LaporCovid-19 Minta Pemerintah Cari Solusi RS Penuh di Jabodetabek

LaporCovid-19 Minta Pemerintah Cari Solusi RS Penuh di Jabodetabek
Kesibukan Tim Medis Membawa Pasien Covid-19. ©2020 Liputan6.com/Faizal Fanani
PERISTIWA | 25 Januari 2021 13:07 Reporter : Raynaldo Ghiffari Lubabah

Merdeka.com - Co-Leads LaporCovid-19 Irma Hidayana mendorong pemerintah dan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 agar fokus mencari solusi terkait kapasitas rumah sakit yang sudah penuh di wilayah Jabodetabek.

"Ini sudah berlarut-larut dari Desember 2020 hingga sampai saat ini sudah banyak warga yang ditolak rumah sakit," kata dia saat diskusi daring dengan tema "Lindungi Hak Kesehatan Warga dan Keamanan Pelapor" dilansir Antara, Senin (25/1).

Hal itu ia lontarkan terkait pernyataan Satgas COVID-19 Depok yang meminta LaporCovid-19 secara transparan membuka data pasien yang ditolak rumah sakit hingga meninggal dalam perjalanan sewaktu mencari rumah sakit.

Perlu dicatat, lanjut Irma, LaporCovid-19 memiliki komitmen untuk melindungi semua data-data pelapor atau warga yang selama ini melaporkan baik itu pelanggaran pelayanan kesehatan atau meminta bantuan agar mendapatkan rumah sakit dan intensive care unit (ICU).

Dia menerangkan laporan tersebut bermula pada 3 Januari 2021 LaporCovid-19 mendapat laporan dari keluarga korban yang saat itu telah selesai melakukan isolasi mandiri.

"Sebelumnya, satu keluarga tersebut dinyatakan positif," kata dia.

Salah seorang anggota keluarga bercerita pada Desember 2020, satu keluarga melakukan tes COVID-19 karena orang tua laki-lakinya mengalami keluhan sesak napas, demam dan sebagainya.

Melihat kondisi itu, keluarga langsung ke salah satu rumah sakit swasta dan melakukan pemeriksaan. Saat mencari kamar, pihak rumah sakit menawarkan, namun dengan uang muka Rp1 juta.

Dengan uang sebesar itu, pihak rumah sakit menjanjikan ketersediaan kamar bagi pasien. Namun, keluarga memutuskan untuk pulang karena kondisi pasien saat itu masih cukup baik.

Seminggu kemudian, kondisi kesehatan pasien memburuk dan keluarga meminta bantuan Satgas lingkungan setempat termasuk melaporkannya ke puskesmas. Pada saat itu, keluarga dan warga sekitar juga menunggu ambulans hingga beberapa jam namun tak kunjung datang.

"Keluarga memutuskan membawa pasien dengan taksi daring sambil berkeliling dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya namun di tengah perjalanan pasien meninggal dunia," ujarnya.

Berangkat dari kasus tersebutlah, Satgas Depok meminta LaporCovid-19 untuk transparan mengenai data pasien. Namun, Irma menolak karena menyangkut komitmen melindungi identitas pasien atau pelapor.

Menurut dia, saat ini yang perlu diselesaikan bukan perkara data pasien tersebut melainkan sistem rumah sakit yang sudah mulai kolaps.

"Banyak orang mencari perawatan di rumah sakit, tetapi situasi rumah sakit di Jabodetabek yang sudah full sehingga tidak bisa menampung lagi," ujarnya. (mdk/ray)

Baca juga:
Aktivitas Penghuni Panti Asuhan di Depok Saat Isolasi Mandiri
Tukang Cuci Alas Kaki, Bekerja dalam Sunyi di Tengah Pandemi
Jokowi Ajak PGI Bantu Menyukseskan Program Vaksinasi Covid-19
Viral Video Pria Buang Telur ke Sawah, Sedih Banyak Bencana Mending Disumbangkan
Tayang di New York, Ini Pesan yang Disampaikan Maruli Tampubolon di Karya Terbarunya

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami