Peran Soetikno digunakan sebab ia merupakan penasihat bisnis bagi perusahaan asal Inggris tersebut.

Dalam proses pendekatan tersebut, Soetikno cukup aktif melobi Emirsyah agar Garuda Indonesia mau menggunakan perawatan mesin Rolls-Royce dengan metode TCP.

Setelah beberapa kali pembahasan, kesepakatan kontrak pun tercapai. Dokumen total care agreement (TCA) kemudian ditandatangani pada 29 Oktober 2008 untuk 15 unit mesin RR Trent 700 pada 6 unit pesawat Airbus A330-300 milik PT Garuda Indonesia.

Dari kontrak itu, Emirsyah menerima USD 500 ribu yang dikirim oleh Soetikno ke rekening Woodlake International Ltd, perusahaan Emirsyah di Singapura.

Mantan petinggi Matahari Mall itu kembali menerima uang sejumlah USD 180 ribu atas kontrak TCP untuk 4 unit pesawat Airbus A330, antara Garuda Indonesia dengan Rolls Royce.

"Bahwa akibat intervensi dari Emirsyah Satar yang mengarahkan penggunaan metode TCP untuk perawatan mesin RR Trent 700 atas 6 unit pesawat Airbus A330-300 PT Garuda Indonesia yang dibeli tahun 1989 serta 4 unit pesawat yang disewa dari AerCAP dan ILFC, Emirsyah Satar memperoleh uang sejumlah USD 680 ribu," tukasnya.

Penerimaan kedua berasal dari komisi pembelian pesawat Airbus A330. Emirsyah menerima komisi sebesar EUR 1 juta. Uang ditransfer ke rekening Woodlake International Ltd.

Kemudian, penerimaan ketiga oleh Emirsyah berasal dari pembelian 21 unit pesawat Airbus A320 Family. Pesawat itu kemudian diperuntukan untuk PT Citilink Indonesia yang menginginkan pesawat dengan single aisle.

"Fee tersebut diterima Emirsyah Satar dalam bentuk pelunasan pembayaran 1 unit rumah di Jalan Pinang Merah II Blok SK No.7-8 berikut biaya pajak dengan jumlah keseluruhan Rp5.7 miliar," ucap jaksa.

Emirsyah juga disebut menerima fee terkait pengadaan pesawat 6 unit pesawat CRJ 1.000NG dari Bombardier. Fee kemudian diberikan Soetikno kepada Emirsyah dalam bentuk investasi sejumlah USD 200 ribu melalui HMI dan Summervile Pasific Inc di Mcquaire Group Inc.

Kemudian, Emirsyah menerima komisi atas pengadaan pesawat jenis ATR 72 seri 600, senilai SGD 6.470 dan SGD 975.

Selain itu ia juga menerima fasilitas dari Soetikno untuk menginap di vila di Bali senilai Rp70 juta, jamuan makan malam di Four Season Hotel, dan penyewaan jet pribadi Bali ke Jakarta senilai USD 4.200.

Atas perbuatannya, Emirsyah didakwa telah melanggar Pasal 12 b undang-undang 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi Jo Pasal 65 ayat 1 KUHP. (mdk/ded)

Baca juga:
Eks Dirut Garuda Emirsyah Satar Jalani Sidang Perdana
Sidang Perdana, Emirsyah Satar Didakwa Terima Suap atas Pengadaan Pesawat
Mantan Dirut Garuda Indonesia Jalani Sidang Dakwaan Hari Ini
JPU: Eks Dirut Garuda Cuci Uang Hasil Suap untuk Beli Apartemen dan Lunasi Rumah
Soetikno Soedarjo Jalani Sidang Dakwaan
Eks Dirut Garuda Indonesia Arif Wibowo Kembali Diperiksa KPK

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami