Kutip Data BNPT, Menag Sebut Banyak Orang Indonesia Belajar Agama di Internet

PERISTIWA | 13 November 2019 18:08 Reporter : Muhammad Genantan Saputra

Merdeka.com - Menteri Agama, Fachrul Razi melihat, sebagian besar masyarakat Indonesia mencari informasi mengenai religiusitas dengan cara berselancar di dunia maya. Dia merujuk data yang diterbitkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tahun 2019.

Fachrul bilang, masyarakat Indonesia kerap mencari ihwal keberadaan Tuhan lewat internet. Mereka juga menyebarkan konten tentang agama.

"Dengan mengutip indeks desiminasi media sosial yang diterbitkan BNPT tahun 2019 diperoleh angka indeks sebesar 39,89. Ini (patokan) indeks tertingginya 100, 9,89 orang Indonesia yang menggunakan medsos mencari dan menyebarkan konten tentang agama," kata Fachrul di Sentul International Convention Center, Bogor, Jawa Barat, Rabu (13/11).

"Seperti keberadaan Tuhan indeks yang didapat 43,91, sifat-sifat Tuhan 40,31, kuasa Tuhan 40,31, dan kisah hidup orang-orang suci 36,72," sambungnya.

Fachrul menyimpulkan, dari data tersebut hampir dari setengah total masyarakat Indonesia menggunakan medsos untuk melakukan interaksi dengan orang lain. Serta mencari informasi tentang persoalan kehidupan termasuk masalah agama.

"Jadi menunjukan minatnya pemahaman-pemahaman agama mencari pengetahuan di medsos luar biasa tingginya," ucap dia.

1 dari 2 halaman

Anggap Tokoh Agama Alternatif

Dengan fasilitas internet itu, kata Fachrul, masyarakat cenderung menganggap otoritas agama seperti kiai, ustaz, guru dan guru agama tradisional hanya pilihan alternatif belaka dari kehidupan sehari-hari mereka. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang sangat taat kepada fatwa kepala otoritasnya.

"Mereka berkonsultasi dengan berbagai sumber untuk memenuhi kehausan agamanya. Sering kali kita mendengarkan tafsir-tafsir agama mainstream dikalahkan oleh pilihan-pilhan personal bersumber dari yang bukan otoritas, tapi mungkin demi memenuhi akal sehat mereka," tuturnya.

2 dari 2 halaman

Rawan Terpapar Paham Radikal

Akibatnya, kata Fachrul, pemikiran keagamaan sebagian besar adalah masyarakat cenderung intoleran dan rawan terpapar ideologi radikal.

"Atau sebaliknya jadi super toleran yang mengganggu sendi-sendi beragama," tandas Wakil Panglima TNI itu. (mdk/ray)

Baca juga:
Rakornas Indonesia Maju, Menag Fachrul Razi Bahas Sumber Daya Manusia
MUI Jatim Imbau Pejabat Tak Pakai Salam Semua Agama, Ini Respons Menag
Bom Bunuh Diri di Medan, Menag Sebut Program Deradikalisasi Tetap Dilanjutkan
Penjelasan Menag Soal Penulisan Ulang Buku Pelajaran Agama Cegah Radikalisme
Buya Syafii Soal Kontroversi Larangan Bercadar: Pakai Pakaian Nasional Saja