Laporkan Kasus Peretasan, Tirto.id dan Tempo.co Akan Diminta Keterangan

Laporkan Kasus Peretasan, Tirto.id dan Tempo.co Akan Diminta Keterangan
PERISTIWA | 31 Agustus 2020 14:39 Reporter : Nur Habibie

Merdeka.com - Polisi menjadwalkan pemanggilan pada media Tirto.id dan Tempo.co sebagai pelapor kasus peretasan pada situs mereka. Kasus peretasan ini sudah laporkan sejak 25 Agustus lalu.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus, mengatakan berdasarkan surat panggilan yang dilayangkan, pemanggilan dijadwalkan Rabu (2/9) mendatang.

"Memang kita sudah menjadwalkan untuk mengundang para pelapor, sudah kami layangkan rencana hari Rabu besok," kata Yusri di Polda Metro Jaya, Senin (31/8).

Tak hanya memanggil pelapor saja, pihaknya juga akan memanggil sejumlah saksi atas kasus peretasan yang dialami dua media nasional tersebut.

"Akan kita undang pelapor dan saksi-saksi dan bukti yang ada," ujarnya.

Sebelumnya, dua perusahaan media online nasional, Tirto.id dan Tempo.co, melaporkan kasus peretasan dialami mereka beberapa waktu lalu ke Polda Metro Jaya. Laporan dilakukan langsung pemimpin redaksi Tempo.co Setri Yasra, dan pemimpin redaksi Tirto.id, Sapto Anggoro, didampingi Direktur LBH Pers Ade Wahyudin dan Direktur Eksekutif SAFEnet.

"Tugas masyarakat sipil dan media sudah selesai dan kini kita lapor. Tinggal kepolisian yang melanjutkan proses hukumnya. Awalnya kita menyiapkan tiga media yang akan melapor. Tapi yang jadi cuma dua, Tempo.co dan Tirto.id," kata Ade di Mapolda Metro Jaya, Selasa (25/8).

Dia mengatakan, laporan dilayangkan tak memasukkan pelaku lantaran masih diselidiki kepolisian. Namun menurut Ade, peretasan itu jelas menghambat kerja dari jurnalis.

"Dalam laporan kita tidak memasukkan pelaku, karena pelaku masih dalam rangka penyelidikan. Jadi masih kosong. Kita juga tidak memasukkan akun 'digembok' ke kasus Tempo. Karena itu pun masih belum jelas. Diberikan kewenangan ke kepolisian," kata Ade.

Sementara itu, Sapto Anggoro meminta polisi segera mengungkap dan menangkap pelaku. "Sebagaimana orang yang rumahnya dibobol oleh maling, saya merasa Tirto.id yang tercatat adalah milik saya, telah diobrak-abrik oleh maling dan sebagaimana warga negara yang baik, saya melaporkan ke kepolisian untuk segera mengusut dan menemukan siapa pelaku kriminal yang sudah masuk ke Tirto.id dan merusak artikel-artikel yang ada di dalamnya," ujar Sapto Anggoro.

Laporan Tirto.id terdaftar dengan Nomor LP/5.035/VIII/YAN.2.5/2020/SPKT PMJ dengan laporan kepada polisi bahwa ada yang meretas akun email editor Tirto.id, lalu masuk ke sistem manajemen konten dan menghapus 7 artikel Tirto.id, termasuk artikel yang kritis tentang klaim obat Corona.

Dalam laporan itu, pelaku telah melanggar aturan hukum yang telah diatur dalam Pasal 18 Ayat (1) UU Pers, yang tertulis orang yang menghambat dan menghalangi kerja wartawan dapat dipidana. Selain itu dalam laporan juga disebutkan ada dugaan pelanggaran pidana sesuai pasal 32 ayat 1 UU ITE.

Adapun hukuman untuk pelanggar Pasal 32 ayat 1 dijelaskan pada Pasal 48. Bunyinya, "Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun dan/atau denda paling banyak Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah)". (mdk/lia)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan
TOPIK TERKAIT
more tag

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami