KPK Ungkap Istri Edhy Prabowo Turut Kecipratan Uang Suap Izin Ekspor Benur

KPK Ungkap Istri Edhy Prabowo Turut Kecipratan Uang Suap Izin Ekspor Benur
KPK Periksa Mantan Menteri KP Edhy Prabowo. ©2021 Liputan6.com/Helmi Fithriansyah
PERISTIWA | 27 Januari 2021 22:20 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap adanya aliran uang yang diterima anggota Komisi V DPR Fraksi Gerindra Iis Rosita Dewi. Iis merupakan istri mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo (EP).

Hal tersebut diungkap KPK usai memeriksa Alayk Mubarrok yang merupakan salah seorang tenaga ahli Iis. KPK menduga, Iis menerima uang tersebut dari Edhy dan dan sekretaris pribadinya Amiril Mukminin (AM).

Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri mengatakan, Alayk diduga mengetahui adanya aliran dana yang diterima Edhy dan Amiril Mukminin dari eksportir benur. Bahkan, Alayk diduga merupakan pihak yang menyerahkan uang dari Edhy dan Amiril Mukminin kepada Iis.

"Alayk Mubarrok dikonfirmasi terkait posisi yang bersangkutan sebagai salah satu tenaga ahli dari istri tersangka EP (Edhy Prabowo) yang diduga mengetahui aliran uang yang diterima oleh tersangka EP dan tersangka AM yang kemudian diduga ada penyerahan uang yang diterima oleh istri tersangka EP melalui saksi ini," kata Ali Fikri dalam keterangannya, Rabu (27/1).

Dalam kasus ini KPK menjerat Edhy Prabowo dan enam tersangka lainnya. Mereka adalah Safri (SAF) selaku Stafsus Menteri KKP, Siswadi (SWD) selaku Pengurus PT Aero Citra Kargo, Ainul Faqih (AF) selaku Staf istri Menteri KKP, Andreau Pribadi Misanta (APM) selaku Stafsus Menteri KKP, Amiril Mukminin (AM) selaku sespri menteri, dan Suharjito (SJT) selaku Direktur PT Dua Putra Perkasa (DPP).

Edhy diduga telah menerima sejumlah uang dari Suharjito, chairman holding company PT Dua Putera Perkasa (DPP). Perusahaan Suharjito telah 10 kali mengirim benih lobster dengan menggunakan jasa PT Aero Citra Kargo (PT ACK).

Untuk melakukan ekspor benih lobster hanya dapat melalui forwarder PT Aero Citra Kargo dengan biaya angkut Rp 1.800/ekor. Perusahaan PT ACK itu diduga merupakan satu-satunya forwarder ekspor benih lobster yang sudah disepakati dan dapat restu dari Edhy.

Dalam menjalankan monopoli bisnis kargo tersebut, PT ACK menggunakan PT Perishable Logistics Indonesia (PLI) sebagai operator lapangan pengiriman benur ke luar negeri. Para calon eksportir kemudian diduga menyetor sejumlah uang ke rekening perusahaan itu agar bisa ekspor.

Uang yang terkumpul diduga digunakan untuk kepentingan Edhy Prabowo dan istrinya, Iis Rosyita Dewi untuk belanja barang mewah di Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat pada 21-23 November 2020. Sekitar Rp 750 juta digunakan untuk membeli jam tangan Rolex, tas Tumi dan Louis Vuitton, serta baju Old Navy.

Edhy diduga menerima uang Rp 3,4 miliar melalui kartu ATM yang dipegang staf istrinya. Selain itu, ia juga diduga pernah menerima USD 100 ribu yang diduga terkait suap. Adapun total uang dalam rekening penampung suap Edhy Prabowo mencapai Rp 9,8 miliar.

Diduga upaya monopoli itu dimulai dengan Surat Keputusan Nomor 53/KEP MEN-KP/2020 tentang Tim Uji Tuntas (Due Diligence) Perizinan Usaha Perikanan Budidaya Lobster yang diterbitkan Edhy pada 14 Mei 2020.

Reporter: Fachrur Rozie
Sumber: Liputan6.com (mdk/eko)

Baca juga:
Kasus Edhy Prabowo, KPK Bidik Perkara Lain di Luar Izin Ekspor Benur
KPK Duga Duit Suap Edhy Prabowo juga Dipakai Beli Wine
KPK Perpanjang Penahanan Edhy Prabowo
2 Bulan Tak Bertemu, Edhy Prabowo Minta Menkum HAM Beri Izin Dijenguk Keluarga
Edhy Prabowo Dicecar Penyidik KPK Soal Penggunaan Uang dari Eksportir Benih Lobster
Kasus Edhy Prabowo, KPK Panggil Kepala Badan Riset dan SDM KKP

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami