Kronologi Ayah di Tasikmalaya Bunuh Anak Gara-Gara Minta Uang Study Tour

Kronologi Ayah di Tasikmalaya Bunuh Anak Gara-Gara Minta Uang Study Tour
PERISTIWA | 27 Februari 2020 16:40 Reporter : Mochammad Iqbal

Merdeka.com - DS (13) siswi SMPN 6 Kota Tasikmalaya yang jasadnya ditemukan dalam gorong-gorong depan sekolahnya pada Senin (27/1), ternyata dibunuh oleh ayah kandungnya, BR (45). Aksi keji tersebut dilakukan BR karena DS merengek saat uang yang diberi ayahnya untuk study tour kurang.

Kapolres Tasikmalaya Kota, AKBP Anom Karibianto menyebut bahwa BR kesal karena anaknya merengek meminta uang untuk study tour ke Bandung sebesar Rp400 ribu. Saat itu BR hanya memiliki uang Rp200 ribu ditambah Rp100 ribu hasil meminjam ke tempatnya bekerja.

"Oleh BR uang Rp300 ribu itu diberikan kepada korban, namun korban masih merengek minta Rp400 ribu. Saat itu tersangka BR mengajak korban ke rumah kosong. Di sana korban dicekik hingga meninggal dunia," ujarnya di Mapolres Tasikmalaya Kota, Kamis (27/1).

Aksi yang dilakukan BR, diungkapkan Anom, terjadi pada Kamis (23/1) sore. Saat itu korban datang menuju tempat kerja BR di kawasan Jalan Laswi, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya untuk meminta uang. BR mengajak korban ke rumah kosong yang tidak jauh dari tempatnya bekerja karena tidak mau urusan keluarganya diketahui oleh rekan kerja.

Di rumah kosong tersebut, Kapolres menyebut bahwa BR merasa kesal karena anaknya yang terus merengek sehingga emosinya terpancing sehingga spontan mencekik leher korban hingga kehabisan napas. "Ia kemudian pergi lagi ke tempat kerjanya meninggalkan tubuh korban begitu saja," sebutnya.

Sekitar pukul 22.30 WIB, BR kemudian kembali mendatangi rumah kosong tersebut dan membawa tubuh anaknya yang sudah tidak bernyawa menggunakan sepeda motor. BR mengikatkan tubuh anaknya ke tubuhnya menggunakan kabel televisi sehingga terlihat seperti dibonceng.

Meski hujan tengah turun dengan lebat di malam itu, BR membawa jenazah anaknya ke gorong-gorong yang ada di depan sekolahnya. "Ia bermaksud memasukkan jasad korban ke dalam gorong-gorong, agar warga menyangka korban mengalami musibah hanyut," ungkapnya.

Jenazah DS dipaksa dimasukan dalam gorong-gorong. Posisi kakinya lebih dulu dimasukan hingga kedalaman sekitar dua meter. Setelah masuk, BR pun kemudian pulang ke rumahnya yang ada di sekitar Jalan Cikalang, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya.

Pengungkapan BR sebagai tersangka dalam kasus meninggalnya DS sendiri tepat sebulan saat jenazahnya ditemukan di dalam gorong-gorong depan sekolahnya. Kepolisian sempat melakukan autopsi untuk mengetahui penyebab meninggalnya DS. Hasilnya pun sudah dikantongi, namun Anom mengatakan bahwa hasil autopsi itu bukan untuk konsumsi publik, melainkan untuk kepentingan penyelidikan.

Terungkapnya BR sebagai pelaku tunggal, disebutnya juga dikuatkan dengan hasil pemeriksaan saksi dan temuan di lokasi kejadian. Selain menangkap tersangka, polisi juga mengamankan barang bukti berupa sepeda motor, pakaian pramuka korban, tas sekolah korban, sepasang sandal, sepatu korban, celengan plastik, helm dan kabel warna hitam sepanjang 1,5 meter.

BR kini harus mendekam di sel tahanan Polres Tasikmalaya Kota. Tersangka dikenakan Pasa 76 C Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, yang ancaman hukumannya 15 tahun. "Karena tersangka merupakan ayah kandung, hukuman ditambah sepertiga menjadi 20 tahun," katanya.

Sebelumnya, warga Kelurahan Cilembang, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya, Senin (27/1) digegerkan dengan penemuan sesosok mayat perempuan di gorong-gorong SMPN 6 Kota Tasikmalaya. Berdasarkan hasil pemeriksaan identitas, mayat tersebut merupakan siswi SMPN 6 Kota Tasikmalaya yang berinisial DS (13).

Saat pertama kali ditemukan, korban diketahui masih menggunakan seragam sekolah namun sempat belum diketahui identitasnya sampai pihak kepolisian datang ke lokasi penemuan. Dari pemeriksaan polisi sendiri, dari dalam tas milik korban ditemukan identitasnya yaitu DS, siswa kelas VII SMPN 6 Kota Tasikmalaya.

DS dinyatakan hilang oleh keluarganya sejak Kamis (23/1) sore karena tidak biasanya belum pulang ke rumah. DS selama ini tinggal bersama ibu kandungnya, Wati Candrawati (46), di Kelurahan Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi, yang sejak lama sudah bercerai dengan BR. (mdk/cob)

Baca juga:
Motif Ayah Bunuh Anak Kandung di Tasikmalaya, Kesal Korban Minta Uang Study Tour
Utang Rp3 Juta Tak Diberi, Menantu Nekat Bunuh Mertua
Buron Setahun Usai Bunuh Guru SD, Ganda Tewas Ditembak Polisi
Bunuh Ibu Kos, Pemuda Ini Gasak Perhiasan dan Uang untuk Kabur ke Bali
Usai Bunuh Dukun Pengganda Uang, Nanda Serahkan Diri ke Polres Karawang
Diduga Stres Karena Cinta Ditolak, Pemuda Wonogiri Hajar Ibu Hingga Tewas

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan
TOPIK TERKAIT

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami