Labkesda Jabar Prioritaskan Pengecekan Klaster Penyebaran Virus Covid-19

Labkesda Jabar Prioritaskan Pengecekan Klaster Penyebaran Virus Covid-19
PERISTIWA | 9 April 2020 12:44 Reporter : Aksara Bebey

Merdeka.com - Balai Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Provinsi Jawa Barat memiliki kemampuan mengetes sekitar 96 sampel virus corona (Covid-19). Di tengah pandemi ini, setiap hari ada sekitar 300 hingga 400 sampel yang mengantre untuk diperiksa.

Labkesda tersebut merupakan unit laboratorium yang menjadi rujukan dalam pemeriksaan sampel Covid-19 yang dilakukan melalui metode rapid diagnosis test (RDT) maupun polymarese chain reaction (PCR). Ada sekitar 40 sampai 50 sumber daya manusia terdiri dari dua dokter spesialis, dua dokter umum, perawat, serta 40 analis senior bertaraf internasional.

"Saat ini Balai Laboratorium memiliki kemampuan memeriksa 96 sampel per hari. Namun dalam dua minggu terakhir sampel terus berdatangan secara cepat sehingga kini Balai Lab sudah punya antrean hingga 300 sampel," kata Penanggungjawab Laboratorium dr. Ryan B Ristandi, Kamis (9/4).

"Satu kali swab test idealnya hasil sudah keluar lima jam. Tapi karena sudah ada 300- 400 sampel yang mengantre, kami harus memprioritaskan sampel mana yang harus duluan keluar hasilnya."

Untuk mengatasi keterbatasan pemeriksaan, Labkesda memprioritaskan memeriksa sampel dari empat klaster penyebaran Covid-19 di Jawa Barat, yakni klaster Seminar Anti Riba Bogor, GPIB Bogor, GBI Lembang, dan Musda Hipmi. Tujuannya, mengetahui epidemologi atau peta persebaran virus positif di Jabar.

Semua prosesnya dilakukan sesuai dengan standar World Health Organization (WHO). Mereka sudah mendapatkan sertifikat Bio Safety Laboratory 2 Plus. Sertifikat ini dikeluarkan bagi laboratorium yang telah memiliki sistem keamanan tes virus terutama untuk petugas sesuai standar WHO.

Balai Laboratorium Jabar juga sedang mempersiapkan laboratorium satelit bersama Institut Pertanian Bogor untuk penanganan Covid-19 di wilayah Bogor Depok Bekasi. Dengan dengan tes swab dapat dilakukan secara mandiri agar deteksi serta penanganan lebih responsif tanpa harus menunggu Pemerintah Pusat.

Saat ini Balai Laboratorium Jabar telah memiliki tiga alat PCR dengan proses ekstraksi dilakukan secara manual. Namun dalam waktu dekat, Balai akan mendapat tambahan alat PCR dua unit dan ekstraksi dua mesin.

"Selama ini bottleneck-nya saat ekstraksi karena masih manual. Tapi dengan ada bantuan mesin, proses akan lebih cepat," kata Ryan.

Di sisi lain, mereka mengaku kekurangan dalam kuantitas sumber daya manusia. Karena, di samping mengecek sampel covid, mereka masih membuka layanan umum laboratorium. Di antaranya, pemeriksaan kimia klinik seperti gula darah, kolesterol, triglisterida, asam urat, kreatinin, SGOT- SPGT; pemeriksaan hematologi seperti trombosit, leukosit, hematokrit; pemeriksaan imunologi seperti hepatitis, HIV, TORCH, dengue; pemeriksaan mikrobiologi seperti TBC, kolera, tipus; serta pemeriksaan USG.

Untuk mengatasinya, Labkesda bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung serta Pusat Nanosains & Nanoteknologi Institut Teknologi Bandung.

"Selama wabah ini kami bekerja sudah seperti di rumah sakit. Kami bekerja dalam beberapa sif. Sebetulnya Pak Gubernur telah mengizinkan kami untuk WFH (work from home), tapi untuk saat ini belum bisa," jelas dia. (mdk/lia)

Baca juga:
Melihat Proses Tes Cepat Covid-19
Rapid Test Positif Covid-19, Kondisi Dua Pejabat di RS Brimob Depok Membaik
Seorang ASN Meninggal, Puluhan Pegawai Pemkot Serang Jalani Rapid Test Covid-19
370 Pemuka Agama Asal Tasikmalaya dan Ciamis Ikuti Rapid Test
Kemenkes Jelaskan Peran Penting Puskesmas dalam Melawan Virus Corona
Pemerintah: Tak Mudah Mendapat Alat Rapid Test Corona, Semua Negara Berebutan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami