Langkah BMKG Dalam Mencegah Terjadinya Korban Jiwa Akibat Ekstreamnya Cuaca

Langkah BMKG Dalam Mencegah Terjadinya Korban Jiwa Akibat Ekstreamnya Cuaca
BMKG. ©2021 Merdeka.com
NEWS | 30 Juli 2021 02:00 Reporter : Nur Habibie

Merdeka.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggelar Rapat Koordinasi Pembangunan Nasional (Rakorbangnas) BMKG 2021. Rakorbangnas itu diikuti oleh Presiden Joko Widodo, Megawati Soekarnoputri, serta sejumlah kementerian lembaga dan stakeholder terkait.

Dalam kesempatan itu, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyampaikan sejumlah langkah dalam mencegah terjadinya korban jiwa dan kerusakan akibat semakin kompleksnya dinamis dan ekstreamnya fenomena cuaca, iklim dan tektonik di Indonesia.

"Secara menerus BMKG bertekad melakukan adaptasi ataupun inovasi teknologi serta meningkatkan kapasitas SDM BMKG agar lebih cakap dan terampil dalam memonitor, menganalisis, memprediksi serta memberikan informasi dan peringatan dini terhadap potensi multi bencana Geohidro Meteorologi secara lebih cepat, tepat dan akurat," kata Dwikorita dalam Rakorbangnas secara virtual dengan tema 'Info BMKG Kawal Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh', Kamis (29/7).

"Adapun inovasi yang telah dan sedang kami lakukan antara lain, dengan adanya modernisasi teknologi sistem dan peralatan observasi dan posesing data cuaca maritim, cuaca penerbangan, cuaca publik dan iklim yang terintegerasi dalam single platform," sambungnya.

Selanjutnya, pihaknya juga melakukan Flight Information Regional (FIR) terhadap 10 wilayah Timur dan Barat Indonesia yaitu di beberapa bandara seperti di bandara Internasional Sentani Jayapura, bandara Internasional Patimura Ambon.

Bandara Labuan Bajo Komodo, bandara Internasional Samratu Langi Manado, serta bandara Internasional Silangit Tapanuli Utara dan bandara Internasional Kualanamu, Deli Serdang.

"Kemudian juga kami lakukan Integrated Global Green House Casses Information System yaitu sistem integrasi untuk memberikan layanan informasi gas rumah kaca berupa prediksi seberan ke depan estimasi gas rumah kaca dari berbagai jenis tata guna lahan," ujarnya.

"Inovasi berikutnya adalah penguatan dan pengembangan lahan teknologi untuk sistem monitoring dan peringatan dini gempa bumi dan tsunami versi merah putih. Kemudian juga pengembangan sistem peringatan dini, multi bahaya, geometerologi," tambahnya.

Selain itu, pihaknya juga secara menerus melakukan Advokasi dan kolaborasi dalam pemanfaatan info BMKG dalam mewujudkan keselamatan dan produktivitas multisektor.

"Sektor transportasi atau perhubungan, pertanian, pariwisata, tata ruang kesehatan dan lain sebagainya. Guna mewujudkan kesejahteraan sosial ekonomi yang berkesinambungan, juga melakukan evaluasi dan penyesuaian rencana pembangunan dan wilayah tata ruang yang harus mempertimbangkan faktor multi bencana, geo hedrometeorologi dengan memanfaatkan info BMKG. Serta mengintensifkan data integrasi, guna mewujudkan informasi yang lebih cepat, tepat, akurat dan luas jangkauannya," ungkapnya.

Selanjutnya, BMKG juga bertekad secara menerus melakukan koordinasi dan sinergi dengan pemerintah pusat, daerah, masyarakat, pihak swasta, akademisi, media dan pihak terkai lainnya agar lebih menggencarkan program edukasi.

"Menggencarkan program edukasi, pelatihan dan literasi guna meningkatkan pemahaman, kepedulian kepatuhan dan kemampuan masyarakat serta semua pihak pengguna dalam merespon selanjutnya info BMKG, juga untuk mewujudkan sikap waspada dan budaya peduli selamat dari multi bahaya bencana, Geohidro Meteorologi," jelasnya.

Kegiatan edukasi yang telah dilakukan oleh pihaknya yakni sekolah lapang iklim yang sudah ada sejak 2011 dengan jumlah peserta 16.056 orang, sekolah lapang cuaca sejak 2016 dengan jumlah peserta mencapai 6.233 orang serta sekolah lapang gempa bumi, tsunami ready sejak 2015 dengan jumlah peserta 8.810 orang.

"BMKG juga melakukan jambore iklim dan literasi iklim generasi muda yang bertujuan mengenalkan pengetahuan iklim dan menumbuhkembangkan karakter tangguh bencana dan peduli iklim sejak usia dini, usia pelajar dan generasi muda, melalui peningkatan pemahaman resiko bencana terkait iklim, serta memantik aksi iklim di kalangan generasi milenial," paparnya.

"Kami juga melakukan kerjasama dengan berbagai pihak, Pentahelix dengan target mewujudkan sikap dan budaya waspada cuaca, peduli iklim dan selamat dari bencana Geohidro Meteorologi," tutupnya.

Memberikan Beasiswa kepada 1.000 Milenial

Dalam kegiatan itu, ia juga menyebut, jika pihaknya telah memberikan beasiswa vokasi terhadap 1.000 milenial di sejumlah daerah atau wilayah.

"Beasiswa vokasi bagi 1.000 milenial agar para milenial kita lebih mampu memanfaatkan teknologi digital dalam mengawal Indonesia tangguh, Indonesia tumbuh. Untuk itu beasiswa akan disampaikan melalui Kepala Balai Besar BMKG agar dapat tersebar diseluruh wilayah Indonesia," tutupnya. (mdk/ded)

Baca juga:
Megawati: Bukan Bermaksud Sombong, Saya yang Membuat BMKG, BNPB, BNN, dan KPK
BMKG Deteksi Tujuh Titik Panas di NTT
BMKG Pantau 35 Titik Panas di Sumatera Utara
Jokowi Minta BMKG dan BNPB Bersinergi Edukasi Masyarakat agar Siap Hadapi Bencana
Jokowi Minta BMKG Berikan Layanan Akurat, Cepat, Mudah untuk Masyarakat
Dua Wilayah di Jateng Segera Masuki Puncak Musim Kemarau, Ini Imbauan BMKG
Mensos Beri 3 Pesan ke Pemda Hadapi Bencana Prediksi BMKG

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

TOPIK TERKAIT

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami